
Audrey
Mereka telah sampai di gedung bewarna coklat muda dengan tulisan Mapolsek Menteng, Jakarta Pusat. Ia hanya tertunduk kala berjalan ke gedung dengan tangan pak Dimas yang sedari tadi merangkul bahunya, risih memang, tapi ia sudah tidak memperdulikan itu, pikiran nya kalut.
Ia mendesah tak percaya benar-benar sudah di sini, duduk pada kursi plastik berhadapan dengan sebuah meja besar, ada papan nama tegak bertuliskan.
Kanit Reskrim
IPTU Dimas Prayoga
Disebelah nya ada meja lebih kecil dengan petugas berseragam coklat duduk disana, wajahnya tegas dan kaku tengah mengetik. Ia terus tertunduk sampai pak Dimas datang lagi setelah pergi sebentar entah kemana.
"Jadi Audrey kita mulai ya, nama lengkap?"
"Audrey Pramesya Putri." Jawabnya pelan.
Seorang petugas yang duduk di samping pak Dimas mengetikkan namanya pada laptop di atas meja.
"Usia?"
"21 tahun pak."
Selanjutnya menanyakan alamat, pekerjaan, binti siapa dan informasi umum lainnya. Audrey menjawab dengan pelan sambil terus tertunduk.
"Bisa Audrey ceritakan kronologis kejadian dari awal." Pak Dimas menatapnya.
Sesaat ia sedikit mendongak dari tunduknya, mengela nafas sebentar kemudian mengangguk, ini part paling memilukan hatinya.
"Saya butuh uang pak, saya harus melanjutkan kuliah, tapi terkendala biaya. Saat itulah saya khilaf, saya tergoda untuk mendapatkan uang dengan jalan pintas."
"Apa sebelumnya kenal dengan korban?"
"Tidak, saya tidak kenal. Itu untuk pertama kalinya saya bertemu."
"Jam berapa kira-kira masuk kamar?"
Audrey tampak berfikir sebentar.
"Saya masuk kurang lebih pukul 21.45 wib, om itu menyusul pukul 22.00 wib."
"Apa yang terjadi didalam kamar? apa kalian melakukan hubungan intim?"
Pertanyaan pak Dimas sontak membuat mukanya memerah, kemudian menggeleng kuat-kuat.
"Tidak, saya berubah pikiran waktu didalam, saya ingin pulang dan mengembalikan uang om itu, tapi dia marah, dia mau memperkosa saya."
"Sampai.." Audrey terhenti sesaat.
"Sampai apa?"
"Sampai om itu menarik baju saya hingga robek, kemudian ia melepaskan cengkraman nya, saya lihat wajahnya memucat sambil memegang dada bagian kiri, saat itulah saya mengambil kesempatan untuk lari dari sana."
__ADS_1
Dengan cepat, petugas disamping pak Dimas mengetik semua ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Apa ada tanda-tanda aneh dari korban sebelumnya?"
"Tidak ada pak, hanya saja saya lihat om itu sempat meminum sesuatu."
Pak Dimas mengangguk.
"Itu obat kuat." Ucap pak Dimas pelan.
"Oh iya, baju kamu yang robek ada dimana? itu bisa dijadikan barang bukti."
"Di apartemen dokter Galih pak." Audrey mendongak lagi.
"Okey sampai disini dulu. Karena hasil autopsi biasanya membutuhkan waktu kurang lebih selama tiga harian, jadi dengan terpaksa Audrey ditahan dulu sampai hasil forensik korban keluar, mohon kerjasamanya ya." Pak Dimas menepuk pelan bahunya.
Ia ingin menangis, matanya sudah berair, sama sekali tidak menyangka akan menjadi tahanan polisi dalam hidupnya. Salah seorang petugas ingin menggiringnya kedalam, namun pak Dimas mencegah.
"Biar saya saja." Ujar pria itu pada bawahan nya.
"Ayo Audrey."
Ia berdiri mengikuti langkah pak Dimas menuju sebuah ruangan berukuran 3x3 meter dengan jeruji besi dibagian depannya.
Ia masuk kedalam dengan diekori netra beberapa orang tahanan disana yang kesemuanya wanita, yah itu sel khusus tahanan wanita.
Dadanya sesak, ia sudah tak mampu menahannya lagi, tangisan pun pecah seketika, ia meringkuk di sudut ruangan sambil menangis dalam. Seorang ibu-ibu berambut bop mendekati nya.
Sekilas ia mendongak lalu menggeleng, sungguh belum sanggup ia bercerita lagi pada orang. Ibu itu mengerti lalu menepuk pundaknya pelan.
"Tidak apa, hidup memang beginilah, keras, jalani saja."
.
.
.
Galih
Di apartemen, ia gelisah bukan main. Pikiran nya terpatri pada gadis yang beberapa jam lalu menginap disana. Rasa iba menyeruak di dada membuat nya berkali-kali menekan kontak Dimas. Barulah panggilan ketiga terdengar suara polisi muda itu.
"Hallo..." Suara Dimas terdengar diujung telpon.
"Bagaimana? maksudnya Audrey.." Menepis rasa malu ia bertanya pada sahabatnya itu.
"Oh, barusan selesai penyidikan, dia sudah dalam sel."
"Sel tahanan?" Ia membayangkan ruangan dengan lantai dingin dan gelap dengan Audrey yang pasti menangis didalamnya.
"Iya, sel apalagi, oh iya baju Audrey yang robek nanti saya ambil, katanya di apartemen kamu, bisa dijadikan barang bukti."
__ADS_1
"Iya ambil saja."
"Sekalian aku titip selimut, bantal dan kasur kesana bisa?"
"Untuk Audrey..."Lanjutnya pelan nyaris tak terdengar.
"What? gila. Itu sel tahanan Bambang!" Mana bisa masuk barang- barang kayak gitu." Dimas memutar bola matanya malas mendengar kekonyolan sahabatnya itu.
"Yah kali aja bisa, kasihan gadis itu."
"Tenang, cuma tiga hari terhitung dari sekarang, aku pastikan dia tidak bersalah, semua bukti tidak ada yang memberatkan Audrey, dia hanya berada di posisi yang tidak tepat pada saat kejadian."
"Baguslah." Ia mendesah pelan, entah mengapa hatinya sedikit terganggu kala mengingat gadis itu.
"Oh iya Dim, tolong rahasiakan identitas Audrey dari wartawan, aku takut akan menggangu psikologi nya nanti kalau ada yang tau, dia masih mahasiswa."
"Iya pasti." Suara Dimas meyakinkan.
.
.
.
Bayu
"Yu, bayuuu!!"
"Iya, ma."
"Ayoo cepaat, om Rudi dah nunggu di Polsek!"
Ia turun dari atas tangga sambil menyugar rambutnya yang masih setengah basah, sebenarnya sangat malas pergi ke Polsek hanya untuk bertemu saksi tunggal tewasnya papa, membuat hatinya berdenyut sakit Mengingat orang yang seharusnya jadi panutan berbuat tak terpuji dengan tidur bersama pelacur di hotel.
Tapi lagi-lagi demi mama, ia akhirnya mau mengantar wanita separuh jiwanya itu. Tak butuh waktu lama, mereka sudah berada di depan gedung Polsek Menteng, om Rudi sudah ada disana, berbicara dengan seorang polisi yang masih terlihat muda, ada juga beberapa wartawan yang berkumpul menunggu kelanjutan kasus.
Om Rudi tergesa-gesa menghampiri ia dan mama.
"Mbak, kita tidak bisa bertemu saksi."
"Kenapa?" Mama mengeryitkan dahi.
"Alasan mereka karena proses hukumnya masih berlangsung."
"Tidak bisa gitu, saya pengen lihat orang nya seperti apa."
Mama mendatangi kantor Polsek dengan langkah lebar, akhirnya dengan negoisasi yang cukup alot, mereka hanya diperbolehkan melihat saksi dari rekaman CCTV yang ada di laptop petugas.
Ia memperhatikan dengan seksama scene demi scene yang berjalan di layar hingga sesuatu seperti godam raksasa menghantam kepalanya membuat ia hampir limbung, definisi sesungguhnya dari luka tapi tak berdarah.
Audrey...
__ADS_1
To be Continue...