
Karena Wanita ingin dimengerti
Lewat tutur lembut dan lagu-lagu
Karena wanita ingin dimengerti
Manjakan dia dengan kasih sayang
(Ada band)
Dimas
Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, diliriknya jam dinding pukul sepuluh malam, selama itukah ia tertidur?, seingatnya pulang ke apartemen tadi masih sore.
Ia bahkan masih mengenakan sepatu, dan pakaian yang sudah bau keringat dan debu. Cepat-cepat ia melepas kaosnya dan berjalan ke arah dapur, dilihatnya diatas meja sudah tersedia ikan nila bakar, sambal terasi, cah kangkung dan rebusan sayur, semuanya telah dingin, mungkin disiapkan Sonia sedari sore, tersenyum ia mengingat sang istri.
Dalam hitungan menit, ia sudah melahap semua yang ada di atas meja, meneguk minuman dalam satu kali tegukan. Membereskan sisa makanan dan masuk ke kamar.
Sonia tertidur di ranjang dengan posisi meringkuk seperti bayi, membuatnya ingin mendekati gadis itu, namun ia urungkan. Badannya benar-benar gerah dan bau saat ini. Ia memilih masuk kamar mandi dan membersihkan diri, cukup lama.
Keluar dengan handuk dililitkan di pinggang, dan bergabung bersama Sonia ke atas tempat tidur setelah memakai kaos dan boxer, ia memeluk tubuh gadis itu dari belakang dan menciumi leher jenjang Sonia, namun sang istri sepertinya tak terganggu sama sekali.
"Tidurlah sayang, maafkan kakak, mungkin akan sangat sibuk dalam minggu ini, semoga kamu mengerti." Ia pun ikut terlelap lagi, membenamkan wajahnya ke belakang punggung Sonia dengan tangan memeluk erat perut sang istri.
"I love you, really love you."
.
.
.
Audrey
Kalian tau, apa yang paling ditunggu oleh seorang Audrey dalam dua puluh dua tahun perjalanan hidupnya? yaap, hari ini.
Hari dimana ia memakai kebaya, kemudian dilapisi baju kurung hitam khas wisudawati, dengan rambut disanggul dan dibubuhi toga di kepala. Itulah hari sakral dimana seorang mahasiswa telah menyelesaikan pendidikannya.
Kendati usia kehamilannya telah memasuki angka ke enam, tubuhnya sudah berubah, lebih Mon tok dengan perut membesar, sama sekali tak menyurutkan gadis itu untuk tampil paripurna di acara wisuda.
"Sudah cantik sayang." Hela nafas kak Galih melihat sang istri berkali-kali melenggak-lenggok di depan kaca.
"Nanti telat, Ibu sama Bapak udah nungguin dibawah." Sekarang agak ketus, sudah kesal juga laki-laki itu.
"Iya iyaaa." Cengirnya lebar ke arah suami yang mulai mengaktifkan mode bete.
"Hati-hati." Kak Galih membukakan pintu mobil ketika mereka telah sampai di Aula tempat acara berlangsung.
"Jangan pecicilan Drey, ingat ada bayi kita dalam perut." Lagi, pria itu mengingatkan nya ketika ia melambai kearah teman-teman dengan wajah super bahagia, hampir melompat.
__ADS_1
Dapat dilihatnya uni Sonia, amak dan Agil berjalan kearah mereka.
"Loh, kak Dimas mana?"
"Masih ada kerjaan bentar, nanti nyusul." Uni Sonia yang tampak cantik dengan balutan jilbab toscanya tersenyum.
Namun sampai acara berakhir, batang hidung kak Dimas tak juga muncul. Ia bukannya tak tau ketika melihat wajah uni Sonia yang memendam kecewa saat dihari bahagia, malah suami tak muncul mendampingi, namun ia berusaha seceria mungkin agar uni tak terlalu sedih.
"Ayo ni, kita gabung ke anak-anak yang lain." ia menarik lengan uni Sonia, berjalan menuju kumpulan teman-teman dilapangan.
"Inilah saatnya, akhirnya semua beban terlepas, segala air mata terbayar lunas, terimakasih Tuhan atas segalanya, aku bahagia."
Satu...
Dua...
Tiga..
Lempaaaar!!!!!
Mereka serentak melempar toga ke udara, saling merangkul bahagia, berpelukan hangat, selamat datang dunia yang sesungguhnya...
Selepas acara, mereka berkumpul di Rooftop, kebetulan ibu dan bapak datang jauh dari Sidoarjo, termasuk uni, amak dan Agil pun ikut serta.
"Kak, coba hubungi lagi kak Dimas." Bisiknya pada kak Galih.
"Sudah dari tadi, nomor nya gak aktif. Kebiasaan anak itu, kalau sudah fokus sama kerjaan, ponsel dimatikan, yang lain diabaikan semua."
.
.
.
Sonia
"Nginap di sini gak Son?" Tanya amak padanya sore itu kala mereka baru pulang dari Rooftop.
"Ini mau pulang mak, takut kak Dimas nanti balik ke apartemen, akunya gak ada."
"Oh iya lah, kirain kamunya mau nginap. Dimas sudah bisa dihubungi?"
Ia hanya menggeleng pelan, "Ya udah, Sonia pamit pulang ya mak."
***
Dan disinilah ia sekarang berada, di apartemen sendiri dan sendiri lagi, hari sudah pukul setengah enam sore, hampir magrib, namun kak Dimas tak juga ada. Ia benar-benar diabaikan.
Dadanya benar-benar sesak. Ia bukanlah tipe wanita yang dengan gampang mencurahkan segala isi hati, tidak. Dia bukan tipe seperti itu. Alih-alih curhat ke orang lain, ia lebih senang memendamnya sendirian. Dan saat ini, ia sudah berada pada titik klimaks dimana hati sudah tidak bisa menampung rasa kecewa lagi.
__ADS_1
Masih mengenakan kebaya dan baju wisudanya, ia meringkuk sendiri didalam kamar, dilantai yang dingin, memeluk lututnya, menangis.
Entahlah, bukan ini yang ia mau. Pernikahan macam apa ini. Ia lelah, selalu merasa diabaikan oleh pria itu. Dia sendiri, dalam kegelapan. Bahkan rasa kecewanya bisa mengalahkan rasa takutnya akan gelap. Bayangan pernikahan yang hangat, minum teh disore hari bersama sang terkasih, saling membangunkan untuk sholat lail, bercanda dan bercerita setiap malam sebelum tidur layaknya pernikahan sakinah seolah menguap di langit-langit kamar.
Itu semua tak pernah terjadi selama pernikahannya. Ia menangis dalam diam, ia frustasi sebab tak pernah bisa mengungkapkan rasa kecewanya, ia benci dirinya yang seperti ini, ingin menjerit melampiaskan kecewa yang telah memuncak di ubun-ubun tapi tetap tak bisa, tangisnya telah berubah menjadi isakan yang tertahan sambil mencengkram erat tungkai kakinya, membenamkan kepalanya dalam.
.
.
.
Dimas
Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke Mabes Polri, ada rapat dan ia diminta mewakili dari Polsek bersama wakapolsek. Sempat mencium Sonia sebentar.
"Sudah rapat kakak nyusul kesana." Janjinya ke istri.
Namun rupanya, acara tak bisa diprediksi, ada kunjungan bapak Kapolri terkait upaya penyerangan Mapolsek beberapa hari lalu setelah rapat. Pukul lima sore semua kesibukan berakhir, ia mengaktifkan ponsel. Puluhan pesan masuk, namun satu yang menjadi pusat perhatiannya, saat Audrey mengirimkan foto cantik Sonia yang tersenyum melambai, manis memakai toga.
Ia mencoba menghubungi nomor Sonia, namun tidak aktif, kemudian menelpon amak.
"Sonia sudah pulang ke apartemen Dim, tadi kesini." Suara amak terdengar diujung telpon.
Dengan gerakan cepat ia memutar kemudi menuju ke apartemen, namun sempat mampir sebentar ke kios bunga, membeli dua buket mawar merah dan kuning, meletakkannya hati-hati dibangku belakang.
Adzan Maghrib sudah terdengar sayup-sayup, namun ia masih dijalan, terjebak macet. Pukul tujuh malam ia baru sampai, aneh pintu apartemen tak terkunci. Namun ruangan gelap, tak satupun lampu yang hidup.
"Sonia?"
Hening... tak ada tanda-tanda istrinya ada di apartemen, lagi pula jika Sonia ada, tak mungkin semua lampu mati, gadis itu takut gelap. Dengan gerakan cepat ia menghidupkan lampu ruangan satu persatu, dan menelpon Audrey.
"Assalamualaikum."
"Waalikumsalam, iya kak?" Suara Audrey.
"Sonia ada disana?
"Tidak, tidak ada. Sore tadi pulang bareng amak dari sini, mungkin masih dirumah amak."
Tidak...Sonia tidak ada disana...kemana gadis itu...
Tak ingin membuat Audrey panik, ia mematikan telpon dan masuk ke kamar. Kondisi kamar tak jauh beda dengan ruangan sebelumnya, gelap. Ia memencet saklar lampu, dan.
Degggg...
"SONIAAAAA.!!! Sayang!!!"
To be Continue...
__ADS_1
Happy reading yaaa....