
Kikan
"Nangani kasus begini aja kamu gak becus, gimana sih!" Ucap Hendrawan ketus sambil memakai kembali kacamata hitam.
Kliennya kali ini berang bukan main melihat mereka kalah telak di persidangan pertama kasus perceraian pria itu dengan Grea, artis sekaligus model senior tanah air.
"Tenang mas, ini baru sidang pertama. Kita masih bisa mengajukan pembelaan."
"Urus sama kamu, atau saya minta ganti pengacara saja." Hendrawan dengan songong pergi meninggalkan ia dan contract attorney nya berdiri mematung masih diruang sidang.
"Mbak kenapa sih mbak, biasa gak pernah kayak gini." Dian, sang contract attorney yang sudah satu tahun ini bekerja dengannya tampak ikut prihatin padanya.
Alih- alih menjawab pertanyaan Dian, ia sibuk menyusun berkas- berkasnya. "We need to think another way, kita harus cari data dan bukti baru." Ucapnya pelan, meski ia sendiri ragu bisa memenangkan kasus ini.
Pikirannya saat ini terbelah dua. Sibuk mengurusi pekerjaan sebagai seorang pengacara yang sudah beberapa tahun terakhir dilakoninya dan sibuk memikirkan hubungan percintaannya yang menggenaskan.
Ia masih berpositif thingking bahwa Fatih hanya membual tentang pernikahan. Fatih tidak mungkin menikah, mengingat selama dua tahun mereka berpacaran hanya dia yang ada dihidup seorang Fatih dan Fatih termasuk pria yang tidak mudah tergoda wanita.
Fix, Fatih mungkin hanya bercanda. Tapi tetap saja ia berusaha mencari tahu. Dan itu memang keahliannya untuk mencari data serta bukti- bukti akurat bukan. Sangat gampang baginya melakukan itu.
Dan lewat beberapa koneksi, serta bukti catatan pernikahan dari KUA di wilayah kompleks perumahan Fatih. Membuat ia bak tersambar petir di siang bolong.
"Fatih dan Rora?"
Lelucon macam apa ini, ia terperangah, bukankah mereka sepupu? bagaimana bisa Fatih menikahi sepupu sendiri? mesti ada yang tidak beres. Fatih hanya mencintainya seorang, bahkan Fatih pernah mengajaknya menikah dulu. Aneh sekali, tiba- tiba pria itu menikahi Aurora.
"Di, bisa tolong carikan semua data tentang gadis ini, mbak minta cepat ya, kirim via email." Sengaja ia berjalan ke meja Dian, menyerahkan selembar foto.
"Siapa mbak? kasus barukah?"
"Yaap, lebih penting dari kasusnya si Hendrawan gila itu." Tawanya sinis sambil menghirup sisa kopinya yang telah dingin.
.
.
__ADS_1
.
Aurora
Hari ini hari terakhir Fatih dirumah, sebab sore nanti ia sudah mulai bekerja. Jadwal pertama setelah menikah adalah flight ke Penang.
"Cara baca jadwalnya gimana sih?" Ia menatap bingung pada laptop yang di ada di pangkuan Fatih.
Pria itu tersenyum sambil mengacak rambutnya," Susah kalau awam, soalnya kami biasa menggunakan kode khusus."
Entahlah, melihat Fatih akan pergi terbang, membuat jantungnya selalu berdebar, ada ketakutan dan kegelisahan yang diam- diam menyelinap serta mendistarct alam bawah sadarnya.
Ia takut Fatih pergi dan tak pernah kembali, sama seperti seseorang yang pernah berjanji padanya untuk segera pulang, namun nyatanya tak pernah pulang. Ketakutan itu sepertinya tumbuh subur di pikirannya, hingga hari itu entah berapa kali ia menangis diam- diam.
"Abang pulangnya kapan?" Tolehnya pada Fatih yang tampak terkejut dengan panggilan barunya untuk pria itu.
Yah, sejak pagi tadi ia memutuskan untuk tidak memanggil Fatih dengan nama ataupun kamu lagi sebab mama Sonia bilang posisi seorang suami dimata istri seperti Raja yang mesti dihormati dan dipatuhi. Salah satu bentuk penghormatan istri pada suami bisa dilihat dari cara ia menyebut suaminya.
Fatih mengulum senyum, "Coba sekali lagi..."
"Apa?"
"Abang pulangnya kapan?"
"Yes, I like hear that. That's my Rora."
Ia mencibir sekilas, namun tak pelak wajahnya memerah juga mendengar ucapan Fatih.
"Bisa satu minggu, dua minggu, atau lebih. Kamu gak papa kan?"
"Kok gak jelas gitu?"
Fatih hanya mengangkat bahu singkat, "Resiko pekerjaan."
Dan ia hanya mendesah pelan saat waktu kebersamaan mereka kian menipis. Tiba- tiba saja, taxi yang berasal dari maskapai penerbangan Fatih sudah datang dan akan segera mengantar pria itu ke bandara.
__ADS_1
"Tih, sudah siap?" Mama mengetuk pintu kamar mereka.
"Bentar ma." Fatih menyematkan pin di seragamnya, dan ia hanya memperhatikan pria itu lekat- lekat.
Ia memaksanakan diri untuk melangkah mengantar Fatih sampai ke depan, sungguh dadanya terasa berat melepas kepergian pria itu.
Tapi tepat saat akan membuka pintu kamar, ia merasakan adanya dorongan dari dalam dirinya. Ia berbalik dan menatap Fatih nanar sebelum memeluk pria itu.
Fatih mungkin sama sekali tidak menduga tindakan yang ia lakukan. Namun pria itu tidak menolaknya. Fatih balas memeluknya. Fatih langsung menyambutnya ketika ia menengadah mencari bibir Fatih.
Ciuman Fatih terasa menuntut, dan ia pun menuntut dengan melakukan hal yang sama.
Dengan nafas terengah- engah, Fatih membaringkan tubuhnya diatas sofa. Ia tidak peduli jika taxi Fatih sudah menunggu di depan atau mama yang tengah berdiri di teras menunggu mereka. Yang ia pedulikan hanyalah menikmati waktunya bersama Fatih.
Namun, Fatih tiba- tiba mengangkat tubuhnya dan menghentikan ciuman. Pria itu membantunya bangkit dan membenarkan letak pakaiannya yang berantakan oleh tindakan mereka.
"I'm gonna miss you. Taxi nya dah nunggu" Bisik pria itu lembut sambil mencium keningnya.
Dan ia hanya mengangguk pelan sembari menahan malu yang sudah sebesar gunung Uhud, wajahnya merona merah.
Ia dan mama Sonia menatap sendu pada taxi yang telah membawa Fatih ke bandara.
"Selalu seperti ini, melihatnya pergi lagi. Terkadang mama sendiri dan anak laki- laki mama entah dimana." Mama Sonia memaksakan diri untuk tersenyum.
"Sejak awal Fatih bilang ingin jadi pilot, hari- hari seperti ini sudah mama bayangkan. Namun kenyataan lebih berat dibanding apa yang mama bayangkan."
Ia ikut tersenyum.
"Sebagai istrinya, kamu pasti merasakan hal yang sama." Toleh mama sendu padanya.
Ia tahu, berpisah dengan Fatih untuk sementara waktu memang berat, tapi menunggu waktu untuk bertemu kembali dengan pria itu mampu membuatnya bertahan.
To be Continue
happy reading
__ADS_1
sesuai permintaan udah double up yaaa...
like, koment, dan gift seikhlasnya hihihiii