
Aurora
Satu bulan telah berlalu sejak insiden di Bali. Kehidupannya normal kembali. Seperti biasa berangkat ke Rumah Sakit sesuai jadwal kerjanya, pulang lagi ke apartemen, belanja keperluan dapur di minimarket bawah, atau kadang ke ke pasar tradisional Sapporo, nothing special.
Dan Abi benar-benar tidak pernah menghubunginya lagi, terkadang ia hanya bisa tersenyum getir. Ia sudah tidak peduli. Hidupnya sekarang hanya untuk dirinya saja.
Fatih masih sering menghubunginya, hampir setiap hari malah, hanya untuk sekedar mengatakan jaga kesehatan, jangan lupa makan. Dan ia sangat berterimakasih untuk itu, ia tahu Fatih mungkin merasa kasihan padanya, tidak lebih. Cuma Fatih satu-satunya orang yang tahu rahasianya saat ini.
Kontraknya di Sapporo tidak sampai dua bulan lagi. Dan ia memutuskan akan pulang ke Indonesia setelah semua berakhir. Papa sudah mengultimatum nya beberapa kali untuk tidak memperpanjang kontrak, dan ia sudah menyetujuinya.
Yah, pulang ke rumah, mengurus Rumah Sakit papa adalah pilihannya saat ini. Namun terkadang rencana yang telah disusun sempurna harus buyar saat ia lagi-lagi mendapati kenyataan pahit dalam hidupnya.
***
Ia memang sudah curiga dengan kondisi tubuhnya saat ini, dan ia bisa merasakan perubahan itu, namun ia menampik, tak ingin berpikiran kearah situ. Namun fakta bahwa ia sudah telat datang bulan selama dua minggu, cukup membuktikan kekhawatirannya.
Ia sampai lupa caranya bernafas.
Dengan mata tertuju ke test pack yang terletak diatas wastafel. Ia mencoba menghitung detik demi detik yang berlalu begitu lama. Rasanya sudah seperti seabad sejak ia mencelupkan test pack itu kedalam wadah urin. Tapi hasilnya belum terlihat.
So, it's false alarm?
Nafasnya tercekat saat melihat garis di sana, bukan satu melainkan dua, two line...
Sambil gemetar, ia merebahkan tubuh di sofa, menengadah. Ia memutar ulang semua kebersamaan yang ia lewati dengan Abi. Ia bingung...
Fatih benar, Abi tidak mungkin ingin bertanggungjawab. Sejak kejadian di Bali, pria itu bahkan tak pernah muncul lagi. Tak terasa air mata mengalir menerobos kelopak matanya.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan. Berharap hasil test pack salah dan ia tidak hamil. Tapi bisa saja hasil test pack itu salah kan?...
Namun ketika dokter obgyn mengkonfirmasi hasil tes yang ia jalani keesokan harinya, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Disatu sisi, ia sangat menyesali perbuatannya dan mengutuk dirinya sendiri. Tapi saat ia menatap pantulan bayangannya di cermin. Ia bisa merasakan munculnya rasa sayang terhadap janin yang tengah tumbuh di rahimnya.
Ia menghabiskan waktu berjam-jam duduk di taman, sekadar membunuh waktu dan memikirkan tindakan yang akan diambil selanjutnya.
I'm alone...
Ia sendirian dalam menjalani kehamilan ini.
Ia tidak ingin datang ke hadapan Abi dan melemparkan fakta ini pada pria itu. Abi tak akan mau menerimanya, Abi pria bebas yang tak ingin terikat. Terbukti sampai saat ini, Abi tak pernah datang lagi padanya.
Ia juga tak akan menceritakan ini pada siapapun, termasuk Fatih. Ia tidak butuh belas kasihan dari pria itu. Sudah cukup Fatih mengasihani nya sampai detik ini.
Lebih baik ia sendiri...
Ia bisa menjalani ini sendiri.
Dengan pemikiran itu, akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Perlahan ia mengumpulkan keberanian, sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Tapi semuanya langsung buyar ketika ia mendapati sosok Abi menunggu di depan apartemennya. Ia hampir limbung kalau saja tidak ditangkap oleh pria itu.
"Are you okay...?"
Dengan cepat ia menguasai diri, menatap tajam ke arah Abi. Setelah sebulan tidak muncul, mengapa pria ini datang.
" I need to talk to you."
"Nothing's going on between us." Ucapnya dingin.
"I know I hurt you, but I 'll explain, please."
Yah, Abi benar. Setidaknya ada yang harus pria itu jelaskan padanya.
***
Abi duduk disofa berseberangan dengannya.
"I'm sorry Rora, really sorry..."
"Aku tidak menduga kalau sepupumu benar-benar akan membunuhku pagi itu."
Ia terkesiap, "Fatih..?"
"Fatih benar-benar marah, dan memang pantas seperti itu. Butuh tiga minggu untuk memulihkan tubuhku, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa."
Ia hanya diam mendengar, tanpa berniat memotong pembicaraan Abi.
'Maafkan aku Rora..."
Yah setidaknya Abi meminta maaf. Namun ia masih ragu untuk mengabari Abi tentang kehamilannya, ia takut Abi akan menolak anak ini.
Ia hanya menghembuskan nafas pelan, diliriknya Abi yang tampak lelah, dengan wajah tak secerah saat terakhir mereka bertemu, masih dibalut seragam pilot, Abi menyandar ke sofa. Ia bisa menerka bahwa pria ini langsung ke apartemennya selepas dari bandara.
"Mau makan?" Ucapan itu melesat, mencuri keluar dari bibirnya secara tiba-tiba.
Abi terduduk, "Boleh.." Ujar pria itu akhirnya.
Ia sempat mengganti pakaian sebelum menyiapkan makanan di dapur.
.
.
.
Abi
Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa bertemu lagi dengan Aurora. Walau suasana canggung diantara keduanya tercipta sejak kejadian naas di resort waktu itu.
__ADS_1
Sesungguhnya tubuhnya amat lelah, namun saat Rora menawarinya makan, ia langsung terduduk. Mungkin ini awal untuk memangkas kecanggungan diantara mereka.
Sementara Rora berganti pakaian dikamar, ia berjalan ke kamar mandi berniat untuk cuci muka. Dipandanginya sebentar wajah yang tampak kuyu di depan cermin. Namun matanya tertuju pada sebuah benda pipih panjang yang tergeletak di atas wastafel.
Ia sangat paham benda apa itu. Dan tidak butuh otak genius untuk membaca apa arti dua garis merah yang terpampang disana.
Tangannya bergetar meraih benda tersebut dan membawanya keluar, tepat saat itu Rora berjalan ke arah dapur. Tatapan mereka bertemu.
"Are you pregnant with my child, Rora?"
Mungkin Rora tidak menduga pertanyaan itu keluar dari bibirnya. Gadis itu mundur beberapa langkah..
"How.. how... did you know?"
Ia mengangkat benda pipih itu ke udara, dan Rora berusaha merebutnya.
"what are you doing? please, tell me everything."
Perbedaan tinggi yang kontras membuat Rora kesulitan meraih benda tersebut. Akhirnya gadis itu menyerah.
"Ya, aku hamil. I 'm pregnant."
"And I'm not sure that you want her." Ucap Rora pelan.
"Her!"
"Our baby!"
"Rora, come on..what do you think." Ia berdecak frustasi mendapati pemikiran dangkal Rora yang mengira ia tidak menginginkan bayi itu. Ia sangat menginginkan nya lebih dari dirinya sendiri.
"I love you Rora..." Ia ingin sekali memeluk mahluk yang ada didepannya ini dengan pelukan terhangat yang pernah ada.
"I have Rora."
"I'm gonna be a father."
"Father... I can't believe it." Ia terkekeh sendiri.
Rora masih mematung mencerna setiap reaksi yang ia tunjukkan. Ekspresi gadis itu sulit dibaca, tapi apapun itu, ia bahagia. Ia berusaha meraih tangan Rora dan menggenggamnya erat.
"I'll marry you, okay."
"Why don't we forget about our past and think about our future?"
Perlahan ia melihat Rora mengangguk pelan.
To be Continue
Happy reading...
__ADS_1