
Dimas
Bibirnya menyapu bibir Sonia lembut, lalu mulai mendesak. Ia membiarkan respons Sonia menuntunnya, mengendur bila tubuh gadis itu menegang, lalu mendesak lagi jika gadis itu merapat padanya. Detik demi detik berlalu dalam denyut hangat kenikmatan yang menggelora.
Perlahan ia mendengar samar-samar pintu kamar diketuk, suara anak kecil berteriak dari luar, tapi ini terlalu indah untuk dihentikan, ia terlanjur masuk dalam euforia zat dopamine di dalam tubuh, seolah tak ingin berhenti.
"UNI... DISURUH AMAK AJAK OOM MAKAN MALAM!!!"
Tok...Tok..Tok!!!
"Unii..."
Sonia mendorong pelan tubuhnya, tapi ia tak ingin terhenti.
"Kak.."
"Hmmm..."
"Kak..." Dorong Sonia tubuhnya agak keras, hingga ia tersentak, malu.
Mereka saling menjauhkan diri, sama-sama kikuk. Sonia berdiri dan berjalan cepat menuju pintu.
"Kok lama bukanya sih, tuh amak ngajak makan." Agil dengan wajah cemberut kembali berjalan kearah dapur.
Ia cepat-cepat berdiri dan melangkah keluar kamar bersama Sonia sambil mengulum senyum.
"Bibirmu bengkak." Bisiknya menggoda pada Sonia sebelum melewati gadis itu di pintu.
"Hah..." Sonia cepat-cepat meraba bibirnya dengan wajah merah padam.
"Gerah disini ya nak Dimas?" Amak yang sudah duduk dimeja makan tengah menyusun piring untuk mereka menoleh padanya.
"Gak kok mak." Sempat melirik Sonia sebentar yang langsung tertunduk malu.
"Ini ada rendang daging, asli dibawa apak (oom) Sonia dari Pariaman."
"Oh ya."
"Iya, coba cicipin." Amak menyodorkan gulai rendang dalam mangkuk ke arahnya.
"Om, oom jadinya tinggal sama kita kan?" Agil yang duduk disebelahnya mulai berceloteh.
"Jangan panggil oom, panggil abang ya Gil. Kan abang udah jadi suaminya uni."
"Ohh gitu." Agil magut-magut sembari menyeringai lebar.
__ADS_1
"Oh iya, abis ini aku keluar sebentar, ada yang mau diambil di apartemen mak."
"Iya, gak papa, hati-hati." Amak sambil mengunyah.
"Kamu ikut kan Son?" Tolehnya pada Sonia yang masih betah menunduk.
"A-ku, aku tinggal aja deh."
Dan ia mulai panik saat Sonia memilih tinggal sebab pergi ke apartemen untuk mengambil sesuatu hanya akal-akalan nya saja, yang sebenarnya adalah seekor serigala sedang berupaya untuk menggiring domba manis ke sarangnya hahaaaa.
"Gak papa ikut aja." Amak bersuara.
"Ikut ya? cuma sebentar." Lihat nya pada Sonia yang juga tengah menatapnya, gadis itu akhirnya mengangguk pelan.
Huffhh ...
Ia tersenyum simpul sambil menghabiskan sisa makanan terakhirnya dalam piring.
***
Perjalanan lima belas menit menuju apartemen serasa lima belas jam, lamaa, ia berdecak kesal ketika terjebak macet, berkali-kali memencet klakson sambil mengumpat, tentu saja dalam hati, mana berani ia mengumpat terang-terangan saat sang istri sholehah duduk disampingnya.
"Kakak mau ambil apa?" Tanya Sonia ketika mereka sudah berada di apartemen.
"Bentar." Ia pura-pura masuk ke kamar, seolah-olah ada yang ingin diambil. Cukup lama, hingga gadis itu menyusulnya. Terkikik sendiri ia melihat tingkah konyolnya itu, dan akhirnya domba kecil dan manis masuk ke dalam perangkap.
"Kakak dimana?" Sonia masuk ke kamar, namun tidak menemukan keberadaannya, ia bersembunyi di balik pintu dan dengan jahilnya mematikan saklar listrik, seketika gelap semua.
"KAKAAAAAAKK!!!"
"Kakaaaak, jangan bercanda!!" Suara Sonia bergetar panik, sepertinya gadis ini takut gelap.
"Toloong!!"
"TOOLOONG!!" Sonia berteriak histeris ketika secara tiba-tiba ia memeluk gadis itu dari belakang, Sonia menerjang- nerjang kakinya sekuat tenaga.
"Sstt diam, ini kakak." Ia mengetatkan pelukannya saat gadis itu mulai rileks. Sedikit mencium leher Sonia yang tertutup jilbab.
"Kenapa gelap?"
"Listrik padam." Jawabnya asal sambil menahan tawa.
Nafas Sonia mulai tersengal-sengal. Ia bisa merasakan bahwa lutut gadis itu melemas. Dan ia pun menuntun sang istri menuju ranjang king size miliknya.
"Gak lucu tau!! becandaan nya kelewatan!!" Gadis itu menggeram marah.
__ADS_1
"Sorry.. sorry."
"Nyalakan lampunya."
"Gak bisa, padam dari travo nya." Ia berbohong.
Mereka diam, ia bisa merasakan Sonia yang meringkuk mendekatinya. Dan kesempatan inipun tak disia-siakan oleh seorang Dimas, perlahan namun pasti ia mulai menyentuh Sonia dengan cara terindah yang tak pernah terpikirkan oleh gadis itu.
Setiap sentuhan rasanya seperti percikan listrik. Ia tidak pernah menyentuh kulit seperti kulit Sonia. Rasanya seperti kelopak bunga yang hangat oleh sinar matahari.
Bintang-bintang berkelip dibalik kelopak matanya yang terpejam ketika kenik matan berubah menjadi api. Api yang membakar, memberi denyut, membubungkan, dan meledakkan setiap sel dalam tubuhnya. Sonia terisak, tangan gadis itu menggapai- gapai tanpa kendali.
.
.
.
Sonia
Hal yang paling ia takuti didunia ini adalah gelap, entahlah, sejak kecil ia takut gelap. Tubuhnya bergetar merapat ke kak Dimas, laki-laki itu langsung memeluknya erat, dan perlahan memberikan sentuhan yang begitu menggelikan dan tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak menolak saat laki-laki itu mulai menerobos pertahanannya.
Dan ia merasa seperti perenang yang tenggelam. Ia mendengar bisikan kak Dimas yang mendesak ketika kenik matan mulai merasuki dirinya, tubuhnya mengikuti irama percintaan kak Dimas secara otomatis, ketika kak Dimas mengajarinya cara menyentuh dan memiliki laki-laki itu. Itulah menit-menit terindah dalam hidupnya. Sampai getaran terakhirnya menuju puncak, ia tak menyangka akan dapat melaluinya.
Jemarinya menelusuri bibir, dagu, dan leher kak Dimas yang kuat. "Aku tak pernah tau rasanya bisa seindah ini." Racaunya tak sadar.
"Kukira ini akan selalu sakit..."
"Bukankah memang terasa sakit?" Gumam kak Dimas dilehernya.
"Rasa sakit yang ...indah!"
"Ya... Aku suka kamu yang seperti ini, yang tidak malu-malu."
Dan akhirnya mereka berdua terlontar menuju matahari, meledak berkeping-keping sepersekian detik. Rasanya seperti takkan berakhir. Kak Dimas menciumnya lembut, segenap jiwa dan raganya terasa penuh, menjadi milik sang suami seutuhnya.
"Thanks hunny." Gumam kak Dimas pelan, lalu mata keduanya terpejam.
Entah berapa lama mereka tertidur saling berpelukan, hingga suara adzan subuh terdengar sayup-sayup di kejauhan.
"Ya Tuhan, sudah pagi!!"
Ia meraba-raba tasnya dalam kegelapan, dibukanya benda pipih persegi tersebut, ada lima panggilan tak terjawab dari amak.
To be Continue...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan beri hadiah untuk othor ya readers tersayang...