The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Seblak Ceker


__ADS_3

Audrey


Ia masih membahas materi kuliah di kelas tadi saat netranya menangkap mobil kak Dimas yang tengah terparkir diseberang jalan dan seketika ia menghentikan obrolan serunya dengan Sonia.


"Uni, jadikan ikut aku?"


Gadis berjilbab putih itu mengangguk, yah hari ini ia mengajak sahabat baru nya itu ke Rooftop tempat tinggalnya. Dan secara impulsif ia meraih lengan Sonia menyeberang jalan menuju mobil kak Dimas.


"Kamu dijemput siapa?" Suara uni Sonia.


"Kakak aku."


"Kakak kandung?"


"Bukan, kakak sepupu." Jawabnya asal.


"Audrey ngajak teman kak." Ia memasuki mobil kak Dimas bersama Sonia kala mereka sudah sampai diseberang.


Dilihatnya sekilas kak Dimas mencoba tersenyum pada uni Sonia, dan dibalas senyum tertunduk dari gadis itu.


"Langsung pulang kan?" Toleh Dimas ke belakang dimana ia duduk.


"Iya."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian lalu lintas siang itu, tak butuh waktu lama mereka sudah berada di Rooftop Audrey.


"Bagaimana kalau bikin seblak ceker aja?" Tawarnya pada kak Dimas yang sudah lebih dulu duduk selonjoran di gazebo sambil bermain ponsel. Laki-laki itu menoleh sekilas.


"Apa aja Drey, kakak dah lapar nih, yang penting ada cekernya."


"Sip sip, tunggu disini."


.


.


.


Galih


Ia masih sibuk di poli melayani pasien saat tiba-tiba ponsel nya berbunyi, dibukanya, ada pesan gambar dari Dimas.


"Shhitt, ngapain dia disana." Ia berdecak kala melihat foto Dimas yang sedang selonjoran di gazebo. Jelas ia sangat mengenali dimana itu.


[Ngapain disana?]


[Ayo tebak...] - Dimas.


[Aku serius, kamu ngapain disana songong!]


[Eh nyolot, lagi mengunjungi adik kecil, masalah ?] - Dimas.


Ia langsung berdiri, membuat beberapa perawat dan dokter intershif kaget atas tindakannya.


"Jul, lanjutkan, saya ada urusan penting." Tolehnya pada Jullian sang dokter intershif yang jadi asistennya.

__ADS_1


"Siap dok."


Dengan langkah tergesa ia cabut dari ruangan menuju parkiran mobil, melempar sembarang jas putihnya ke arah bangku samping kemudi dan melajukan mobilnya ke arah klinik.


***


Ia menaiki tangga dengan meloncati dua anak tangga sekaligus. Dan benar saja, mata elangnya langsung menangkap keberadaan Dimas yang tengah tertidur di gazebo dengan posisi tertelungkup.


"Hoi, bangun!" Ia melempar bungkus rokok Dimas yang tergeletak di lantai gazebo tepat ke kepala pria itu, membuat Dimas terlonjak kaget dan langsung duduk.


"Brengsek!" Umpat Dimas mengacak rambutnya.


"Ngapain kesini?" Ia langsung mendelik.


"Aku yang seharusnya tanya, kamu kenapa disini?"


Alih-alih menjawab Dimas, ia malah ikut duduk di gazebo.


"Mana Audrey?" Tolehnya sesaat pada Dimas.


"Lagi masakin aku makanan."


Sontak ia mengeryitkan dahi, lalu mendengus.


"Permainan mu kurang cantik, modus minta masakin, dah basi tau." Decihnya jelas mengejek polisi muda itu.


"Kurang main cantik apa coba, sudah halus ini boy."


"Tapi sayangnya kamu TELAT bro, strategi mu udah bisa aku baca!"


Sekarang gantian, Dimas yang mengeryitkan dahi.


"Hahaaa dasar kuda lumping, secepat itu? apa kamu tidak percaya diri bersaing denganku sampai harus mencuri start ?" Dimas terkekeh.


"Belajar dari pengalaman, terlalu lama mengintai, yang ada nanti mangsa dimakan singa lain."


"Ckkkk.. ckkkk." Gelengkan kepala Dimas meninju bahunya berkali-kali.


Tepat saat ia akan membalas, Audrey muncul dari pintu depan.


"Loh, kakak kapan nyampe?"


"Barusan."


"Ohh sekalian ikut makan, kami bikin seblak ceker,,, kak Dimas tolong bantu uni Sonia angkat panci dibelakang dong."


"Kok aku? Galih nih yang baru datang."


"Yang minta dimasakin siapa? kamu kan? buruan!!" Ia mengambil posisi tidur terlentang di gazebo sambil meraih ponsel, membiarkan Dimas dengan hati dongkolnya.


Netra ia dan Audrey mengokori punggung Dimas yang masuk ke arah rumah, kemudian mereka saling tatap, yah tatapan pertama sejak jadian, cihuuyyyy.


"Kak Dimas tau?"


"Tau apa?" ia mengangkat alis, pura-pura tak mengerti.

__ADS_1


"Kita..."


"Kita? emang kita kenapa?" Alisnya makin tinggi.


"Kita, hubungan kita..." Audrey jelas kesal melihatnya.


"Hubungan apa?" Tahan tawanya melihat ekspresi Audrey yang sudah seperti udang goreng.


"Sudah lupakan!!" Gadis itu merajuk melangkah cepat menuju rumah, namun..


"Dimas sudah tau." Ia mencekal lengan Audrey dan berbisik tepat dibelakang telinga, hingga jarak mereka sangat tipis, ia bisa merasakan bahwa gadis ini gugup setengah mati, bibir Audrey sampai bergetar.


"Kakak bilang apa?"


"Bilang kalau kita punya hubungan, jadi mulai saat ini jangan tebar-tebar pesona ke Dimas."


"Apa kakak barusan mengancamku?" Audrey dengan mimik muka mengejek.


"Menurutmu?" Ia balik bertanya.


.


.


.


Sonia


Ia sibuk mencicipi Kuah seblak yang mendidih di dalam panci, mengambilnya dengan sendok dan meniup- niupnya saat suara bass terdengar dari arah depan.


"Ada yang bisa saya bantu?"


Seorang pria berperawakan tinggi dengan style parlente, tanpa bertanya pun orang sudah tau kalau dia adalah seorang aparat negara.


Ia hanya mendesah gugup kala si pria berjalan mendekati nya, tanpa berusaha untuk bersuara apalagi berbasa-basi.


"Bagaimana rasanya?" Tanya pria itu lagi yang akhirnya mengharuskan ia untuk bersuara.


"Pas." Ucapnya kaku dan gugup sebab tak pernah berada diruangan dengan pria bukan muhrim berdua saja seperti ini.


"Sudah matang kan? sini saya bantu angkat keluar."


"Yah, silahkan." Ia mematikan kompor dan memberikan alas tangan pada pria itu. Sementara ia membawa piring dan teko air ke depan.


"Waaww, masakan sudah siaaap!" Audrey setengah berteriak.


Ia membantu Audrey menyusun makanan diatas lantai gazebo, dan sedikit terkejut melihat kedekatan Audrey dengan seorang dokter spesialis tampan yang terkenal seantero mahasiswa perawat.


Gadis itu memang cerita kalau ia bekerja di klinik dokter Galih dan tinggal di Rooftop ini, tapi ia sama sekali tidak menyangka Audrey dikelilingi oleh pria- pria berkelas seperti dua orang yang ada dihadapannya saat ini.


"Kak Dimas, kak Galih kenalkan ini teman aku, nama nya So Ni a, satu kelas sama aku." Audrey memperkenalkannya pada dua pria itu, yang jujur saja membuatnya gugup setengah mati kala mereka serentak menoleh kearahnya, oh my ...


Cepat-cepat ia menundukkan pandangan setelah sesaat mengangguk dan tersenyum kaku.


"Ayo makan makan." Pria yang diketahuinya bernama Dimas itu paling dulu mengambil piring.

__ADS_1


To be Continue...


Happy reading yaa


__ADS_2