The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Istikharah Cinta


__ADS_3

Bersaksi cinta diatas cinta


Dalam alunan tasbihku ini


Menerka hati yang tersembunyi


Berteman di malam sunyi penuh doa


Sebut namaMu terukir merdu


Tertulis dalam sajadah cinta


Tetapkan pilihan sebagai teman


Kekal abadi hingga akhir zaman


Istikharah cinta memanggilku


Memohon petunjuk MU


Satu nama teman setia


Naluri ku berkata


Dipenantian luahan rasa


Teguh satu pilihan


Pemenuh separuh nafasku


Dalam mahhabah rindu


(Istikharah Cinta- Dipopulerkan oleh grup nasyid STIGMA)


Sonia


Ia pada dasarnya bukanlah gadis lugu yang tak pernah mengenal cinta, dulu sekali sebelum ia memutuskan untuk berhijab dan belajar agama lebih dalam, tepatnya saat duduk di kelas X sekolah menengah atas, ia pun sempat kepincut sama kakak kelas, anak OSN, terus atlet basket sekolah pula.


Sayangnya sang kakak kelas ternyata sudah punya pacar, membuatnya hanya menjadi secret admire saja, menyedihkan. Sempat ditembak dengan teman sekelas juga, dan karena tak enak hati, ia menerima, namun itu hanya bertahan enam bulan. Beranjaknya waktu, saat naik kelas XII, ia mulai mengikuti pengajian rohis sekolah dan akhirnya memutuskan untuk berhijab.

__ADS_1


Demikianlah, hingga sekarang ini, sejak ia berhijab, ia memutuskan semua bentuk pacaran, pedekate, TTM dan sebagainya. Tapi memutus bukan berarti ia terbebas dari problema jatuh cinta dan dijatuhi cinta.


Ia tetaplah Sonia, yang juga bisa terpesona oleh laki-laki, dan tetaplah perempuan yang konon sangat menarik bagi sebagian laki-laki meski sudah berhijab, bahkan banyak yang bilang sedikit memiliki kesamaan dengan Aishwararai, artis Bollywood yang juga mantan Miss world itu.


Ustadz Hannan, sama sekali tak pernah terlintas dipikiran untuk datang kerumah dan mengkhitbah dirinya. Ustadz lulusan universitas Maroko itu memang belum lama menjadi guru ngaji di masjid mereka, tapi karena manis mirip Afghan dan juga sholeh serta pintar, membuatnya hits dikalangan emak-emak dan akhwat Risma masjid. Teman-teman Liqo pengajian nya pasti akan histeris jika tau ustadz Hannan datang kerumah berniat melamar dirinya.


Ia yang baru saja melepas mukena habis sholat magrib hari itu, dikejutkan oleh Agil yang berteriak.


"Samlekom... Samlekom!!!" Bocah itu langsung menghambur ke dapur dimana amak berada.


"Waalaikumsalam, ada apa Gil heboh betul."


"Mak, diluar ada ustadz Hannan, mau kerumah katanya."


Dan tak lama pun memang terdengar suara pintu depan yang diketuk, ia hanya berdiri mematung, mencoba mengintip dari balik pintu, kala suara amak terdengar mempersilahkan seseorang masuk.


Benar itu suara ustadz Hannan, cukup lama ngobrol berbasa-basi, namun belum jelas tujuannya apa. Dan saat ia berbalik ingin masuk lagi ke kamar, suara bass yang tak asing terdengar mengucapkan salam, membuat tubuhnya membeku, itu suara laki-laki yang tadi siang mengiriminya bunga.


Pelan ia menyibak tirai, tidak lebih dari tiga sentimeter, hanya untuk memastikan, dan benar dugaannya, itu kak Dimas, memakai kemeja biru dongker yang sangat pas ditubuh atletis laki-laki itu, serta tampilan parlente khas aparat negara.


Nafasnya tercekat dengan tubuh bergetar hebat kala mendengar tuturan kedua laki-laki itu, bahwa mereka memiliki niat yang sama, ingin mengkhitbah dirinya. Dan ia benar-benar menderita sindrom galau akut saat ini.


Tepat ketika ia benar-benar ingin kembali ke kamar, amak ke belakang sebentar, menyuruhnya membuat dua cangkir teh, kebayangkan gugupnya ia seperti apa. Perjalanan membawa nampan berisi dua cangkir teh kedepan seperti perjalanan meniti jembatan shiroth, salah-salah malah tercebur ke neraka, eh kesandung maksudnya.


Dan ia dapat bernafas lega saat mendengar ustadz Hannan berpamitan pulang, tak lama disusul pula oleh kak Dimas yang izin pulang. Hufffhhh, akhirnya. Ia muncul membantu amak membereskan cangkir sisa tamu ketika pintu depan benar-benar tertutup.


"Ada dua Son, dan dua-duanya bibit unggul." Amak tersenyum penuh arti, yang tentu saja membuatnya pias. Dan ia hanya diam tak menanggapi ucapan amak.


"Aku suka ustadz Hannan, tapi aku lebih suka sama oom polisi ganteng, sama oom polisi ganteng aja ya ni!" Agil pun ikut-ikutan bersuara lantang.


"Huss, anak kecil gak boleh ikut-ikutan." Amak mengacak rambut Agil dan ia hanya bisa mendesah pelan, memilih untuk masuk kamar.


Dan ternyata amak menyusulnya sampai dikamar, duduk disisi ranjang, menggenggam tangannya erat. " Sholat istikharah jika dirasa bimbang, minta petunjuk ke Allah. Dua-duanya baik, tapi pilihan Allah tentu yang terbaik."


Ia hanya mengangguk pelan, mencoba tersenyum, "Kak Dimas duda Mak." Entah mengapa ucapan itu yang malah keluar dari mulutnya.


"Duda?" Ulang amak, dan ia mengangguk.


"Putrinya satu, usia 4 tahun, tapi tinggal sama mamanya kak Dimas."

__ADS_1


"Istrinya?"


"Istrinya meninggal waktu melahirkan."


Dan amak mengangguk pelan tampak tak begitu mempersalahkan status kak Dimas, "sholatlah, tentukan pilihan jika kamu sudah memantapkan hati, amak selalu mendoakan yang terbaik untuk anak amak."


Amak kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu, mencoba memberinya waktu untuk berfikir, tepat saat ia ingin memejamkan mata, ponselnya bergetar, tanda sebuah pesan masuk, tertera sebuah nomor baru.


[ Assalamualaikum, ukhti]


Jantungnya berdegup kencang, antara ingin membalas pesan itu atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk membalasnya.


[Waalaikumsalam, ini siapa?]


[Saya Hannan, mengganggu kah?]


Degg...


[Tidak, ada apa ya?]


[ Maaf jika mengganggu, saya cuma ingin menyampaikan, mohon ukhti pertimbangkan baik-baik niat baik saya tadi. Kalau gitu selamat istirahat ukht, lagi sholat kan?]


[Kenapa?]


[ Boleh saya kirim pesan nanti malam untuk mengingatkan sholat lail?]


[Maaf, HP saya off setelah jam 10 malam]


[ Di on dong]


[Oke, missed call aja , Syukron]


[ Sama-sama, Nighty night, ukhti]


Hahh???...


Seharusnya happy kan, ada pria perhatian ingin mengingatkan sholat malam, bukankah tipe seperti ini yang diidam-idamkannya sejak dulu. Tipe pria paham agama yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan. Tapi mengapa ia berharap kak Dimas yang seharusnya berkirim pesan seperti itu padanya. Sejak kapan otaknya konslet, hanya karena pria itu mengiriminya bunga, no no.


Kak Dimas bahkan tak pernah menghubunginya sejak datang kerumah malam itu, ia seperti tertelan air bah, pria itu menghilang...

__ADS_1


To be Continue...


Happy reading yaaa


__ADS_2