
Audrey
Ia mematut dirinya di sebuah cermin besar yang berada dikamar, mengoles wajahnya dengan bedak bayi serta bibir dengan lip balm agar tak kering, terakhir menggulung rambut ke dalam hairnet dan menjepit poninya ke belakang.
Tidak ada lagi Audrey yang memakai lipstik ke kampus, atau Audrey yang berpenampilan norak dengan memakai maskara, eyeliner beserta kawan-kawannya. Audrey justru lebih manis saat berpenampilan sederhana seperti itu.
Ini merupakan hari pertamanya kembali ke kampus, setelah seharusnya ia menyelesaikan magang di Rumah Sakit. Agak canggung ia memasuki gerbang bercat putih itu, pasalnya akan ada banyak pertanyaan nanti yang dilontarkan teman-temannya mengapa ia menghilang bak ditelan bumi kala magang di Rumah Sakit.
Tepat saat berjalan di koridor menuju kelas, netranya menangkap sosok Loony, jelas itu Loony. Gadis itu langsung berbalik ke arah lain menjauhinya. Yah, sejak insiden di kamar hotel itu, Loony tak pernah sekalipun menghubunginya, setidaknya menanyakan kabarnya seperti apa atau bagaimana.
Awalnya ia maklum, mungkin Loony takut terlibat dalam kasusnya kemarin, secara Loony juga berperan sebagai penghubung yang mempertemukan ia dan korban, tapi sampai detik ini, setelah ia dinyatakan tidak bersalah pun, Loony seperti orang asing dari planet lain.
"Jauhi teman-teman yang seperti itu."
"Carilah teman yang bisa membimbing dalam kebaikan."
Suara kak Galih berputar di kepalanya, sejenak ia tersenyum tipis mengingat perlakuan laki-laki itu padanya, jangan salahkan aku kak, jika suatu hari nanti timbul perasaan lain di hati ini, ia bergumam sendiri.
***
Benar saja, saat Audrey memasuki kelas semua mata tertuju padanya.
"Hei, itu Audrey."
"Audrey kamu kenapa tidak lanjut magang kemaren?"
"Ada masalah apa Drey?"
"Ya ampun, kami kira kamu berhenti kuliah?"
"Ya ampun Drey, syukur lah kamu baik-baik saja."
Ia sangat bersyukur, di ketiadaannya, ternyata banyak yang menghawatirkan, kecuali Loony. Gadis itu tampak biasa saja, duduk di bangku paling belakang dan tersudut diruangan. Ia melihat sekilas Loony, tatapan mereka bertemu namun kemudian cepat-cepat Loony mengalihkan pandangannya kearah lain.
Fix, ia memutuskan untuk tidak akan berteman lagi dengan Loony. Dan akhirnya disinilah ia berada, sendiri di sudut musholla kampus, tempat yang bahkan tidak pernah ia kunjungi selama dua tahun kuliah di sana.
Ia mencoba membaca buku Medical bedah yang ia pinjam di perpustakaan pagi tadi sembari menunggu jadwal kuliah selanjutnya, tiba-tiba suara merdu menyapanya.
"Hai."
"Oh, hai." Ia mendongak agar bisa melihat wajah sang penyapa, kemudian cepat-cepat mengubah posisi dari berguling menjadi duduk bersila.
Seorang gadis berhijab dengan hidung super mancung, lesung pipi dalam, mata hitam tajam, fix, mirip artis- artis Turki. Gadis itu bernama Sonia, satu angkatan dengannya, anak rohis kampus, aktif di berbagai kegiatan keislaman kampus, anggota Liqo, kesimpulan ia mahasiswi Sholehah.
Jadi tak usah bertanya kenapa keduanya canggung, sebab Audrey dan Sonia berada di belahan dunia yang berbeda, Audrey di kutub utara dan Sonia dikutub selatan. Dan sekarang mereka tengah dipertemukan oleh kekuatan magnet bumi yang kuat.
"Boleh duduk disini?" Sonia mendekat.
"Oh ya silahkan." Ia menggeser duduknya.
"Tumben kesini." Sonia melirik sebentar bacaannya.
"Nyejuk, ternyata nyaman disini, nyesel juga kenapa gak dari dulu." ia menyeringai garing.
Sonia menyunggingkan senyumnya lalu mengangguk.
"Asli orang mana sih Drey?" dari logat bicara kayaknya bukan asli Jakarta deh."
"Aku Palembang, ayah Palembang, ibu Jawa." Ucapnya.
"Wah deketan dong kita, aku dari Sumatera barat." Sonia antusias.
"Woowww, Samo Kito nih, Samo-samo orang sumatera, uni."
__ADS_1
(Woowww, sama kita nih, sama-sama orang sumatera kakak).
"Hahaaaaa." Keduanya tertawa serentak.
"Panggil uni (panggilan kakak perempuan untuk orang Padang) juga gak apa, aku dirumah dipanggil uni kok."
"Siap uni So- Nia." Audrey mengangguk- angguk kecil.
"Masuk kelas yuk, bentar lagi dosen datang." Sonia berdiri.
.
.
.
Pukul 16.00 Wib
Audrey berlari tergesa menuju gerbang keluar kampus, ia harus cepat pasalnya ini adalah hari pertama ia bekerja sebagai petugas loket pendaftaran di klinik kak Galih, dan ia tidak boleh terlambat.
Dengan cepat ia membersihkan diri sesaat sampai di rumah, mengganti pakaian seragam klinik yang diberikan kak Galih beberapa hari lalu kemudian turun ke bawah ke arah klinik. Jantungnya berdegup kencang sekali, gugup, sangat gugup sampai ia ingin pipis setiap saat.
Di ujung tangga paling bawah, dapat ia lihat kak Galih berdiri disana, memakai kemeja biru Dongker yang digulung lengannya sampai kesiku dengan celana dasar hitam, sungguh mempesona. Audrey sampai menelan salivanya sendiri, gugupnya jadi bertambah, ya Tuhan.
"Sudah siap?" Ucap kak Galih.
Ia mengangguk pelan sambil mengulum senyum.
"Gugup ya pertama kali bekerja." Goda kak Galih sembari berjalan disisinya.
"Sedikit."
"Kerjaannya gampang kok, kamu tinggal mendata pasien yang mendaftar berobat, tanyakan keluhan awal dan catat di kartu berobat pasien."
"Siap."
Mereka sudah sampai di lobi depan, beberapa mengangguk pada kak Galih memberi tanda penghormatan.
"Mbak Fira, ini Audrey, petugas baru yang akan menggantikan petugas bagian loket pendaftaran yang resign kemarin."
"Siap dok." Wanita yang dipanggil mbak Fira itu mendekati Audrey dan mengajak nya untuk mengambil posisi duduk di balik meja.
"Audrey, perkenalkan aku Fira, yang akan jadi partner kerja kamu di loket pendaftaran."
"Iya mbak, mohon bimbingannya ya." Audrey memberi salam hormat.
"Tugasnya sederhana kok Drey, kamu hanya mendata pasien, catat nama, usia, nama suami pasien dan alamatnya, terus data Gravida( kehamilan) keberapa, pernah Partus(kelahiran) berapa kali, adakah Abortus(keguguran). Setelah itu catat keluhan pasien di kartu."
Ia mengangguk paham dan mulai menyusun beberapa kartu serta buku data pasien diatas meja.
Pekerjaannya ringan, mbak Fira juga orangnya baik dan asyik, ia banyak berinteraksi dengan banyak orang yang membuatnya memiliki pengalaman baru dalam hidupnya.
Tepat pukul 08.00 malam loket pendaftaran ditutup, hanya tinggal menunggu beberapa pasien yang masih menunggu antrian periksa.
"Kalau sudah tutup, kita boleh pulang Drey, yuk."
"Oh, gak perlu nunggu sampai habis ya mbak?"
"Ya nggak, data mereka sudah masuk ke dalam semua, kita udah gak ada kerjaan lagi."
Lagi-lagi ia mengangguk sembari menatap pintu praktek kak Galih yang tertutup, berharap apa sih Drey, mulaii...
.
__ADS_1
.
.
Ia naik ke Rooftop yang sudah beberapa hari ini ditempatinya, mandi kemudian bersiap untuk tidur. Baru menaiki ranjang, ponselnya berbunyi.
"Turun..." Suara kak Galih terdengar diseberang telpon.
"Hah??"
"Turun, kakak ada kejutan."
Cepat-cepat ia menyibak selimut kemudian berlari keluar, masih dari atas, ia melihat kak Galih yang berada di halaman bawah, menaiki sebuah motor matic keluaran terbaru..
"Ayo turun." Masih bicara via telepon.
Jantungnya seperti ingin lepas kala menuruni undakan anak tangga satu persatu dan terakhir ia meloncat melewati dua anak tangga sekaligus.
"Oopsss."
"Hati-hati." kak Galih mendekatinya yang masih ngos-ngosan.
"Kejutan apa?" Tanyanya tanpa malu.
"Lihat."
"Motor??" ia menatap kunci motor yang digantung kak Galih diudara tepat di depan wajahnya.
"Motor??" ia mengulangi lagi seolah tak percaya.
"Ya, untukmu."
"Untukku??"
Kak Galih tersenyum dan meletakkan kunci motor ditelapak tangannya.
"Tapi aku, a-ku..."
"Aku tidak bisa mengendarai motor kak."
Lagi, laki-laki itu hanya tersenyum membuatnya oleng ingin pingsan, jantung oh jantung...
"Kakak akan mengajarimu okey." Kak Galih berbisik padanya dan sukses bisikan pria itu membuat nya kolaps.
Ada rasa yang tak biasa
Yang mulai kurasa,
yang entah mengapaaa
Mungkinkah ini pertanda
aku jatuh cinta
Cintaku yang...
(Cinta Pertama- Mikha Tambayong*)
To be Continue...
Happy reading
makasih like, komen dan hadiah yang diberikan kepada othor sejauh ini yaaa..
__ADS_1
makasih banyak-banyak...
sehat selalu, lancar rezekinya dan selalu dalam perlindungan Allah SWT, aminnnnn