
Menyesal tak pernah diawal
Slalu saja hadirnya belakangan
Setelah terjadi barulah sadar
Ku menyesal...
(Diambil dari lagu Menyesal- Desy Ratnasari)
***
Jakarta
Pukul 07.00 WIB
Galih
Perlahan ia membuka pintu kamar dan mendapati Audrey yang juga baru membuka pintu, penampilan nya sudah segar walau masih memakai pakaian yang ia berikan semalam.
"Hmmm..."
"Drey, bisa kita bicara sebentar?"
"Iya dok." Audrey mengikuti nya duduk di sofa ruang tamu.
Lama ia menatap gadis itu, rasa tidak percaya menyeruak dalam dada membuat ia harus menghirup oksigen banyak- banyak untuk menetralisir sesak yang mulai melanda.
"Ada yang ingin kamu bicarakan pada saya, tidak, begini, maksud saya bisakah kamu bercerita pada saya tentang semalam."
"Maksud dokter?" Audrey menautkan kedua alisnya bingung.
"Kenapa kamu bisa berlari di jalan dengan kondisi baju robek, apa yang kamu lakukan semalam?"
"Saya... saya..." Gugup Audrey meremas ujung kaosnya.
"Drey, bisakah kamu berterus-terang pada saya, ceritakan semuanya supaya saya bisa membantu kamu."
"Maksud dokter?" Audrey bertambah bingung.
"Pria yang bersamamu semalam ditemukan tewas di kamar hotel." Ucapnya to the point.
Degg...
Tubuh Audrey menegang dengan wajah yang tiba-tiba memucat, ia menggelengkan kepala pelan, sama sekali tidak menduga dokter Galih mengetahuinya.
"Sudah berapa lama kamu menjalani profesi itu?" Pelan ia berbicara namun sukses membuat Audrey tersentak lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Tidak, tidak, saya bukan pelacur."
"Saya hanya butuh uang, saya cuma butuh uang."Ia mulai meracau dengan tangis tertahan.
"Saya tidak membunuh pria itu, percaya saya dok, saya tidak membunuhnya, saya hanya berlari menyelamatkan diri, saya tidak membunuhnya!"
"Oke, saya percaya, saya percaya kamu tidak membunuhnya, tapi cuma kamu yang ada di lokasi kejadian saat itu dan semuanya terekam kamera CCTV hotel."
"Sudah berapa kali kamu melakukan ini, maksud saya melayani pria-pria hidung belang seperti itu?" Ia menatap intens pada gadis rapuh dihadapannya.
"Saya, sa-saya tidak pernah huaaaa hiks hiks, huaaaa tidak pernah dok, percaya saya." Tangis Audrey pecah sudah, ia terduduk dilantai dengan tubuh yang bergetar, menyesali keputusannya untuk ikut bersama Loony malam itu, sangat menyesal.
__ADS_1
"Apa ini yang pertama?" Ia mendekat, memegang kedua bahu Audrey, entah kenapa hatinya ikut teriris melihat tangis memilukan dari gadis itu.
Perasaan ingin melindungi, mengasihani dan menyayangi muncul tiba-tiba entah dari mana, perasaan itu sama persis kala ia melihat Donna dulu. Apa hatinya serapuh itu jika melihat wanita menangis? entahlah.
"Percaya saya dok, saya hanya butuh uang, semua mendesak, saya perlu uang untuk membayar biaya magang, untuk bayar kosan, sementara hutang saya sudah menumpuk disana- sini, dan disaat yang sama, ibu saya menyuruh berhenti kuliah." Mata Audrey sembab dengan air mata yang terus mengalir.
"Saya khilaf, saya ingin mendapatkan uang dengan cepat bagaimana pun caranya. Tapi saat saya disana, saya jadi takut, saya berubah pikiran, saya menolak pria itu."
"Apa yang kamu lakukan padanya, maksud saya pria itu?"
"Tidak ada, saya bilang saya akan kembalikan uangnya tapi dia tidak terima, dia malah ingin menggagahi saya."
Ia mengangguk pelan, perkataan Audrey benar, baju gadis itu robek di bagian punggung, itu artinya memang pria itu yang mengejarnya lebih dulu.
"Apa ada hal-hal aneh dari pria itu?"
Audrey terhenti dari tangisnya, tampak berfikir lalu menggeleng pelan.
"Tidak ada, hanya saja ia meminum sesuatu, seperti pil, sebelum mendekati saya." Audrey mencoba mengingat kejadian.
"Waktu saya berusaha lari ke pintu, dia menarik baju saya, namun tiba-tiba cengkraman nya terlepas sendiri, saya sempat melihat ia memegang dada bagian kiri, namun karena saya terlalu takut saat itu, saya langsung berlari keluar."
Ia mengangguk lalu menatap dalam pada manik kecoklatan milik Audrey, dengan tangan masih mencengkeram bahu kecil gadis itu.
"Apapun yang terjadi, bicara lah yang sejujurnya nanti." Ia terdiam sesaat, menghirup oksigen banyak-banyak, sungguh dadanya terasa sesak mengatakan ini.
"Polisi sebentar lagi kesini menjemputmu, statusmu hanya sebagai saksi karena belum ada hasil autopsi dari tim forensik."
Tubuh Audrey bergetar hebat mendengar kata polisi, Audrey kembali menangis kuat menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Saya takut, tolong saya dok, saya takut polisi, saya tidak bersalah hiks hiks huaaaa." Audrey menangis dalam, memilukan pada setiap telinga yang mendengar.
"Ya hallo." Suara Dimas terdengar diujung telpon.
"Dim, jangan ada anggota yang naik, cukup kamu saja yang menjemput Audrey, aku tidak mau ada kehebohan di apartemen."
"Oke, baiklah."
"Dim..."
"Ya..?"
"Tolong perlakukan dia dengan baik, dia bukan pelacur." Hatinya tercekat mengatakan itu.
"Dia hanya saksi, jangan khawatir." Ada nada senyum tertahan dari ucapan Dimas.
"Setelah hasil autopsi keluar, dan dia terbukti tidak bersalah maka dia akan segera dibebaskan." Lanjut polisi muda itu.
Ia mengangguk pelan, tak lama sambungan telpon terputus.
.
.
.
Bandung
Pukul 07.30 WIB
__ADS_1
Bayu
"Berangkat den Bayu?" Om Sarif, tetangga Oma menegur nya yang baru mengeluarkan motor dari garasi.
"Eh, iya om, ada kuliah pagi."
"Lanjut." Ucap om Sarif, diikuti anggukan hormat darinya.
Namun baru saja membuka pintu pagar, Oma tergopoh-gopoh memanggil nya dari depan pintu, sontak membuatnya berlari mendekati Oma yang tampak sedang tidak baik-baik saja itu.
"Ada apa Oma?" Paniknya menatap intens sang oma, ibu dari papanya itu.
"Yahya...Yahya, ya Tuhan, Yahyaaa!!" Oma meracau menyebut-nyebut nama papa.
"Papa kenapa?"
"Papamu meninggal, yu."
Ia terlemas, tubuhnya tiba-tiba merapuh.
Innalilahi wa Inna Lillahi Rojiun...
Tak elak matanya berembun lalu mengeluarkan bening air mata yang tertahan, seberapa buruk hubungannya dengan sang papa, beliau tetap papanya, orang yang berarti.
"Kita berangkat ke Jakarta sekarang, mamamu sudah menunggu." Ucap Oma.
Ia mengangguk pelan, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas ranselnya, dilihatnya ada 5 panggilan tak terjawab dari mama, mungkin mama ingin mengabari berita papa tadi.
Ia menelpon balik, saat panggilan kedua, terdengar suara serak mama dari ujung telpon.
"Hallo ma.."
"Bayuuuu, papa meninggal nak, papa sudah tidak ada." Tangis mama pecah, membuat hatinya ikut teriris.
"Papa dibunuh dikamar hotel, papa kamu dibunuh!"
Degg...
Jantung nya seperti terhenti sesaat dari aktivitas memompa darah, dunia berputar hebat, membuat kepalanya tiba-tiba pening.
"Bayu dan Oma berangkat ke Jakarta sekarang, mama tunggu disana." Ia memutuskan telpon.
Sesaat sebelum berangkat, ia menyempatkan untuk menghubungi sang kekasih, namun tidak aktif, ia putuskan untuk mengirim pesan singkat.
[Drey, dimana?]
[Aku pulang ke Jakarta hari ini]
[Papaku meninggal Drey]
To be continue
like, komen jangan lupa yaaa
biar semangat nulisnya nih...
gak minta vote n hadiah kok, cuma minta like n komen ajaaah...
sehat selalu readers tersayang...
__ADS_1