
Byan
Ia terkejut bukan kepalang saat ada seseorang yang duduk dibangku belakang mobilnya subuh itu, yah dia ada jadwal bertemu klien di Bogor kemarin, dan pagi ini rencana langsung pulang ke Jakarta.
Tapi insiden orang asing masuk kemobilnya sungguh mengagetkan, pakai acara pingsan pula. Ia yang panik langsung membawa wanita hamil itu ke klinik di perempatan jalan.
"Tolong mbak, dia pingsan di mobil saya." Ia membaringkan wanita antah barantah itu ke brankar yang sudah disiapkan perawat.
Tak lama, seorang wanita berusia empat puluhan, yang ia tebak adalah dokter diklinik itu datang menghampirinya.
"Anda suaminya?"
"Bu- bukan dok, saya yang membawanya kesini."
Dokter itu mengangguk,"Tidak apa- apa, dia hanya syok, kandungannya sehat, sekarang dia sudah sadar. Silahkan temui."
Tepat saat ia ingin melangkah menuju ruangan wanita itu, sang dokter kembali memanggilnya."Silahkan isi data identitas pasien di berkas anamnesa pasien dulu."
Identitas? ia bahkan tidak tahu wanita itu siapa, eh tunggu, ada dompet wanita itu terjatuh di jok mobil saat ia menggendong tadi.
"Sebentar..." Ia setengah berlari mengambil barang yang dimaksud dari dalam mobilnya. Namun ia tersentak saat membuka dompet tersebut.
Aurora
dr. Aurora
Apakah wanita itu gadis yang ia cari, semua mengarah ke orang yang sama. Setelah menyerahkan ktp Aurora ke meja perawat, ia bergegas ke ruangan wanita itu, untuk sekedar memastikan.
.
.
.
Aurora
Ia membuka mata perlahan. Seluruh tubuhnya meremang, Abi datang menemuinya. Apakah cerita roh gentayangan dan menemui orang yang masih hidup sebab ingin menjaganya itu benar ada dan sedang terjadi padanya.
Sumpah demi apa, dia benar- benar takut, sangat amat takut. Bagaimana jika roh Abi datang lagi. Dan tepat saat ia berusaha menahan detak jantung yang berirama tidak normal, sosok itu datang, Abi membuka pintu dan berdiri, tidak, Abi berjalan mendekatinya.
"Tidaaaaaak....Mamaaaaa!"
"Hei..Kamu kenapa?"
Ia pun setengah melompat dari bed klinik.
"Kenapa kamu berteriak?" Abi makin mendekatinya.
Ia tidak mengindahkan, enggan melihat dan menutup mata dengan kedua telapak tangan. Ia benar- benar bergetar ketakutan dan terus memejamkan mata sambil berkomat- kamit mengucapakan segala macam ayat dan doa. Tapi sosok itu tidak juga menghilang, ini hantu jenis apa sih, tidak ada takut- takutnya.
"Pergilah Abi, tenanglah disana. Ini bukan duniamu lagi."
"Kita sudah beda dunia, jangan seperti ini, ku mohon." Ia terus memejamkan mata sambil memelas dan menghiba.
Benar- benar ada ternyata roh penasaran yang kembali kedunia menemui pasangannya. Pasangan? tidak, tidak. Aku dan Abi bukan pasangan.
.
.
.
__ADS_1
Byan
Ia membuka pintu perlahan dan tersentak saat gadis itu kembali berteriak.
"Tidaaaaaak....Mamaaaaa!"
"Hei..Kamu kenapa?" Ia berjalan mendekati gadis bernama Aurora itu.
"Kenapa kamu berteriak?" Ia makin mendekat namun tampaknya gadis itu sangat ketakutan, ia bisa melihat seluruh tubuh Aurora bergetar hebat.
"Pergilah Abi, tenanglah disana. Ini bukan duniamu lagi."
Deghh...
Saat gadis itu menyebut nama Abi, detik itulah ia tersadar bahwa gadis yang tengah berdiri dihadapannya ini adalah Aurora yang ia cari.
"Kita sudah beda dunia, jangan seperti ini, ku mohon."
Ia tidak tahan untuk tidak tertawa, gadis ini sungguh mengira ia adalah hantunya Abi, yang benar saja. Lucu sekali.
Ide konyol tiba- tiba terlintas. Ia berjalan mendekati Aurora, gadis itu masih komat- kamit tak jelas dengan tubuh bergetar.
"Rora, hantuku ingin menjemputmu." Ia setengah terbahak mendapati Rora yang benar- benar ketakutan itu.
"Kenapa? kamu tidak senang aku kembali?"
"Apa kamu tidak merindukanku?" Ia memberanikan diri mengangkat dagu Rora, "Buka matamu."
Mata Rora yang ditutup rapat, semakin rapat. Ia yakin jantung gadis ini akan copot sebentar lagi. Dapat ia rasakan tubuh Rora menegang karena takut.
"Baiklah, jika kamu tidak mau menyambutku, mungkin anakku mau." Ia merendahkan tubuhnya, membungkuk dan menempelkan telapak tangannya pada perut Rora.
"Mamaaaaaaaaa.....pergi kamu,,, hantu sialan?!" Rora memekik, memukul- mukul tak tentu arah.
Rora terhenti, gadis itu membuka mata ragu. Dan ia mencoba tersenyum sekedar menenangkan bahwa ia bukan hantu yang disangkakan Rora.
Perlahan mata Rora membuka sempurna dengan alis terangkat keatas. Ada semburat malu yang luar biasa diwajah Rora, pipi gadis itu memerah.
"Perkenalkan aku Byan, saudara kembar Abi."
"Jadi kamu yang mendatangi papaku?" Tanpa basa- basi Rora menyemburnya dengan pertanyaan itu.
Ia mengangguk pelan, "Maafkan aku, papamu sepertinya tidak suka aku datang."
"Kamu merusak segalanya..Aku diusir papa gara- gara kamu!"
" Excusme... what do you mean?" me...?" Ia menunjuk dadanya sendiri.
"Yeah, you.....!"
"Sepertinya kita harus bicara."
"Tidak disini, aku sedang dikejar." Rora menoleh kearah pintu dengan gelisah.
"Jadi kamu sedang kabur?"
Rora memutar bola mata malas,"hidupku kacau sepuluh hari ini, aku dikejar anggota papa mertuaku."
"Mertua? jadi kamu sudah menikah?"
Rora mengangguk, dan ia terpaksa mendengus tertawa, ada bagian cerita yang sengaja dilewatkan Kikan, gadis itu mengerjainya, ia jadi terlihat seperti orang bodoh sekarang.
__ADS_1
"Aku akan pulang ke Jakarta pagi ini, sepertinya kita memang perlu bicara." Tatapnya pada Rora yang jelas- jelas menampakkan gelagat tak nyaman dan gelisah.
"Jika kamu masih ingin bersembunyi, ikutlah denganku. Apartemenku aman." Lanjutnya.
Dan tanpa diduga, Rora mengangguk. Setelah menyelesaikan administrasi klinik, mereka mamacu kendaraan menuju Jakarta. Tentu saja setelah membantu Rora chek out dari hotel dan menyempatkan sarapan di mobil sebentar.
"Kamu tidak keberatan kalau aku turun sebentar, belanja...?" Tolehnya ke arah Rora, dan gadis itu mengangguk singkat.
Mereka sudah berada di daerah Setiabudi, dekat apartemennya, dan ia keluar meningalkan Rora dimobil menuju sebuah minimarket diseberang jalan.
"Kamu masak?"Rora bertanya sambil melirik belanjaannya yang ia letakkan di jok belakang.
Ia mengangguk dan Rora tergelak menanggapi jawabannya.
"Are you serious? Because well..." Rora mengangkat bahu.
"I live alone." Sahutnya sambil mendaratkan bokong di jok kemudi dan menutup pintu, "So, I have to cook for myself."
"Yeah, jarang saja kulihat laki- laki masak." Rora mengulum senyum.
"I'll cook for you. Just enjoy yourself." Ujarnya seraya menggulung lengan kemeja dan menuju dapur, saat mereka telah sampai di unit apartemennya.
.
.
.
Aurora
Ia tidak tahu mengapa ia mengangguk ketika Byan mengajaknya ke apartemen pria itu. Mungkin ia butuh penjelasan lebih dari Byan, atau juga ia masih memerlukan sebuah tempat untuk bersembunyi.
Ia memandang berkeliling, suasana apartemen Byan hampir mirip dengan apartemen Fatih. Matanya terpaku pada sosok Byan yang tengah berkutat di dapur, memotong bawang.
Perlahan ia menghampiri Byan.,"Do you need help?" Tanyanya setelah berdehem. Setidaknya ia bisa menawarkan bantuan dan membuat dirinya sedikit berguna.
Byan melirik dari balik pundak dan menggeleng,"Just wait a little bit"
Tak lama, dua piring spaggety benar- benar tersaji diatas meja, "Hope you like it." Byan tersenyum.
"Abi tidak pernah cerita kalau dia punya kembaran." Ia menyuap spaggetinya.
"Mungkin belum sempat, keburu dia sudah pergi."
"Jadi mengapa kamu tidak menemuiku dulu? malah langsung datang ke papaku? mungkin ceritanya lain lagi kalau kamu menemuiku lebih dulu." Tatap selidiknya pada Byan.
"Yap, it's my mistake. Ada seseorang yang menyarankanku untuk menemui orang tuamu langsung."
"Who?"
"Kikan, teman kantorku. Dia sangat terkejut saat aku menampakkan foto usg itu."
"Wait...Kikan? Dia baru tau dari kamu tentang kehamilanku?"
"Ya, aku yang memberitahunya."
"Hahahaaaaa.....Lucu sekali ternyata, aku sudah dibodohi gadis itu."
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin pulang... Mungkin suamiku sedang mencariku saat ini."
__ADS_1
To be continue
sampe sini dulu double up nya ya