
Sonia
Pada percobaan memencet bel yang ketiga kali, akhirnya pintu apartemen itu terbuka, tapi bukan kak Dimas yang muncul, melainkan wanita paruh baya yang sangat cantik dan elegan.
Glekk...
"Drey, kita gak salah unit kan?"
"Nggak kok ni, benar ini unitnya kak Dimas, aku pernah kesini." Audrey pun tampak sama bingungnya.
"Cari siapa ya?" Wanita itu bicara ramah.
"Siapa ma?" Kak Dimas muncul dari dalam, awalnya agak terkejut melihat mereka tapi kemudian tersenyum hangat.
"Ma ini calon kandidat menantu mama, dia sengaja datang buat silahturahmi sama mama, mumpung mama lagi di Jakarta."
"Oh ya, yang mana? ini ada dua."
"Yang pake jilbab, kalau yang ini calonnya Galih." Kak Dimas menunjuk Audrey dengan dagunya.
Ia dan Audrey dibuat syok bukan main mendengar ucapan laki-laki itu, Sesaat Audrey menatap nya penuh tanda tanya Seolah berbicara lewat tatapan mata, mereka saling pandang.
"*Sejak kapan uni punya hubungan sama kak Dimas, kok aku gak tau?"
"Nggak Drey, jangan percaya. Dia bohoong*."
Ia menggeleng pelan ke arah Audrey yang terus melayangkan tatapan intimidasi padanya.
"Ya ampun, ayo masuk masuk." Wanita paruh baya itu membuka pintu lebar-lebar yang seketika memutus kontak matanya bersama Audrey.
Baru masuk satu langkah, ia kembali dikejutkan dengan kemunculan balita berusia empat tahun, pipi gembul, rambut kuncir dua, berlari kecil kearah mereka.
"Itu anak nya Dimas." Ucap wanita yang di panggil mama oleh kak Dimas tadi.
Whaat?? apa-apaan ini, kak Dimas sudah punya anak istri!! jadi kemana istrinya sampai-sampai pria itu menyepik seorang gadis layaknya bujangan.
Matanya nanar menelusuri sudut-sudut ruangan, takut tiba- tiba istri kak Dimas datang dari segala arah. Tubuhnya mendadak kaku, dia oleng pemirsa. Datang ke apartemen kak Dimas, sungguh keputusan yang sangat keliru.
"Ayo salam sama aunty." Suara mama kak Dimas.
Bocah itu menurut, menyalami ia dan Audrey satu persatu. Lalu tersenyum manis kearahnya, cukup lama hingga sesuatu seperti menghangat tiba-tiba mengalir dalam dadanya, duuhh manisnya.
"Kamu gak kerja Drey?" Kak Dimas dengan tak tahu malunya mendaratkan bokong disofa tepat disebelahnya duduk.
"Kerja dong, ini tadi baru mau berangkat, tapi uni minta antar kesini."
"Oh ya, kenapa gak telpon, biar aku jemput." Toleh kak Dimas padanya, yang ia tau tengah menahan tawa saat ini, benar-benar sukses membuatnya mati kutu. Dan ingin sekali ia meremas mulut iblis itu, bisa-bisanya pria ini...
"Ya udah aku pamitan dulu ya, mau kerja soalnya." Audrey berdiri.
"Aku juga." Ia ikut-ikutan berdiri pula membuat semua menatap padanya hingga ia salah tingkah sendiri.
"Loh Sonia kan baru datang nak, kok mau pulang." mama kak Dimas menatapnya.
Ya Tuhan, tamatlah riwayatmu kali ini Sonia
__ADS_1
Akhirnya ia melepas kepergian Audrey dengan getir, niat hati ingin mengembalikan barang pemberian kak Dimas, malah ia yang terjebak dalam situasi rumit yang dibuat laki-laki itu.
"Anty anty Conia, macuk macuk." Gadis kecil itu menarik-narik bajunya untuk kembali masuk kedalam.
"Namanya siapa sayang?" ia mencubit pipi gembul sang bocah.
"Ala, Ala."
"Namanya Ara." Kak Dimas ikut mendekat ke mereka.
"Ibunya mana?" Akhirnya untuk pertama kali ia berani menoleh ke arah laki-laki itu.
"Maminya udah di syurga."
"Sudah meninggal? sorry." Cepat-cepat ia menunduk.
"Sonia masuk yuk." Suara mama kak Dimas terdengar memanggil.
Wanita paruh baya itu merangkul bahu Sonia, mengajaknya untuk duduk di kursi makan di dapur. Satu hal yang menyentuh hatinya, mama kak Dimas tentu saja wanita kelas atas dan berpendidikan, bisa dilihat dari gayanya, tapi sama sekali tidak angkuh, wanita itu sangat ramah dan terbuka.
"Aduh, mama gak tau kalau Dimas sudah punya calon, tau gitu mama bawain oleh-oleh dari Bandung. Abisnya Son, Dimas ini sibuk terus, pulang Bandung sebulan sekali, kalau gak dikunjungi kayak gini, susah ketemu nya."
Ia hanya menyeringai garing, ingin hati menyanggah bahwa ia sama sekali bukan calon kak Dimas tapi bibir betul-betul kelu, kehilangan segala kata.
"Pulang nya abis makan malam aja ya, kita masak-masak dulu."
"Gak bisa tan, soalnya belum pamitan ke amak dirumah."
"Huss, kok panggil Tan sih, panggil mama sama kayak Dimas. Ditelpon aja amaknya, atau mama yang bicara sini."
"Nggak usah ma, nanti Sonia aja yang telpon." Tak sengaja matanya beradu pandang dengan laki-laki menyebalkan itu, kak Dimas mengulum senyum, apalagi kalau bukan ingin meledek dirinya.
Cepat-cepat ia membuang pandangannya kearah lain.
"Kita masak apa ya Son? tadi pagi mama ada beli daging, ada kol juga, kita masak tongseng kayaknya enak."
Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ara main sama papa dulu didepan gih, Oma sama aunty mau masak dulu."
"Gak mau main sama papa, Ala bantu anty ya?" gadis kecil itu mepet-mepet kearah dirinya.
"Okee, kalo gitu Ara duduk manis disini, aunty potong sayur dulu ya."
"Okeeeyyy."
.
.
.
Cukup lama tiga wanita beda generasi itu berkutat di dapur hingga bau kuah tongseng menyebar ke segala penjuru apartemen. Ia sibuk merapikan meja makan dengan dibantu Ara di gadis kecil yang imut saat suara adzan magrib terdengar sayup-sayup.
Allahuakbar Allahuakbar...
__ADS_1
Allahuakbar Allahuakbar...
"Ma, Dimas ke masjid dulu." Suara kak Dimas terdengar dari arah depan, yang membuatnya sontak menoleh.
Gleekkk...
Pria itu berbeda dari biasanya, tetap mengenakan kaos polo, namun memakai sarung dan peci, dengan sisa air wudhu yang nampak membasahi wajahnya. Cepat-cepat ia menunduk lagi dengan jantung yang berdetak tak terarah. Oh my...
***
"Mukenanya cuma ada satu, kita sholat gantian aja ya." Suara mama kak Dimas.
"Iya ma, mama duluan aja, Sonia masih nyuapin Ara." Yah, gadis cilik itu entah mengapa begitu manja padanya, padahal baru ketemu juga, tapi ia suka sebab imut sekali beda jauh sama bapaknya.
"Son, sholat gih mama udah."
"Iya ma."
Apartemen sebesar ini kenapa cuma ada satu kamar, ia sedikit grogi kala memasuki kamar kak Dimas, dimana mama memanggilnya untuk sholat.
Kesan pertama saat masuk, bau maskulin pria langsung mengobrak- abrik hidung, kamarnya rapi dan bersih, hanya ada ranjang ukuran besar, lemari pakaian dan sebuah meja kerja dengan dinding didekatnya ditempeli kertas-kertas kecil semacam kertas memo.
Cepat-cepat ia melaksanakan sholat, ketika membuka mukena, terdengar suara pintu kamar terbuka.
Nyeess...
Jantungnya mencelos, pria itu berdiri kaku diambang pintu, dengan gerakan tak beraturan ia melipat mukena, meletakkan diatas ranjang dan berjalan kearah pintu keluar.
"Saya mau kembalikan barang yang kakak kasih ke amak dan Agil." Ucapnya saat berpapasan di pintu.
"Kenapa dikembalikan?"
Ia hanya menggeleng pelan sebelum Ara menariknya.
"Anty ama papa makan, Oma tunggu."
.
.
.
"Ma, gak usah, ini kebanyakan." Ia memelas tak enak sebab mama kak Dimas membawakan begitu banyak makanan untuk dia bawa pulang.
"Sesekali, besok mama udah pulang ke Bandung lagi, titip salam buat amak kamu ya." Wanita itu menepuk pelan bahunya, memberi sentuhan hangat dengan memeluknya. Tentu saja adegan ini menambah daftar panjang ketidaknyamanan hatinya.
Ia menelan saliva berkali-kali demi menenangkan hati, mencium Ara lalu mengekor kak Dimas sambil melambaikan tangan.
"Dadaahh anty, dadah anty." Teriak gadis kecil itu mengiringi kepergiannya.
"Ehh tunggu, Sonia." Mama memanggilnya kembali, membuat langkahnya dan kak Dimas terhenti.
"Iya?"
"Ini barang kamu ketinggalan." Mama menyerahkan paperbag yang ia bawa tadi, membuatnya harus mendesah pelan kala akhirnya benda itu berbalik lagi ketangannya.
__ADS_1
To be Continue...
happy reading...