The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Road to Season 2....


__ADS_3

Aurora


Ia menghembuskan nafas pelan, menyenderkan punggungnya malas di bangku tunggu. Penerbangan di delay sebab cuaca memburuk. Terjadi badai salju yang tak bisa di prediksi.


Delay begini tentu bukan sesuatu yang membuat penumpang senang, akan ada banyak hal yang tertunda. Tapi tidak begitu dengan yang ia rasakan, ia sangat bergembira dengan kondisi ini.


Hampir lima tahun ia tidak pulang dan sengaja tak ingin pulang. Entahlah, padahal sudah lama sejak kejadian paling memalukan sepanjang sejarah hidupnya, kejadian itu telah tertinggal jauh dibelakang, seharusnya sudah ia kubur dalam- dalam.


Tapi tetap saja, ketika sesuatu yang mengharuskannya untuk pulang telah membuka luka memalukan itu lagi.


"Ra, pokoknya mbak gak mau tau, kamu harus pulang di hari nikahan mbak nanti, gak ada alasan, titik!" Suara mbak Ara sukses membuatnya pening.


Tadinya ia sudah menyusun alasan untuk tidak bisa pulang, tapi mama dan papa ikut-ikutan memborbardirnya. Pun mama Sonia dan papa Dimas juga menelponnya.


Dan disinilah sekarang ia berada, terjebak penerbangan yang delay. Ia sangat berharap penerbangan ini malah dibatalkan, agar ia bisa mengulur waktu untuk tidak bertemu pria itu.

__ADS_1


A man who .... Arrgghhhh...


"Maafkan aku Rora... tidak seharusnya jadi begini, kamu udah aku anggap seperti saudara sendiri, sama seperti mbak Ara. Seperti itulah kamu dimataku."


Ia tersenyum kecut mengingat ucapan pria itu, shhit.. bodoh sekali ia yang terang-terangan mengungkapkan cinta monyetnya. Tunggu, apa masih bisa dikatakan cinta monyet, disaat mereka sudah hampir menamatkan sekolah menengah waktu itu.


Ya Tuhan Aurora, you're stupid ...stupid!!


Dan sekarang ia harus menebalkan muka untuk bertemu kembali dengan pria itu, anak laki-laki satu- satunya kepunyaan mama Sonia dan papa Dimas, Fatih...


Lima tahun tak bersua, yah sejak kejadian itu, ia memilih untuk melanjutkan kuliah kedokteran di Malaysia, dan sekarang tengah menetap sementara di Jepang setelah menyelesaikan CoAs.


Ia dengar dari mama, Fatih masuk sekolah penerbangan lepas lulus sekolah, dan sekarang sudah jadi seorang pilot muda. Sangat bertolak belakang dengan maunya papa Dimas yang ingin Fatih mengikuti jejak beliau yang seorang polisi.


Akhirnya pria itu mendapatkan cita-citanya. Dulu waktu di bangku SD, aku sering memergoki Fatih menggambar pesawat, pria itu memang ingin jadi pilot sedari kecil. Ahh, apa asyiknya jadi pilot, pekerjaan yang menurutku paling beresiko dan menantang maut.

__ADS_1


Salju turun makin lebat, tak bisa dipungkiri, disaat yang lain menggerutu dan mengomel, justru aku asyik menikmati momen ini. Sambil memikirkan seperti apa reaksiku nanti saat bertemu Fatih kembali.


Apa sebaiknya pura-pura tidak tau, tidak, tidak mungkin, mengingat betapa dekatnya keluarga kami sejak dulu. Menghindar? kentara sekali, Fatih akan merasa aku masih memendam rasa nanti.


Easy going Ra, anggap saja peristiwa memalukan itu tak pernah terjadi.


"Kopi?" Seseorang telah duduk disampingku. Sontak aku menggeleng pelan, satu prinsip yang kupegang, tak mau menerima sesuatu apalagi makanan dari orang asing.


Pria berseragam pilot itu tersenyum dan mengangguk pelan, sambil menyesap kopinya.


....


Happy reading readers tersayang, apa kabar semua, sehat kan ya....


Sesaon 2 beginning guys...mau nulis disini ajah

__ADS_1


ada yang mau baca gak? kalau ada mau aku lanjut, tapi kalau gak, sampai sini aja hahaaaaa


__ADS_2