
Hallo Assalamualaikum readers tersayang, apa kabar? sehat selalu ya...
yuk cusss, kita menuju part-part terakhir dari perjalanan kisah cinta Galih- Audrey daaan Dimas-Sonia.
Selamat menikmati...
****
Audrey
Empat bulan sudah ia menjalani masa pregnant, tidak mudah. Diawal ia sangat menolak keras pada kondisi, tapi makin kesini ia mulai menikmati. Kesabaran kak Galih yang tiada batas dalam menghadapinya membuat hatinya luluh, betapa laki-laki itu mencintainya melebihi apapun. Perhatian dan cinta yang begitu besar ditunjukkan kak Galih dengan segenap jiwa dan raga pria itu, sungguh sampai kapanpun tak kan bisa ia balas.
Kak Galih benar-benar memperlakukan nya bak benda berharga, sangat lembut, membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia, ia bahkan tak lagi mempermasalahkan skripsi, kuliah dan te tek bengek nya, fokusnya hanya kak Galih dan bayi mereka.
Meskipun tetap saran uni Sonia untuk ikut SP ia ikuti, dan lagi skripsi sudah dikerjakan sang suami dibantu beberapa pegawai klinik juga, besok lusa jadwalnya ujian skripsi, tentu saja setelah kak Galih mendatangi pihak kampus meminta dispensasi atas kehamilannya.
Sore Minggu yang cerah, ia yang mengenakan dress selutut motif bunga-bunga tengah duduk manis di gazebo, sembari memandang tanaman bunganya.
Tiba-tiba kak Galih yang berdiri menyiram bunga menatapnya, mata gelap pria itu menyipit dan serius. " Aku pernah melihat lukisan di galeri," gumam kak Galih, sambil bergerak perlahan mendekatinya.
"Lukisan peri yang menari dibawah sinar bulan, tertawa. Kamu mirip dengan peri itu."
"Apakah perutnya buncit sama seperti ku?" Tanyanya iseng.
"Aku tidak bercanda." Kak Galih menangkup wajah Audrey dengan kedua tangan pria itu yang besar.
"Tadinya kukira dia mahkluk paling menggoda yang pernah kulihat, sampai saat ini." Pandangan kak Galih jatuh pada bibirnya yang lembut. " Kau benar-benar memukau ...!"
Jemari kak Galih menyusuri dagunya yang bulat dan lembut, lalu bergerak kebibirnya. Kak Galih menjelajahinya, jemari pria itu bagaikan sapuan kuas seniman, menyentuh dan menelusuri...menyiksa, sebab hormon hamilnya mulai bekerja, tubuhnya bergetar hebat ingin segera disentuh.
"Kamu seperti permen kapas, Drey." Bisik kak Galih sambil mengecup lembut bibirnya. " Aku bisa memakanmu hidup- hidup..."
__ADS_1
Ia merasakan bibir lembut pria itu menyapu bibirnya, menggoda dan membangkitkan, mencari-cari. Ia mengikuti sapuan bibir kak Galih secara refleks, bergantung pada pria itu seperti merpati, menikmati setiap detik berada dalam pelukan longgar kak Galih.
Ia menyukai rasa tubuh kak Galih ditubuhnya sendiri, aroma aftershave yang bersih dan wangi. Ia suka cara laki-laki itu memeluknya, lembut sekaligus kuat dan percaya diri. Dan kalau sudah seperti ini, mampukah ia berpaling dari hal- hal remeh semacam skripsi? oh no, I don't care about it, lupakan semuanya. I need you hunny, kak Galih love you.
Kak Galih melepas pagutan dan mengecup puncak hidungnya cepat. "Bersiaplah, kita akan pergi."
"Kemana?" Ia yang merasakan sensasi menyenangkan yang tiba-tiba terhenti menengadah pada kak Galih.
"Kamu lupa, hari ini Dimas lamaran, kita ikut gabung ke pihak mempelai laki-laki."
"Hahaha, ya Tuhan." Ia menepuk jidatnya sendiri.
"Aku sudah janji ke uni untuk menemaninya, sepertinya kita harus berpisah, hantarkan aku rumah uni kak."
.
.
.
Ia memutuskan untuk menerima lamaran hari ini, setelah tentu saja skripsi dan segalanya nya telah rampung, hanya menunggu wisuda saja.
Lamaran akan dilaksanakan malam ini, dan prosesi akad rencananya digelar dua minggu setelahnya. Kondisi rumah sudah ramai oleh sanak keluarga serta Jiran tetangga.
Tepat pukul delapan malam, iring-iringan mobil dari pihak mempelai laki-laki telah tiba, memenuhi halaman masjid, sebab disana satu-satunya tempat yang bisa dijadikan parkir.
Audrey yang sedari tadi menemaninya dikamar, heboh sendiri. Gadis itu cantik mengenakan blues panjang dengan perut membuncit, rambutnya di kuncir tinggi. Audrey terpisah dengan sang suami, Kak Galih ikut ke pihak laki-laki.
"Ya Tuhan, lihat mereka sudah datang!!" Audrey setengah memekik.
Ia mengintip sebentar lewat tirai kain, kak Dimas dan keluarga nya. Pria itu mengenakan batik lengan panjang berwarna hitam mustrad, gagah sekali.
__ADS_1
"Jadi itu calonnya Sonia?" Ibu-ibu dibelakang sibuk pula mengintip membuatnya dan Audrey menyingkir masuk ke dalam kamar.
"Busyeet, cakep betul mirip artis ye cing." Suara Mpok Julaeha, tetangga mereka terdengar histeris.
"Ntar habis ini, kite minta foto!"
"Pantesan Sonia nolak pinangan ustadz Hannan, dapat calon laki model begini, gue sih rela jadi istri kedua hahaa."
"Bise aje lo!!"
Dan suara- suara terus berdegung dari arah dapur, emak-emak gang kemuning sibuk menggosipkan kak Dimas, yang tentu saja akan membuat laki-laki itu besar kepala jika tau.
Acara serah-serahan berlangsung lancar, dan tanggal pernikahan pun telah ditetapkan. Ia yang duduk diujung ruangan, membuka ponsel nya yang bergetar. Pesan dari kak Dimas, sempat- sempatnya pria itu.
[ Cantik ]
Ia hanya mendengus, melirik sebentar ke arah kak Dimas yang mengobrol dengan pak RT.
[Balas dong]
Alih-alih membalas, ia menyimpan ponselnya dan bersama Audrey mengobrol dengan mama kak Dimas dan memangku Ara yang mulai terkantuk-kantuk.
"Jadi istri aparat negara itu harus tahan banting." Mama kak Dimas menatapnya lembut.
"Terkadang mereka bisa gak pulang berhari-hari, gak bisa dihubungi pula, atau bisa jadi pulang tinggal nama." Ia seperti dipaksa menelan semangka kala mendengar ucapan mama, nafasnya tercekat.
Tiba-tiba ia melihat sekilas gambaran mengejutkan akan kehidupan ia dan kak Dimas seandainya mereka telah menikah, bagaimana ia harus mengantar kepergian kak Dimas ke kantor, tahu bahwa laki-laki itu mungkin tak kan pulang.
Ia masih ingat betul peristiwa bom tempo hari yang hampir merenggut nyawa kak Dimas, diliriknya sebentar kak Dimas yang masih asyik ngobrol santai bersama pak RT, seketika mata pria itu menangkap matanya, ia tersenyum penuh arti yang diikuti anggukan pelan kak Dimas.
Ia yakin kak Dimas sangat ahli dalam pekerjaannya dan laki-laki itu selalu berhati-hati.
__ADS_1
To be Continue..
happy reading yaaaaaa