
Audrey
"Lon, Loony. Jangan tinggalin aku sendirian." Ia menggenggam erat lengan gadis itu saat Loony mulai beranjak mengikuti Tante Reka.
"Drey, tante Reka lagi ngurusin pelanggan buat kamu, aku gak bisa nemenin kamu terus disini, aku juga ada kerjaan lain, kamu pasti bisa oke sayang." Tepuk pelan Loony pada punggungnya yang mulai bergetar entah sejak kapan.
Tidak Audrey, ini tidak benar. Apa yang dikatakan ibu nanti kalau kamu seperti ini, Bayu pasti kecewa, come on masih ada waktu untuk melarikan diri...
Tak henti-hentinya ia meremas ujung dress selutut yang ia kenakan, hatinya kembali berperang membuat tidak saja jiwa namun tubuhnya juga ikut menggigil, bertepatan dengan itu, tante Reka kembali, masih dengan senyum yang bagi Audrey sangat menakutkan dan me- ma-ti-kan!
"Ayo Drey, ikut tante."
"A- yoo Drreeyy, i- kuut taan- tee." Slow motion, begitu lah yang terdengar olehnya, waktu seolah berjalan sangat lambat.
Tubuhnya panas dingin mengikuti wanita itu menuju sebuah kamar diujung lorong, setengah mati ia berjalan menyusuri lorong yang terasa sangat panjang dan pengap di dada, seolah sedang melewati sebuah koridor menuju kematian abadi.
"Kamu tunggu di dalam, nanti akan ada yang datang kesini, layani beliau dengan baik ya, semangat Audrey, CAYOOO!" Tante Reka mengangkat tinjunya ke udara.
Pintu tertutup meninggalkan ia sendiri yang masih mematung, jantung, jangan ditanya, seolah ingin tercabut dari rongga dada, jantung nya memompa dengan kecepatan maksimal membuat tubuhnya memanas sebab semua sistem ditubuh bekerja dengan tidak stabil.
Mondar mandir ia berjalan di kamar itu sambil menggigiti kuku jari gemetar, lamat-lamat sebuah suara yang ia yakini berasal dari sisi hatinya yang berwarna pink terdengar, nuraninya terbangun dari mati suri.
Audrey, pergilah...
Ini jelas salah Drey, kamu bahkan sangat tau itu...
Kamu masih bisa memilih jalan yang benar, pergi dari sini ...
Akan ada banyak jalan serta kemudahan kelak jika kamu bersabar...
Cepat pergi dari sini, sebelum terlambat!!!
Yah, dia berubah pikiran, Audrey ingin pergi dari tempat terkutuk ini secepatnya. Tepat saat ia berjalan kearah pintu, pintu itu terbuka. Seorang pria tua berperawakan tinggi yang ditaksir Audrey berusia sekitar 50an tahun, tidak tidak, mungkin lebih dari itu masuk dan menyeringai padanya.
"Hai sweety."
Audrey menelan ludah kasar, tubuhnya menegang dengan bulu kuduk yang berdiri, sinyal bahaya terus berdenging di otak, mengalirkan informasi ke seluruh organ tubuh untuk siap siaga sebab tubuh dalam keadaan darurat.
Pria itu mendekat, terus mendekat, sementara ia masih tak bergeming, tubuhnya bergetar hebat, peluhnya mengalir di dahi, sungguh definisi nyata dari ketakutan.
"Cantik." Bisik pria itu lembut mengelus pipinya, bau nikotin bercampur alkohol menyapu wajah pucat Audrey.
Kemudian pria itu berjalan ke dekat kulkas, mengambil air mineral dan tampak meneguk sesuatu, yang ditangkap Audrey dari ekor matanya seperti sejenis pil.
"Biar lebih hot sayang."
Audrey bergidik ngeri kala pria itu mendekat lagi, memainkan ujung rambut Audrey yang tergerai.
"Ma-af om, sa-ya be-ru-bah pikiran." Ia berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang ada, menepis halus punggung tangan pria yang mungkin seumuran dengan almarhum ayahnya itu.
__ADS_1
Pria itu berjengit heran, kemudian terkekeh pelan.
"Saya sudah membayar mahal untuk ini."
"Uang nya akan saya kembalikan."Ucap Audrey cepat.
"Kamu kira segampang itu, saya sudah tertarik sama kamu."
TI DAAAAKKKKK!!!
Audrey mendorong pria tua itu dan berlari kearah pintu, naas, ia kalah cepat. Pria itu lebih dulu mencengkeram pundaknya dan dengan kasar menariknya ke ranjang.
"Tidak om, ampuuun, kasihanilah saya." Audrey tergugu, sambil terus memberontak.
Usahanya berhasil, pria tua itu sedikit kewalahan, nafasnya mulai satu satu. Dan Audrey kembali berlari ke arah pintu.
SRAAAKK.!!!!
Dress yang ia kenakan robek dibagian punggung sebab ditarik paksa oleh pria itu, namun detik berikutnya pegangan pria tua itu terlepas dengan sendirinya.
Ia sempat menoleh sebentar melihat om itu tiba-tiba memucat sembari memegang dada bagian kiri. Momen ini tak disia-siakan oleh Audrey, dengan sigap ia membuka pintu dan berlari dari sana.
.
.
.
You find it in the deepest friendship
The kind you cherish all your life
And when you know how much that means
You've found that special thing
You're flying without wings
So, impossible as they may seem
You've got to fight for every dream
'Cause who's to know
Which one you let go
Would have made you…
Dia bersenandung pelan menirukan lirik lagu dari Westlife yang diputar di mobilnya, lagu lawas yang dirilis tahun 1999 itu mengalun syahdu malam itu. Cuaca sangat tidak bersahabat, hujan turun dengan mode deras minta ampun, diselingi guntur dan kilat yang saling menyapa, tidak, mereka sedang bercanda diatas sana.
__ADS_1
Selepas melakukan tindakan operasi caesar malam ini, ia ingin sekali beristirahat, pulang ke apartemen, berendam air hangat dan minum secangkir coklat panas, luar biasa, nikmat manakah yang kau dusta kan Galih, yeah...
Ia memelankan laju mobilnya sebab cuaca yang kian buruk mengganggu ketajaman penglihatan, namun netra nya menangkap sesosok gadis yang berlari ketakutan di sisi jalan.
Audrey...
Diliriknya jam yang bertengger diatas dashboard, pukul sebelas malam, kenapa gadis itu keluyuran di jam segini. Ia menghentikan mobilnya tepat saat Audrey celingukan ingin menghentikan taxi mungkin, penampilan nya berantakan sekali.
"Audrey?" Ia membuka kaca mobilnya, sontak gadis itu terkejut dan mundur beberapa langkah.
"Masuk." Ucapnya mengisyaratkan agar gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Dan Audrey langsung berlari membuka pintu mobil dan mendaratkan tubuh yang sudah basah kuyup itu tepat disisinya mengemudi.
Tubuh Audrey bergetar, wajahnya pucat, dan Ouuchhh bajunya sangat berantakan,robek di bagian punggung. Ia harus menahan jakun yang naik turun lantaran melihat kulit gadis itu yang basah terekspose, satu kata "Mulus". Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan.
"Kamu..?"
"Maaf dok, bisa tolong saya."
"Mau diantar ke mana?" Ia langsung mengerti gadis ini ingin minta antar pulang. Namun Audrey menggeleng.
"Saya... saya tidak bisa pulang sekarang."
Ia mengernyit heran.
"Ada masalah? atau sesuatu telah terjadi?" sambil melirik punggung Audrey, jelas sekali bahwa gadis ini baru saja mengalami sesuatu.
"Saya boleh ikut dokter, malam ini saja, please." Wajah Audrey memohon sambil mengiba.
Maksudnya apa...
Mau ikut kemana?
"Saya-, saya tidak mungkin membawa wanita ke apartemen saya, lebih tepatnya tidak pernah." Hatinya tercekat kala mengucapkan itu.
"Saya antar ke rumah kamu?" Ia mencoba menawar.
"Saya ngekost dok."
"Saya antar sampai kosan mau?"
Hening sejenak...
"Tidak perlu dok, maaf merepotkan, tolong nanti berhentikan saya di halte di depan sana." Audrey paham, sangat paham, dokter Galih pria asing yang bahkan baru dikenalnya beberapa minggu, Audrey terlalu lancang untuk ikut bersama pria ini.
Tapi untuk kembali ke kosan tidak mungkin, pagar kosan sudah terkunci sejak jam 10 malam tadi, sudah peraturan yang tak bisa dilanggar. Loony adalah satu-satunya yang bisa dimintai tolong, tapi setelah insiden malam ini, ia tidak yakin Loony ingin berteman dengannya lagi.
To be Continue...
Happy reading ya...
__ADS_1
like n komen merupakan booster terkuat yang bisa merangsang othor untuk tetap menghalu ria walau sebenarnya sudah jadi hobbi othor menghalu, komen n like cuma berapa biji pun, tetap diterima dengan hati yang meluap-luap, berarti ada yang baca juga hehee
sehat selalu semuanya ya, lancar-lancar rezekinya aminnnnn