
Abi
Ia menuntun Rora yang tampak gugup saat memasuki pesawat. Yah tepat hari ini, sesuai janji mereka. Ia mengajak Rora terbang bersama ke Jakarta untuk selanjutnya menuju Bali, tempat tujuan opening resort.
Ia dapat melihat gadis itu cemas bukan main, ditambah tatapan- tatapan lapar para crew pesawat yang memandang mereka.
"Sebenarnya dilarang membawa orang asing selain crew ke dalam kokpit." Bisiknya.
"Terus?" Wajah Rora bertambah pucat dan tanpa sengaja menggenggam erat tangannya. Ia sempat melirik sebentar pada tangan yang masih digenggam Rora. Perasaan hangat tiba-tiba menjalari seluruh peredaran darahnya.
"Capt. Abimanyu sudah mengantisipasi ini." Kekehnya pelan. "Aku udah izin ke atasan langsung."
Rora mengangguk, wajah cemas gadis itu tampak sangat menggemaskan dari jarak dekat.
.
.
.
Aurora
The first, untuk pertama kali dalam hidupnya masuk ke dalam area pribadi pilot di pesawat. Ia tidak bisa menyembunyikan kegugupan, pun sampai pesawat lepas landas.
Inilah pemandangan paling menakjubkan yang pernah ia lihat. Memandang langit tanpa batas dan matahari yang perlahan terbenam, mampu membuatnya meneteskan air mata saking terharunya.
Sejak saat ini, ia mengerti mengapa baik Abi maupun Fatih sangat mencintai pekerjaan mereka. Pengalaman yang tidak mungkin bisa dialami semua orang dan melihat langit tanpa batas itu mengalirkan ketenangan yang luar biasa.
"Thanks..." Bisiknya pelan pada Abi yang fokus pada panel-panel dihadapan mereka. Entah mengapa melihat Abi dengan tampilan seragam pilot yang serius saat mengendalikan pesawat, membuat laki-laki itu tampak sangat berbeda.
Abi menoleh sekilas dan tersenyum misterius padanya, senyum yang sangat sulit ia artikan sampai saat ini, kala Abi menatapnya seperti itu.
***
Entah sudah berapa lama ia tidak menginjakkan kaki di tanah Bali. Kalau tidak salah ingat dulu waktu SMP, saat rekreasi keluarga. Bersama Fatih dan keluarga nya juga.
Ah, mengingat Fatih, ingatannya kembali ke beberapa hari lalu. Dimana pukul sembilan malam pria itu menelpon hanya untuk mengucapkan selamat tidur dengan nada kaku luar biasa, persis seperti seseorang yang sedang menanyakan alamat.
Aneh, tidak biasanya. Fatih memang terkesan cool, tidak banyak bicara sejak dulu alias cuek, jadi saat ia menelpon untuk mengucapkan selamat tidur rasanya ajaib sekali. Kesambet setan apa ya kira-kira tuh cowok. Ia menggelengkan kepala.
"Nah ini kamar kamu, istirahat aja dulu. Kita punya waktu dua malam disini." Abi membuyarkan lamunannya.
Abi meletakkan kopernya tepat disisi tempat tidur."Kalau ada apa-apa hubungi aku ya, aku mau prepare ke lokasi acara untuk besok, kamu tiduran aja dulu."
Dan ia hanya mengangguk, tentu saja sekarang ia sangat ingin tidur. Tubuhnya remuk setelah menempuh perjalanan panjang dari Sapporo.
Ia menyempatkan menelpon mama sebelum beranjak tidur, namun ternyata kedua orang tuanya sedang dirumah Mbah kung di Sidoarjo. Membuatnya membatalkan niat untuk ke Jakarta lepas dari Bali.
***
Ia terbangun lantaran suara ketukan yang berasal dari pintu kamar. Masih dalam kondisi yang tidak sepenuhnya sadar setelah beberapa jam tertidur, ia membuka pintu, seorang housekeeping berdiri disana, memegang satu buah paper bag ukuran jumbo.
__ADS_1
"Ini dari mas Abi, mbak Rora disuruh siap-siap katanya, nanti dia jemput."
Ia mengangguk singkat, "Makasih ya."
Dibukanya paper bag berlogo branded ternama itu, sebuah gaun yang pastinya berharga fantastis, bisa dilihat dari desain serta material yang begitu halus dan lembut. Lagi, ia merasa tersentuh terhadap perlakuan Abi yang manis ini.
.
.
.
Abi
Ia sudah siap mengenakan setelan jas berwarna hitam saat menjemput Rora. Gadis itu mengenakan gaun berwarna putih gading dengan aksen mutiara di sepanjang leher. She's beautiful...
"What?" Rora memergokinya yang memandang gadis itu tanpa berkedip.
"You're beautiful." Dan detik itu juga dapat ia lihat wajah Rora bersemu merah.
Tadinya ia ingin mengenalkan Rora pada Daddy and Mommy, tapi mom sakit hingga keduanya membatalkan untuk pergi ke Bali.
Acara opening berlangsung meriah, ia menggenggam tangan Rora disepanjang acara. Sesekali melempar senyum pada gadis itu dan di balas senyum dari Rora.
Malamnya, selepas makan malam teman-temannya ngajak ke Seminyak ikut clubbing. Mereka butuh hiburan jadi memutuskan untuk clubbing.
"Gak ikut mereka?" Rora berdiri disampingnya entah sejak kapan.
"Aku tidak tau duniamu seperti apa sebelumnya, tapi baguslah, temani aku disini." Rora ikut bersandar ke pagar kayu.
"Tunggu, kita juga bisa bersenang-senang disini." Ia kedalam dan kembali dengan membawa beberapa kaleng bir dan minuman dingin.
"Bir?" Rora mengernyitkan dahi dalam.
"Ini minumanku. Yang kamu ini." Ia menyodorkan kaleng minuman cincau ke arah Rora. Gadis itu terbahak.
Alih-alih mengambil kaleng cincau, Rora malah meraih kaleng bir. Membukanya dan sok-sokan langsung meneguk minuman tersebut dan,
"Oeergghhhh." Gadis itu menyemburkan minuman dimulut tepat kearahnya. Ia yang tak bisa menghindar hanya pasrah saat kaus yang dikenakannya basah sempurna terkena semburan minum Rora.
Dengan cuek ia membuka bajunya dan mengelap sisa bir yang menempel di tangan dengan bagian baju yang kering. Ia menyampirkan kaus itu di pagar dan dengan santainya bertelanjang dada di depan Rora.
"Resort nya menyenangkan. Thanks udah diizinkan pakai kamar yang itu." Rora menunjuk kamar utama yang ditempati gadis itu. Kamar yang berbatasan langsung dengan pantai.
Ia hanya mengangguk pelan sambil meneguk minumannya. Pandangannya lurus kedepan menatap laut lepas di malam hari.
"Kamu gak dingin, gak pake baju kayak gitu." Toleh Rora padanya.
Ia hanya terkekeh sambil mengangkat kaleng bir,"Ini cukup menghangatkan."
"Oh ya.." Rora ikutan mengambil kaleng bir, dan sekali lagi mencoba meminumnya.
__ADS_1
"Jangan diminum kalau gak biasa."
"Sesekali, siapa tau bisa melegakan pikiran."
"Hah..Kayak banyak pikiran aja neng." Ia tersenyum geli menatap Rora.
Lama keduanya hanya diam menatap pantai dengan deburan ombak yang saling berkejaran.
"Aku pernah terluka." Ucapnya pelan, entah bicara pada Rora atau pada dirinya sendiri.
"Sama, aku juga." Diluar perkiraan Rora ikut berucap, hingga membuatnya beralih menatap gadis itu.
"Kamu terlihat ceria, bagaimana bisa pernah terluka?"
"Sama, kamu juga terlihat tak ada masalah bukan?" Rora balik menatapnya. Hingga keduanya tertawa.
"Aku pernah di tolak seorang pria. Dan itu membuatku kehilangan kepercayaan diri kronis, setiap aku bercermin aku jadi merasa tidak cantik dan tidak pernah diinginkan." Hela nafas Rora tampak berat.
"Cukup lama buatku untuk bisa recovery, 5 tahun, akhirnya aku bisa melepaskan diri dari belenggu itu . And you? how about you?"
"Hampir sama, tapi yang ini lebih naas. Aku dicampakkan, ditinggalkan begitu saja dengan alasan yang menurutku sangat mengada-ada."
Rora menatapnya dalam sebelum gadis itu meneguk bir yang entah sudah keberapa.
"Dia bilang dia tidak menyukai profesi ku, dia tidak bisa hidup dengan rasa khawatir terus menerus. And you know, selepas dia mencampakkan ku. Dia malah menikahi kakak sepupuku. Gila kan?!"
"Hahahaaaa.....So poor of you!" Rora tertawa dan terus tertawa. Detik berikutnya baru ia menyadari bahwa gadis ini sudah mabuk.
Malam itu mereka habiskan dengan minum sambil tertawa, entah mentertawakan apa dan siapa. Dengan pandangan yang tidak jelas, ia berusaha bangkit dari lantai.
Ternyata Rora melakukan hal yang sama sehingga kepala mereka beradu. Bukannya kesakitan ia malah tertawa.
Ia menempelkan telunjuk dibibirnya, sementara telunjuknya yang lain menunjuk kearah kamar. Sambil terus terkikik agar tidak membangunkan penghuni resort yang lainnya, ia berusaha untuk berdiri.
Meski ia juga tidak bisa berjalan tegak, ia masih bisa membantu Rora kembali ke kamar. Rora menumpukan tubuh ke tubuhnya, ia yakin gadis itu sudah mabuk parah. Tertatih-tatih, ia membawa Rora kembali ke tempat tidur.
Perlahan ia menurunkan Rora ke tempat tidur. Saat akan berbalik, Rora malah menarik tangannya hingga ia terjerembab dan menimpa gadis itu. Ia sampai bisa melihat kalau Rora memiliki bulu mata lentik yang melindungi mata bulat gadis itu.
"Kamu mabuk." Ujarnya.
"Kamu juga." Timpal Rora.
"So..??"
Rora tidak menjawab, malah tertawa seperti orang gila.
Bukannya bangkit, ia malah semakin menekannkan tubuhnya kearah Rora. Rora tidak menghindar, ia tau ini salah, sangat salah. Tapi otak mabuknya mendominasi dan sepertinya Rora pun demikian.
To be Continue
Happy reading...
__ADS_1