The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Tamat


__ADS_3

Sonia


Enam Minggu sudah berlalu sejak operasi, dan kondisinya terus membaik. Jahitan di dada dan bagian perut sudah sembuh, walau masih terasa sedikit nyeri.


Ia tidak mungkin menyusui bayinya, dan itu membuatnya benar-benar kecewa. Tapi itu juga berarti kak Dimas harus memberikan susu botol untuk bayinya, dan pria itu sangat suka melakukannya.


Kak Dimas membantunya berdiri dari sofa, atau berbaring ke tempat tidur, dan memapahnya untuk berjalan.


"Sekarang ini yang bisa kulakukan hanya berjalan. Mereka membelah tubuhku menjadi dua, kakak tahu, aku memiliki banyak bekas luka." Ucapnya suatu sore, sebab masih sangat bergantung pada kak Dimas, membuatnya frustasi.


Kak Dimas menyeringai. "Aku suka bekas lukamu, seksi."


Kedua alisnya terangkat,"Ya ampuunn...!"


Kak Dimas mendekat, meraihnya dan mengecup kedua kelopak matanya dengan lembut, teringat olehnya ketika kak Dimas melakukan itu tepat sebelum para dokter mendorongnya masuk ke ruang operasi.


Ia masuk dalam pelukan suaminya, dipenuhi kebahagiaan. Ia tersenyum puas, mengabaikan sengatan samar yang terasa dijahitan lukanya, lalu mengecup bibir suaminya hangat dan lembut.


"Terimakasih, karena telah hadir dalam hidupku."


"Aku juga,, terimakasih karena telah bertahan untukku dan anak kita."


"Hmmm, setelah ini kita akan melewati tahun tahun bersama dengan penuh kebahagiaan."


"Dan cintaku padamu akan berkembang setiap tahunnya." Kak Dimas mengulum senyum.


"Dan kita berdua bisa bicara pada mawar- mawar ku, tentunya." Ucapnya geli.


"Selama tidak ada orang lain yang mendengar." Kak Dimas setuju. "Aku bekerja di kepolisian,"Pria itu mengingatkan. "Tidak ada seorang pun boleh melihatku sedang bicara pada tanaman."


"Oh ya?? kakak lupa, dulu kakak bicara pada mawar ku diteras." Sambil memainkan ujung telunjuknya di dada sang suami, membuat pola-pola abstrak pada dada bidang kak Dimas yang tertutup kaos.


"Kamu berubah sejak operasi, sedikit genit."


"Benarkah?" Ia menegakkan tubuhnya sedikit dan mulai mencium bibir kak Dimas lagi. "Bagaimana dengan ini?"


Kak Dimas menyeringai. "Hebat. Jangan berhenti."

__ADS_1


Ia kembali mengecup kak Dimas, kali ini dengan lebih bergairah."Lebih baik?"


Kedua lengan kak Dimas merengkuh tubuhnya, "Benar-benar gila, aku kecanduan." Bisik pria itu.


Ia tersenyum dibibir kak Dimas, mencengkeram rambut suami dengan jemarinya. " Aku juga."


Keduanya berhenti bersamaan saat terdengar tangis bayi Fatih dari dalam kamar. Mereka berdua beranjak ke kamar.


"Owhh, pup ya sayang." Ia menatap sang bayi. Biasanya semua akan dilakukan oleh mbak Weni, baby sister yang dipekerjakan kak Dimas 24 jam merawat bayi Fatih. Tapi hari ini mbak Weni izin satu hari, ada urusan.


Ia memukul pelan pundak kak Dimas. " Yang harus melakukannya adalah seseorang yang bisa menggendong Fatih, dan aku belum bisa melakukan itu."


Kak Dimas tampak ragu.


"Dengar, pria kuat, Intel kepolisian berbakat, kakak bahkan seorang pengayom masyarakat..."


"Dalam buku peraturan tugas kepolisian tercantum bahwa para anggota reskrim tidak harus mengganti popok." Kak Dimas memberitahunya dengan gaya angkuh. " Paragraf 314, bagian dua, halaman 215."


"Sama sekali tak ada aturan semacam itu." Ia mengejek.


"Ya, tentu saja ada. Kakak akan pergi sekarang juga dan mencarinya, sementara kamu mengganti popok. Kamu tidak perlu mengangkat Fatih." Tambah kak Dimas penuh harap.


Kak Dimas tidak mengatakan padanya, tapi mama pernah cerita bahwa ketika dihadapkan pada popok kotor pertama, waktu Ara masih bayi, kak Dimas langsung muntah bahkan sebelum sempat mengganti popok.


Pria itu mengulurkan tisu untuk mengelap dan popok baru padanya, pandangan kak Dimas mengungkapkan segalanya.


Ia memandang suaminya dengan masam.


Kak Dimas mengangkat bahu. " Kamu mengelap, aku memasang popok?"


Tawanya meledak seketika. Sambil menggeleng, ia melakukan pekerjaan kotor bagiannya dan membiarkan kak Dimas memasang popok baru pada Fatih.


.


.


.

__ADS_1


Satu Tahun Kemudian...


Dimas


Hari raya tahun ini benar-benar sangat berkesan untuknya. Setelah selama seminggu berkumpul di Bandung, di kediaman papa. Tentu saja dengan amak dan Agil ikut serta. Mereka pulang ke Jakarta.


Hari ini akan berkumpul dengan Galih dan keluarga nya, tak lupa dokter Coltrain juga hadir. Ia sangat berhutang budi pada kedua orang tersebut.


Bagaimana pun, berkat pertolongan Galih dan dokter Coltrain lah, Sonia sehat dan memiliki katup jantung yang baru.


Dan disinilah mereka sekarang berada, di Roof top pasangan Galih dan Audrey. Mereka mengadakan pesta keluarga. Ia, Galih dan dokter Coltrain menyiapkan panggangan. Sementara para istri sibuk dengan anak-anak.


"Hei lihat, anakmu agresif sekali!" Ia menyipitkan mata melihat Aurora mencium Fatih hingga anak itu menjerit-jerit.


" Mereka cocok, bagaimana kalau kita jodohkan." Galih tertawa.


"Sepertinya anakku tidak begitu suka dengan wanita yang lebih tua darinya." Ia balas tertawa.


......THE END......


Ucapan terimakasih 🤗🤗🤗


Teruntuk Tujuh belas readers tersayang yang selalu mengikuti cerita The Rooftop Girl dari episode satu sampai terakhir.


Aku ucapkan terimakasih banyaaak telah bersedia membaca karya receh ku. Karya yang keberadaannya seperti butiran debu diantara ratusan karya di Noveltoon, yang memiliki jumlah readers paling sedikit sebab mungkin tidak menarik untuk dibaca.


Tapi kalian dengan senang hati mau membacanya, terimakasih yaaaaa😘😘😘😘


Untuk yang sering memberi komentar pada karyaku, aku pengen peluk kalian satu satu boleh??🤭🤭🤩, salam hangat dan salam kenal yaa dari aku Gusmandora.


Semoga readers tersayang selalu diberi kesehatan, kekuatan iman, lancar rezekinya, terakhir salam untuk keluarga dirumah.


Dadaaaadaaaaaaaa


See you...


Berjumpa lagi di karya baruku "Cinta Semusim."

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2