
Audrey
Pernahkah kalian bertanya, mengapa ombak selalu tampak berlari tergesa menuju pantai? seolah sangat takut kalau pantai akan pergi meninggalkan mereka hingga mereka berlomba berkejaran saling menghempas untuk menunjukkan siapa yang lebih dulu sampai ke tepian.
Rupa-rupanya angin yang mendorong mereka, angin yang membisikkan mereka bahwa disana, dipantai, mereka akan menemukan kebahagiaan, angin yang merajut angan bahwa kelak ombak akan selalu menjadi ombak yang tangguh dengan suara menggelegar, tapi nyatanya tidaklah pernah seperti itu dan ombak akan tau saat mereka tiba di pantai kelak.
Mereka menyadari bahwa angin hanya berbohong, sebab setelah tiba dipantai ombak akan pecah menjadi buih buih kecil yang tak berdaya atau naasnya lebih dulu pecah terhempas oleh kerasnya batu karang, dan ialah ombak itu.
Menyesal? tentu saja, menyesali hati yang begitu lemah dan mudah tergoda, bahkan ia sempat ingin bunuh diri dengan meneguk racun Baygon sebelum memutuskan untuk menangis selama tiga hari tiga malam dikamar kosan, aksi bunuh diri hanya ada dalam wacana namun tak pernah jadi ia lakukan sebab masih ada perasaan takut mati dalam diri.
Hidup kan terus berjalan, meski penuh dengan tangisan, begitu lah sepenggal lirik lagu Opick yang pernah ia ingat. Hal pertama yang ia lakukan di pagi itu adalah mengemasi barang-barangnya yang hanya tersisa selembar kasur santai tipis, tiga kardus berisi buku-buku pelajaran, dan satu koper besar berisi pakaian.
Ia termenung duduk diteras, meraih ponsel yang tidak jadi dijual itu, menatap layar nya dengan gamang, wallpaper nya masih foto Bayu dan ia berdua dengan pose tertawa bahagia.
Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentangnya
Hilangkanlah ingatanku
Jika itu tentang dia
Kuingin kulupakannya...
(Lumpuhkan Ingatanku- Geisha)
Dihembuskannya nafas dalam, dengan sekali tekan option delete ia menghapus semua foto Bayu yang ada disana, menghapus segala-galanya hingga tak satupun yang tersisa. Dipejamkannya mata demi mengurangi rasa sesak dan panas yang menjalar didada. Hingga sebuah notifikasi pesan muncul dari layar ponsel.
[ Udah siap Drey? Kakak jemput sebentar lagi] - Kakak Kedua.
__ADS_1
[Sudah kak, Audrey tunggu] - Audrey.
Yah sejak malam kemarin, ia resmi memiliki dua orang kakak sekaligus kak Dimas sebagai kakak tertua dan kak Galih kakak kedua, keren bukan. Setidaknya ada hikmah dibalik setiap musibah, ia jadi memiliki Lee Min-ho di sisi kiri dan Ji Cang Wook disisi kanan.
Tepat hari ini ia akan pindah ke Rooftop di gedung kliniknya kak Galih, dan mulai lusa ia sudah resmi bekerja di klinik laki-laki itu sebagai pegawai bagian loket pendaftaran pasien.
"Nak pindah kemano kau Drey?"
(Mau pindah kemana kamu Drey?) Suara Bu cik Dariyah.
Ia langsung berdiri demi menghormati wanita yang sudah hampir dua tahun menjadi ibu kost ny itu.
"Audrey lah kerjo di Klinik Tiara Bunda bu cik, jadi cari tempat yang dekat sano biar idak payah."
(Audrey sudah kerja di klinik Tiara Bunda Bu cik, jadi cari tempat yang dekat situ biar gak susah)
"Oi Padek kau, wong susah cari kerjo, kau belum wisuda lah dapat gawean."
Ia hanya menanggapi dengan senyuman. Setelah berpamitan pada bu cik Dariyah, ia menunggu kak Galih di depan pagar kosan, tak lama laki-laki itu datang dengan senyum terkembang seperti biasa.
"Siap? barang-barangnya mana?"
"Cuma itu kak." Ia menunjuk seonggok barang yang masih berada diteras kosan dengan dagunya.
Dan tepat saat kak Galih memasuki area kosan, mendadak semua penghuni disana heboh, terutama sekali Bu cik Dariyah, sebab tak pernah ada laki-laki titisan Arjuna datang ke area itu. Benar-benar pesona kak Galih menghipnotis semua yang ada disana membuatnya tersenyum geli.
.
.
.
__ADS_1
"Taraaaa..."
Ia terperangah melihat rumahan di Rooftop gedung perawatan milik kak Galih, satu kata "Kereeen abisss". Rumah mungil itu terdiri dari satu kamar, ruangan nonton yang menyatu dengan dapur hanya bersekat dinding kaca, kemudian bagian luarnya ada gazebo mungil dikelilingi taman buatan.
"Tadinya bikin ini, untuk tempat kakak istirahat kalau malas pulang ke apartemen."
"Terus kalau aku disini, kakak gak bisa istirahat dong."
"Masih bisa lah, numpang sama kamu sekalian ada yang bikinin kopi juga kan."
"Issshh kakak." Cibiran pertama ia layangkan pada Galih.
Ia berjalan memasuki kamar, disana sudah ada ranjang mungil dengan seprai motif abstrak bewarna biru langit, kemudian ada lemari pakaian dan meja belajar, tunggu, meja belajar??
"Untuk kamu, biar fokus belajar nya." Suara kak Galih saat netranya menangkap meja belajar disudut ruangan.
Ia terharu dengan perlakuan laki-laki itu, ternyata kak Galih sudah menyiapkan segalanya, matanya berkaca, tidak perlu seperti ini. Diberi pekerjaan dan pinjaman uang untuk magang saja ia sudah sangat sangat bersyukur, ditambah lagi tempat tinggal yang luar biasa ini membuatnya tampak begitu istimewa.
"Makasih kak." Ia menyusut air mata yang mulai jatuh tak terkendali dengan punggung tangan.
"Hei don't cry..."
Kak Galih mendekatinya, dan entah dapat keberanian dari mana, ia langsung memeluk pria itu tanpa permisi, inilah untuk pertama kali ia memeluk seorang pria dewasa, namun seperti tersadar dari tindakannya, cepat-cepat ia melepaskan pelukan yang membuat jantung meloncat-loncat itu, assoyyy malunyaaa.
"Sorry kak, refleks."
Dapat ia lihat kak Galih menaikkan ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil, membuatnya bertambah malu berkali-kali lipat.
"Ya Tuhan Audrey, jangan lagi, memalukan,!!"
to be continue...
__ADS_1
Happy reading readers sayang...