
Audrey
Entah untuk keberapa kali ia menguap dalam kurun waktu 90 menit mata kuliah pagi itu, benar-benar mengantuk parah, padahal ia tidur cepat semalam. Pun sampai tengah hari, tubuhnya tak bisa diajak kompromi, persis seperti model iklan obat penambah darah dimana menampakkan sang model yang lemah, letih, lesu butuh asupan vitamin.
"Latar belakangnya belum kuat Drey, cari lagi data yang mendukung, kurang greget kalau menurut bapak." Ia hanya mengangguk pasrah ketika pak Hambali, sang dosen pembimbing mencoret- coret BAB I nya, sudah sepuluh hari, skripsinya tak ada perkembangan berarti, masih mutar-mutar di BAB I, latar belakang, masalah penelitian, huaahhh membuatnya mual.
Benar-benar tidak fokus, alih-alih memperbaiki hasil konsul, ia lebih memilih mojok di perpustakaan dan tertidur pulas.
Esoknya pun masih sama, ia terlalu letih walau hanya untuk menggerakkan tangan dipagi hari. Diliriknya dari ekor mata yang masih terpejam setengah, sang suami telah bersiap, memakai kemeja di depan kaca.
"Sayang, sarapan sudah kakak siapkan, jam berapa kuliah?" Kak Galih mendekatinya, duduk sebentar ditepi ranjang dan menyibak selimut yang masih bergulung dibadannya.
"Hei, kamu kenapa?"
"Entah, lesu dari kemarin."
Dibiarkannya sang suami memegang pergelangan tangan, memeriksa nadinya, kemudian membuka mata serta mulutnya.
"Ayo tespeck." Kak Galih berdiri.
"Whaat?" Tiba-tiba tubuhnya menegang sempurna.
"I'm pregnant?"
"Sepertinya." Pria itu mengambil sesuatu dari lemari kaca tempat peralatan medis dan membuka satu alat tespeck dari sana.
"Ayo."
Masih dengan mode mengantuk parah, ia berdiri mengambil alat tespeck dari tangan kak Galih dan memasuki kamar mandi.
Lima menit kemudian...
"Whoaaaaaaa..."
"Sayang, sayang...!!" Kak Galih mengetuk kuat pintu kamar mandi sebab mendengar teriakkan histeris yang keluar dari mulutnya, serta merta ia keluar sambil memegang benda pipih kecil yang bertuliskan kata yes di ujungnya.
"Ini." Ucapnya dingin menyerahkan benda itu tepat ke telapak tangan kak Galih.
Mata pria itu membulat sempurna melihat kata 'yes' terpampang nyata di benda tersebut. Lalu tersenyum sumringah meraih tubuh lemahnya, mendekap erat.
"Terimakasih, kita akan jadi ayah dan bunda, nanti kakak USG kan ke klinik." Kecup pria itu berkali-kali pada kepalanya yang mendadak pusing dan cenat- cenut.
__ADS_1
"Kakak bohong, katanya gak bakalan bikin aku hamil sebelum wisuda, tinggal satu semester lagi, gimana dong." Desahnya frustasi.
"Tinggal cuti kan gampang, nanti abis lahiran baru lanjut, sekarang fokus dulu ke anak kita."
Apa? gampang? tinggal cuti? enak sekali pria ini berucap, aku mati-matian agar tidak tertinggal, pernah memilih jadi pelacur demi tetap kuliah dan tak mengambil cuti, sekarang apa?...
Padahal bayang-bayang wisuda dan memakai toga sudah menari-nari dikepalanya, tinggal sedikit lagi mencapai garis finish, tiba-tiba bayangan itu terusik pada gambaran lain dimana ia sedang memakai daster dengan perut membuncit sempurna, kemudian berlanjut dengan menggendong seorang bayi, sementara teman yang lain tengah tertawa gembira melempar toga mereka ke udara.
Seketika dilepaskannya dengan keras pelukan hangat sang suami.
"Semua gara-gara kakaaaak!!" Matanya nanar menahan amarah yang sudah mengepul.
"Aku sudah bilang, aku belum mau hamil!! semua karena kakak!!" Dorongnya tubuh jangkung kak Galih hingga laki-laki itu terhuyung ke belakang sebab tak siap menerima reaksi darinya.
"Audrey..."
"Aku belum mau hamil!!!" ku bilang apa, kita menikah setelah aku wisuda, tapi kakak memaksaku!!"
"Memaksa?" Kak Galih bergumam.
"Yah, apalagi namanya kalau bukan memaksa, aku tidak tau apa-apa, tiba-tiba saja semua sudah ada dan terjadi, kakak selalu berbuat seenaknya."
"Jadi kamu terpaksa menikah denganku?" Suara pria itu terdengar datar, nyata sekali jika kak Galih sedang berusaha memanajemen emosi.
.
.
.
Galih
Ia terpaku menatap Audrey yang sudah tak nampak lagi tenggelam dalam selimut tebal yang menggulung gadis itu bak kepompong.
Mendesah pelan, ia berusaha menahan kecewa yang tiba-tiba menyesak didada.
"Aku belum mau hamil!!!" ku bilang apa, kita menikah setelah aku wisuda, tapi kakak memaksaku!!"
"Yah, apalagi namanya kalau bukan memaksa, aku tidak tau apa-apa, tiba-tiba saja semua sudah ada dan terjadi, kakak selalu berbuat seenaknya."
Entahlah, rasanya begitu sakit mendengar perkataan seperti itu keluar dari mulut sang kekasih. Pergi adalah pilihan terbaik untuk meredam amarah, itulah yang ia lakukan saat ini.
__ADS_1
Kepalanya serasa ingin pecah saat Audrey bahkan tak menghiraukannya lagi ketika ia berpamitan berangkat kerja. Namun bukan Galih namanya jika tidak bisa bekerja profesional disaat hati dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Ia tetap tersenyum ramah pada setiap pasiennya hari itu, dari bangsal dilanjut ke poli kebidanan sampai tengah hari, kemudian mengambil jadwal operasi caesar tiga pasien berturut. Menjelang sore langsung praktek di klinik hingga jam sembilan malam.
Tak ada notifikasi pesan maupun panggilan sama sekali dari Audrey. Dengan tubuh remuk sebab tak ada istirahat sedari pagi, ia melajukan mobilnya menuju apartemen, yah pilihan terbaik, menyingkir ke apartemen.
Ia menghempaskan tubuh lelahnya sembarang diatas sofa, dengan tangan terlipat menutup mata. Sejak awal membina hubungan, memang ia yang mendominasi.
"Maukah kau mencobanya bersamaku?" Seperti itulah ucapannya kala itu. Ia tau saat itu Audrey masih sangat mencintai sang mantan kekasih, gadis itu selalu menggaungkan bahwa the first love never die.
Dan lambat laun, mereka benar-benar mencoba, saling menerima dan membuka hati. Lagi-lagi ia yang mendominasi dalam hubungan mereka. Seharusnya ia memahami mengapa Audrey menangis saat bertemu sang mantan kekasih yang ngajak balikan waktu itu.
Tapi tidak, ia terlalu takut kehilangan. Cintanya sudah berubah menjadi obsesi untuk memiliki Audrey seutuhnya, ia begitu menginginkan gadis itu, tanpa mau tau seperti apa perasaan Audrey.
Ia menyadari bahwa Audrey masih sangat muda, pikiran Audrey belum matang. Mungkin hamil dan memiliki anak sama sekali tidak terbayang oleh gadis itu, emosi nya pun masih labil, cita-citanya ingin menyelesaikan kuliah tepat waktu, dan ia telah merusak segalanya.
Pikiran membawanya melalang buana. Entah jam berapa ia bisa tertidur, masih disofa. Ia tak menyadari hingga suara alarm subuh membangunkan nya, mengerjapkan mata, ia mencuci muka di wastafel.
.
.
.
Audrey
Hari ini benar-benar hari terkacau dalam hidupnya. Sempat menelpon uni Sonia, mengabari bahwa ia izin kuliah dengan alasan tak enak badan, ia tidak berbohong, memang benar ia tak enak badan saat ini. Lalu kembali tertidur pulas.
Tepat tengah hari, ia terbangun sebab bunyi cacing di perut yang demo minta diisi makanan, tapi baru masuk dapur, perutnya mual tak terkira, seperti blender mengaduk jus. Akhirnya ia memutuskan untuk memesan makanan via online.
Namun lagi-lagi, mualnya kambuh kala melihat pesanan makanan yang baru datang itu. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur lagi tanpa memakan apa pun. Tengah malam ia terbangun, didapatinya rumah dalam keadaan kosong, kak Galih tak pulang.
Sempat ingin menghubungi pria itu, tapi gengsinya terlalu tinggi, sampai menembus lapisan stratosfer bumi, melampaui ozon. Ia mengambil minum di kulkas kemudian tidur lagi sampai pagi.
Dan saat pagi itulah, kepalanya terasa pening tak terkira, segalanya berputar hebat, ia tertatih melangkah ke kamar mandi, menumpahkan segala isi perut yang bahkan tak terisi sejak siang kemarin, alhasil yang dimuntahkan hanyalah cairan kekuningan pekat yang sangat menyakitkan tenggorokan, apalagi kalau bukan asam lambung yang naik, membuatnya bertambah mual berkali-kali lipat.
Ia sudah tak tahan lagi, tubuhnya melemah, ia menangis sambil memegang perut, matanya sudah berkunang dan akhirnya gelap. Ia ambruk tepat di depan pintu kamar mandi.
"Kakak, kak Galih.."
To be Continue...
__ADS_1
Happy reading