The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Jadilah orang yang kuat


__ADS_3

Dimas


Malam merangkak perlahan. Suara televisi telah mendendangkan lagu kebangsaan, pertanda seluruh rangkaian acara hari itu sudah berakhir. Sepi menghampiri, dan lambat laun menyelimuti sisa-sisa siang hari sambil menyenandungkan lagu Nina bobok.


Dengkuran halus nafas Sonia yang berbaring di pahanya kentara sekali terdengar, diselipkannya beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik sang istri ke belakang telinga. Ia masih terjaga, ada yang mengganjal pikirannya.


Ia bukannya tak senang mendapati Sonia yang tengah hamil saat ini, pria mana yang tidak bahagia mendengar ada bayi yang tumbuh di rahim sang istri. Namun sekelebat bayangan kisah masa lalu kembali hadir menghantuinya.


"Siapkan darah!!"


"Istrimu perdarahan hebat!!"


Suasana begitu panik, ia sampai tak bisa berfikir apa-apa lagi. Yang ia tau, ia sempat melihat mama Ara dilarikan ke ICU, jelang beberapa menit, dokter mengatakan bahwa istrinya telah meninggal dunia.


Semua begitu mendadak, bahkan ia tak sempat berucap apa-apa pada wanita yang melahirkan Ara ke dunia itu. Dan sekarang, Sonia tengah hamil. Disaat yang bersamaan, ia direkomendasikan untuk mengikuti diklat, kurang lebih tiga bulan dari sekarang selama enam bulan lamanya.


Itu artinya, ketika Sonia melahirkan nanti, ia tidak ada. Pun selama kehamilan sang istri nanti, ia tak bisa menemani, tiba-tiba saja lututnya lemas. Bukan apa-apa, ia tidak yakin, Sonia bisa melewati ini semua, melewati kehamilan tanpa didampingi suami serta kelahiran anak mereka nanti.


Sedang untuk membatalkan diklat tidak mungkin, sebab dari sekian ratus anggota diseluruh Indonesia, dia yang terpilih masuk empat puluh yang ikut diklat khusus persiapan menjadi pejabat tinggi di lingkungan POLRI, tak dipungkiri memang ia berprestasi sejak di Akpol dulu.


Hembuskannya nafas perlahan, hatinya dilema. Sambil terus membelai pucuk kepala Sonia yang terlelap, ia pun turut memejamkan mata, tertidur.


Dikiranya saat terbangun keesokan hari, pikirannya sedikit tenang, namun tetap saja kala melihat Sonia, hatinya kembali terenyuh, ia takut kejadian malam dulu terulang. Sungguh tak ingin ia meninggalkan gadis ini sendiri lagi.


"Ada masalah?" Sonia mengagetkan nya yang tengah berdiri di balkon apartemen pagi itu.


"Tidak ada." Tolehnya pada sang istri sembari memberi isyarat agar Sonia mendekat.


"Bohong, itu jidadnya kerut sembilan."


"Hahaaaaa, ah masa?"


"Hmmm." Gadis itu mengangguk.


"Sudah minum susu?" Ia mengalihkan bicara.


"Belum."


"Kakak buatin ya?"


"Boleh..."


"Siip, tunggu disini ibu ratu." Kekehnya mencubit hidung Sonia kemudian berlalu kedapur membuatkan susu hamil untuk sang istri.


Tak butuh waktu lama, ia kembali dengan segelas susu dan botol vitamin.

__ADS_1


"Kok bawa vitamin kak?"


"Iya sekalian minum vitamin juga."


"Susu mana boleh diminum bareng vitamin, khasiat vitaminnya hilang nanti, sifat susu kan menetralisir, ntar aja minum vitaminnya dua jam lagi."


"Sorry lupa." Ia meraih botol vitamin dan membawanya kembali ke dalam.


Sonia sudah menghabiskan susu digelasnya ketika ia datang, mengambil posisi duduk di sebelah gadis itu.


"Kamu gak mual mual ya?"


"Nggak tuh, biasa aja."


"Good, anak pintar, gak nyusahin mama ya sayang." Elusnya pada perut Sonia yang masih datar.


"Adek sama mama mesti kuat, harus."


"Mungkin nanti papa gak bisa dampingi kalian." Suaranya getir kala mengucapkan itu.


"Tidak apa, kami kuat kok. Papa kami bakalan jadi orang hebat, kami pun harus jadi hebat juga." Sonia menatapnya dalam.


"Berapa lama?" Gadis itu meraih tangannya, menggenggam erat. Sonia sudah tau, ia terpilih untuk mengikuti diklat.


"Berangkat akhir Juni."


"Tidak apa, nanti aku di rumah amak." Gadis itu tersenyum simpul.


"Sayang..." Nafasnya tercekat tak sanggup melanjutkan.


"Aku percaya kakak akan jadi orang hebat suatu hari nanti, dan untuk sampai kesana dibutuhkan seorang wanita kuat di sisimu dan akulah orangnya."


"Kamu tidak apa-apa?" Ia berkata tidak yakin.


"Seharusnya sejak awal aku menyadari, jika menikah dengan seorang abdi negara harus siap dengan segala konsekuensinya. Bahwa mereka bukan milikku seorang, hati dan jiwa mereka sudah milik negara, itu harga mati."


"Kakak tenang saja, aku akan baik-baik saja. Aku akan menjaga anak kita, menghantarkannya ke dunia dengan sehat dan selamat kelak, aku janji."


Ia tersenyum hambar, Sonia you are my everything. Entahlah, seolah kehilangan segala kata, ia meraih tubuh mungil sang istri dan mendekapnya erat.


"Terimakasih."


.


.

__ADS_1


.


Sonia


Tiga hari setelah mengetahui bahwa kak Dimas terpilih untuk mengikuti diklat, ia sempat bertemu kakak tingkat sewaktu kuliah, mbak Gina.


Mbak Gina memiliki suami seorang TNI AD, perempuan itu banyak bercerita, jika sebulan setelah menikah, suami mbak Gina ditugaskan ke Papua, diperbatasan, di daerah konflik selama satu tahun. Kebayangkan perasaan mbak Gina seperti apa, sedang perempuan itu baru hamil saat ditinggal. Suaminya pulang saat anak mereka sudah berusia tiga bulan.


"Suamimu cuma berangkat Diklat, tidak ada yang mati karena Diklat." Begitulah ucapan teman mbak Gina, mbak Farah, yang juga ikut nimbrung dengan mereka.


Mbak Farah menghembuskan nafas dalam, tatapan nya jauh. Mereka terdiam cukup lama.


Satu minggu sebelum berita mencengangkan itu datang, Farah sering melihat sang suami menatap bayi mereka yang tertidur pulas, yah Farah baru saja melahirkan anak pertama mereka. Farah sedikit merasakan keanehan, namun Farah membiarkan hal itu berlalu.


Hal lain yang berubah adalah wajah suami. Wajah itu terlihat pucat. Keceriaannya menghilang, seperti cahaya bulan yang lambat laun memudar saat pagi datang menjelang.


Sehari sebelum berangkat tugas, suami tidak mengucapkan selamat tinggal seperti yang biasa ia lakukan. Laki-laki itu hanya mencium dahi Farah, menggenggam jemari nya, dan berbisik ditelinga Farah, "Jaga bayi kita dan jadilah orang yang kuat." Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan suami.


Ucapan itu juga terdengar aneh, tapi sebagai istri, Farah hanya mengangguk. Lalu suami menuju kamar bayi mereka dan mencium kedua pipi bayi merah tersebut. Dua hari kemudian kehidupan Farah hancur berkeping-keping.


Kapal selam KRI Nanggala 402, dimana sang suami dan rekan-rekannya tengah melaksanakan tugas latihan tenggelam di laut Bali, dikedalaman 850 meter. 53 awak dinyatakan gugur, termasuk sang suami ada didalamnya.


Mengapa ini bisa terjadi padaku? tidak, tidak sekarang. Terlalu cepat. Kami baru memulai sebuah keluarga yang akan kami jalani bersama. Ia suami yang baik. Bayi mereka masih membutuhkan ayah yang akan mengusir setan-setan jahat pada malam hari, membacakannya cerita Cinderella, dan...dan...


Jadilah orang yang kuat Farah, kata-kata itu bergema kembali ditelinga Farah.


Hari-hari berlalu tanpa suami. Sunyi, sepi, hampa, suram. Seperti matahari yang terlalu malu untuk terbit dan menghapuskan sisa-sisa malam. Diceruk hati Farah, Farah tak merelakan kepergian suami. Farah tidak yakin bisa membesarkan bayi mereka sendirian. Apa yang akan dikatakan Farah nanti bila bayi mereka bertanya tentang ayah. Keraguan membayangi masa depan Farah.


Jadilah orang yang kuat Farah, suara itu lagi.


***


Ia berkeringat mendengar cerita mbak Farah, itu terlalu menyedihkan, ia tidak sanggup jika dihadapkan pada kondisi yang sama seperti itu.


"Jadilah orang yang kuat Sonia." Mbak Farah menggenggam nya erat.


"Kita wanita-wanita pilihan, wanita yang rela cintanya harus terbagi dengan negara."


Dan ia mengangguk, mulai detik ini ia berjanji, akan menjadi orang yang kuat. Yang akan selalu mendampingi suami dalam berbakti pada Nusa dan Bangsa.


Kak Dimas, pergilah. Bangsa kita membutuhkan orang-orang seperti dirimu...


To be Continue...


Happy reading yaaa...

__ADS_1


__ADS_2