The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Undangan terang-terangan


__ADS_3

Dimas


Tepat saat ia ingin melepas tawa, Sonia masuk kekamar, terheran gadis itu melihat wajahnya yang ingin tertawa namun tak jadi.


"Ada apa?"


"Tidak, tidak ada." Ia mengibas- ngibaskan kerah kaos salah tingkah.


"Gerah ya kak? maaf disini gak ada AC."


"Gak papa kok."


"Tunggu bentar, aku tukar kipas anginnya." Sonia sibuk mengangkat kipas angin dari kamarnya, membawa benda itu keluar.


Tatapannya kembali lagi pada ranjang tua itu. Tidak bisa dipercaya, ranjang ini sangat tidak recommended untuk bereksperimen dimalam pertama, kamar Sonia juga tidak kedap suara, akan sangat beresiko didengar amak dan Agil. Yang lebih parahnya, didengar tetangga.


Tatapannya beralih ke lantai, what?? ngeper di lantai pake tikar hahaaaaa, no no no. Ini malam pertamanya, menyedihkan sekali jika itu dilakukan di lantai.


Sonia masuk lagi dengan membawa kipas angin yang lebih besar, rupanya gadis itu menukar kipas angin kamarnya dengan kipas angin yang berada di ruang tamu.


"Bagaimana?" Toleh Sonia padanya, saat kipas angin telah berputar kencang yang menimbulkan suara cukup berisik itu.


"Son, kita nginap di apartemen kakak aja yuk."


"Kenapa? kakak tidak nyaman disini ya? maaf." Jelas sekali wajah Sonia kecewa, gadis itu menunduk.


"Bukan, bukan seperti itu."


"Terus kenapa ke apartemen?"


"Ti-dak, ehm, iya kita tidur disini." Ia terpaksa menelan saliva sambil menepuk-nepuk seprai.


"Ranjang nya keren."


"Ini Ranjang kakek buyut ku dulu, sudah tiga generasi yang pake ranjang ini, dibuat sebelum kemerdekaan, pas masih masa penjajahan." Sonia bicara bangga.

__ADS_1


Ia hanya magut-magut sambil tertawa dalam hati dan tentu saja sedikit mengumpat "dasar ranjang sialan!"


Sonia mengambil tempat duduk disisinya, terasa canggung sebab kemarin mereka masih menjadi orang asing dan malam ini sudah tidur berdua di satu ranjang yang sama. Dapat ia lihat gadis itu gelisah dan yeah gugup. Sonia bahkan masih mengenakan jilbabnya.


"Berapa lama pacaran sama Elan?" Ia mencoba membuka obrolan ringan, whaat? ringan dia bilang, talking about mantan.


"Hah.. Cuma satu semester." Ucap Sonia, suaranya bergetar.


"Itu foto alumni kalian kan? tadi kakak sempat lihat."


"Oh iya, diambil waktu kelas XII."


"Rambut kamu masih panjang seperti itu?" Ia menunjuk foto.


Sonia menggeleng, "Sudah kupotong sebahu." Tanpa sadar gadis itu meloloskan jilbab kurungnya.


Ia terpesona, sepersekian detik tak bisa bernafas melihat Sonia tanpa hijab, satu kata, 'mengagumkan'. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan berotot lalu menggenggam rambut Sonia, meraba rambut Sonia yang lembut, dan membawa wanita itu mendekat.


"Rambutmu hidup,"Katanya lirih.


Ia melihat lutut Sonia gemetar karena kedekatan mereka. Tubuh Sonia beraroma mawar dan sabun- wangi, bersih dan memikat. Tangan gadis itu bersandar di kausnya dan ia merasakan nafas Sonia tersengal.


Matanya tertuju ke bibir penuh Sonia. "Aku ingin menyentuhmu Sonia," Katanya dengan suara dalam.


Bibir mereka hanya terpisah beberapa senti. Rahangnya menegang ketika harum tubuh Sonia tercium. Wanita itu begitu dekat sehingga denyut nadi Sonia terlihat jelas di leher blusnya. Sonia terkesiap, tubuh gadis itu gemetar hebat, Ia tak dapat menahan tawa kecilnya melihat reaksi Sonia, gadis ini begitu mudah dibaca.


Seolah mencari perlindungan, tangan Sonia yang berjari indah menekan kaosnya dengan gugup. Gadis itu menjaga jarak diantara tubuh mereka. Sonia tidak berani menatapnya, dan ia melihat istrinya itu merasa begitu gugup dan malu.


"Kulitmu indah, meskipun tanpa riasan." Suaranya memberat. " Seperti sutra."


Sonia menoleh, bersitatap langsung dengan mata indah milik gadis itu membuat jantungnya terlonjak, namun ia tidak terburu-buru. Ia tau saat ini Sonia sudah sangat ketakutan, telapak tangan gadis itu sampai berkeringat.


Ia akhirnya memilih bersandar pada kepala ranjang, "Jadi kenapa bisa tidak suka polisi?" Ia berusaha semaksimal mungkin membuat gadis ini nyaman dulu didekatnya.


"Dulu."

__ADS_1


"Jadi sekarang tidak lagi?"


"Entahlah, terkadang masih teringat abah, ada kenangan buruk tentang polisi."


"Kenangan buruk itu seperti bisul." Komentarnya, agak serius. "Akan bertambah parah sebelum dipecahkan."


Sonia mengangguk pelan." Terlalu menyakitkan jika dikenang." Ucap gadis itu lembut.


Dagunya terangkat, dan ia menatap Sonia melewati hidungnya yang lurus dan mancung. " Bisa ceritakan ke kakak?"


Sonia menghela nafas panjang, " Abah pernah ditangkap polisi."


Ia langsung menegakkan tubuhnya dari sandaran, menunggu cerita selanjutnya yang keluar dari bibir sang istri.


"Waktu itu abah jualan bakso keliling, beliau biasa mangkal di depan kampus. Nah hari itu ada mahasiswa nitip buku ke abah, tak tau kenapa, tiba-tiba abah diciduk polisi, ternyata di dalam buku itu ada narkobanya. Abah sempat di sel seminggu, sebelum akhirnya dibebaskan karena terbukti tidak bersalah."


"Kakak tau, kondisi abah sangat memprihatikan saat keluar dari sel. Mereka, para polisi itu menyiksa abah. Sejak saat itu abah sakit-sakitan, Abah meninggal hiks hiks." Air mata lolos dari pipi mulus Sonia, membuatnya secara refleks memeluk gadis itu.


"Apa kakak seperti itu juga? sering mukulin orang?"


"Kadang-kadang." Ia tidak berbohong.


"Itu memang pekerjaan kami, memberi efek jera pada pelaku."


"Tapi tidak semua yang ditangkap terbukti bersalah kan?"


"Yah, setiap profesi memiliki tingkat persentase human error masing-masing kurasa, termasuk tenaga kesehatan juga pernah malpraktek bukan, walaupun itu tidak termasuk yang kita inginkan."


Mereka terdiam, ia merasakan Sonia sudah sedikit rileks dalam pelukannya, gadis itu menyandarkan kepala di dada bidangnya. Perlahan ia mengangkat dagu sang istri menatapnya dalam seolah ingin masuk dan berenang dimata indah milik Sonia, "may I kiss you ?" bisiknya lembut dan menggoda.


Bulu mata Sonia yang lentik mengerjap sempurna, tubuh gadis itu bergetar saat lengannya memeluk makin erat namun bibir Sonia terangkat dengan mata terpejam, yaap undangan terang-terangan Dimas, come on here we goooo...


To be Continue...


Happy reading yaaa

__ADS_1


__ADS_2