The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Mari bersikap seperti biasa


__ADS_3

Fatih


Sudah lewat tengah malam ia pulang. Jadwal penerbangannya mendadak kacau sebab Thypoon di Tokyo. Ia harus terjebak disana beberapa hari. Yah sudah dua bulan ini ia pindah ke flight Internasional.


Tubuhnya remuk, ia merencanakan untuk tidur seharian hari ini. Namun gangguan telpon dari Kikan membuat rencananya buyar. Gadis itu merengek minta bertemu. Jadilah sore ini dengan kondisi tubuh kurang fit ia menemui sang kekasih.


"Kamu bukan baru mengenalku Kikan, kamu tau persis pekerjaan ku seperti apa." Ia menatap tajam pada wanita yang duduk tepat dihadapannya.


"Aku lelah seperti ini. Kerja, kerja, kerja terus. Kapan kamu mau memprioritaskan hubungan kita?"


What? Kikan bahkan tidak menanyakan keselamatannya yang sudah beberapa hari terjebak Thypoon di Tokyo.


"Hubungan seperti apa lagi yang kamu mau?" Ia terpaksa memijit keningnya menahan pening.


"Aku ingin ada ikatan, minimal tunangan dulu, tukar cincin kek apa kek." Kikan merengek.


"Dulu aku mau kita nikah, kamu yang belum siap, ingat?"


"Kamu tau sendiri dulu aku masih begitu banyak pencapaian. Sekarang aku sudah siap, ayo lamar aku! ajak orang tuamu menemui papi. Atau tidak juga tak apa, kamu laki-laki Fatih, tanpa orang tua pun kamu bisa datang ke orang tuaku."


Entahlah jika dulu ia sangat menggebu pada sosok Kikan, makin kesini ia jadi makin ragu. Kikan cantik, cantik luar biasa dengan semua yang melekat padanya sangat fashionable.


Tapi ia baru menyadari bahwa Kikan sosok wanita sosialita yang hedonis. Pergaulannya susah dijangkau oleh pria seperti dirinya yang sejak kecil penuh dengan aturan-aturan dari papa dan kesederhanaan hidup dari mama.


"Lakukan atau kita akhiri sampai disini!" Gertak Kikan.


"Aku serius, lakukan permintaan ku atau kita akhiri semuanya, dan kita bukan siapa-siapa lagi!" Ancam Kikan yang seperti tahu kelemahannya dan ujung-ujungnya mereka akan balikan.


Ia menggeleng,"Kamu terlalu mudah memutuskan sesuatu Kikan."


"Terserah!" Kikan seperti biasa. Gadis itu percaya , ia akan datang lagi jika mereka putus. Sudah sering terjadi. Dua tahun mereka bersama, putus nyambung adalah hal biasa.


Tapi kali ini berbeda, entah mengapa ia benar-benar ingin putus, ingin mengakhiri segalanya, ia sudah muak.


Ditatapnya lekat wajah Kikan yang mengeras, mama benar. Wanita model seperti Kikan tidak baik untuk dijadikan istri.


"Kamu ingin kita putus? Baiklah aku kabulkan permintaan mu, kita pu-tus." Ucapnya dingin dan datar.


Wajah Kikan sedikit panik, namun gadis itu bisa menyembunyikan dengan sempurna, "Oke, baiklah, kita bubar!" Kikan berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Jangan datang padaku lagi, ingat itu Fatih!" Kikan menggeram, mengepalkan tangannya dengan kuku yang di cat warna-warni itu.


****


Ia mendapatkan libur dua hari sebelum terbang lagi, waktu ini ia manfaatkan sebaik-baiknya untuk istirahat. Tentu saja tanpa gangguan sebab Kikan tidak menghubunginya lagi, pun ia juga tidak berniat sama sekali untuk menghubungi gadis itu duluan seperti sebelum-sebelumnya saat mereka putus.


"Papa bilang, jadwal kamu besok terbang ke Sapporo ya?" Mama yang entah muncul dari mana sudah duduk disisi tempat tidurnya.


"Hmmmm."


"Ada waktu ketemu sama Rora gak?"


Ia yang tadinya masih bergelung dalam selimut langsung menyibak benda hangat tersebut. "Stay disana dua hari sebelum terbang lagi, mungkin bisa. Ada apa ma?"


"Mama mau nitip rendang untuk Rora. Waktu dia kesini mama belum sempat masakin Rora makanan. Kemaren dia nelpon rindu masakan mama katanya."


"Siapin aja, nanti aku antar ke apartemennya."


Mama tersenyum hangat lalu berjalan keluar kamar. Terkadang ia bingung, si Rora mama nya siapa sih, manjanya ke mama bukan ke mama Audrey.


.


.


.


Sudah satu bulan ini ia pindah ke IGD, menjadi dokter jaga disana, dengan jadwal yang seperti badai stunami. Membuatnya uring-uringan. Tepat setelah pergantian jadwal, dan bersiap pulang. Ponselnya berdering.


Fatih???.... Tumben....


"Haloo Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Dimana Ra?"


"Masih di RS...ada apa?"


"Aku didepan apartemen kamu."

__ADS_1


Glekk ... Kejutan apa ini, mengapa tiba-tiba Fatih ke apartemennya, come on Rora, kamu sudah berjanji untuk bersikap biasa bukan, don't be 'baper'.


"Tunggu disana, aku sebentar lagi pulang." Telpon pun terputus.


"Tidak selamanya kita bisa menghindar, sebab menghindar adalah perbuatan pengecut. Berlapang dada lah terhadap sesuatu yang bukan ditakdirkan untuk kita. Ada banyak kebahagiaan nanti yang datang setelahnya."


Ucapan papa tempo hari seolah mengimpulsnya hingga ia tak lagi gugup kala bertemu Fatih seperti ini.


"Sudah lama?" Ia berusaha membuka pintu apartemen dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegang tas.


"Tidak juga."


"Ayo masuk." Ucapnya yang beruntung kali ini apartemen dalam kondisi rapi. Yah sejak kejadian memalukan bersama Abi, ia tidak pernah meninggalkan apartemen dalam keadaan yang berantakan lagi.


"Jadi ada angin apa datang kesini?" Ia berjalan mengambilkan Fatih minum dari kulkas setelah pria itu duduk santai di sofa.


"Ada titipan rendang dari mama. Kebetulan flight ku ke Sapporo." Fatih menaikkan paper bag ke udara.


Tuh kan, jangan ge-er ya Rora, dia cuma mau antar titipan mama Sonia.


Ia mengangguk antusias dan meraih bawaan Fatih. Memindahkan nya ke dalam wadah.


"Ayo kita makan?! belum makan kan?"


"Belum." Fatih berjalan mendekatinya.


Mereka makan dalam diam, suasana masih terlalu canggung untuk bercerita apalagi bercanda. Tapi tidak selamanya seperti ini bukan. Mereka adalah sepupu, setidaknya itu yang dipercayai Fatih.


Mama dan mama Sonia sudah seperti saudara kandung, begitu pun papa dan papa Dimas. Jadi kali ini, ia akan melupakan perasaannya pada pria dihadapannya. Mari kita seperti dulu, saat tak ada cinta yang tumbuh diantara persahabatan.


"Berapa lama di Sapporo?" Ia memulai percakapan.


"Dua hari sebelum terbang ke Melbourne."


"Besok aku libur, mau jalan. Akan aku tunjukkan beberapa tempat menarik disini."


"Boleh... Sepertinya sudah lama tidak refreshing." Fatih tersenyum sambil meneguk minum.


To be Continue

__ADS_1


happy reading ....


__ADS_2