The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Ranjang Besi Tua the legend


__ADS_3

Galih


Senin pagi di awal bulan yang hangat, ia yang baru saja menyelesaikan mandinya menatap sang istri sibuk memasukkan beberapa buku kedalam tas ransel, laptop, charger serta skripsi nya.


Audrey sudah siap tempur, mengenakan seragam yang sengaja didesain khusus untuk ibu hamil, dilapisi jaket almamater. Gadis itu akan mengikuti ujian skripsi hari ini, mulut nya komat-kamit, entah apa yang diucap. Membuatnya geli melihat tingkah Audrey.


Seketika ia menarik lengan Audrey hingga gadis itu jatuh kedalam pangkuannya," Semangat sayang."


"Ingat, yang perlu dipahami adalah seberapa penting nya risetmu dilakukan, relasi antara setiap variabel, konsep penelitian kuantitatif, alat ukur yang dipakai, kesimpu..."


"Sssttt... iya iya, kepalaku nambah pusing ntar."


Ia hanya tersenyum, mengelus pelan pipi Audrey yang selembut sutra.


"Sudah sarapan?" Tanyanya.


"Belum, udah nervous duluan nih, gak nafsu makan."


"Jangan gitu nanti lemas, mau sarapan apa? biar kakak buatin. Minum susu ya?"


"Susu sama telur asin yang di kulkas."


Ia mengangguk dan beranjak menyiapkan sarapan ke dapur. Tak lama Audrey menyusul.


"Kak, kalau uni Sonia sama kak Dimas udah nikah, kita pindah ke apartemen yuk."


Ia menoleh sebentar sambil terus mengaduk susu."Kenapa?"


"Biar tetanggaan sama uni, kan asyik tuh." Audrey meraih gelas susu yang disodorkannya.


"Ide bagus, nanti kita pikirkan lagi." Ia beranjak menuju kamar, menyiapkan diri untuk berangkat ke Rumah Sakit.


Keduanya menuruni tangga dan menuju mobil, ia akan mengantar Audrey ke kampus terlebih dulu.


"Semangat, jangan gugup, jawab setiap pertanyaan penguji dengan tenang, kakak yakin kamu bisa, I believe you can do it." Ia meremas jemari sang istri.


"Ralph Boston pernah bilang menjadi yang pertama melewati garis akhir, memang akan menjadikan mu seorang pemenang hanya dalam satu tahapan kehidupan. Tapi yang kamu perbuat setelah melewati garis akhirlah yang benar-benar penting." Ia mengacak lembut rambut Audrey.


"Semangat!!!"


"Semangat!!!" Audrey mencium tangan nya takzim dan berlalu menuju gerbang kampus sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


.


.


.


Dimas


Tak ada kesibukan berarti di kantornya hari itu. Tiga petugas patroli tengah membuat kopi dimeja minuman lobi utama. Seorang penduduk lokal mengisi surat pengaduan terhadap pelaku kejahatan yang baru saja digiring masuk oleh Ezar. Sedang Elan yang biasanya duduk disebelahnya tidak terlihat.


Bosan, ia lebih memilih berkirim pesan pada calon istri, tapi rupanya Sonia yang hari ini dipaksa mama melakukan perawatan tubuh tak membalas pesannya. Yah, besok ia sudah mulai cuti sebab pernikahannya akan berlangsung tiga hari lagi.


Akad nikah dan walimah akan digelar di kediaman Sonia, sedang resepsi besar-besaran akan digelar di kediamannya di Bandung, seminggu setelah acara di rumah Sonia.


Walau ini terhitung pernikahan keduanya, namun ketika hari H itu tiba, tetap saja rasa gugup menyelimuti, sudah berapa kali ia membuang tissue yang telah basah dalam genggaman.


"Sudah siap bro?" Galih menepuk punggungnya pelan.


"Seperti yang kamu lihat."


"Wuihh keringatan, nervous lo? hahaaaa..."


Acara akad dilaksanakan di masjid dekat rumah Sonia, pun walimahnya juga digelar dihalaman masjid, mengingat gang rumah Sonia tidak memungkinkan untuk mendirikan tenda.


Sama sekali tak ada suara hingar bingar music, suasana terasa tentram dan hangat, satu-satunya penghibur adalah grup nasyid yang terdiri dari beberapa orang pemuda di atas panggung.


Dapat ia lihat Sonia dengan balutan kebaya pengantin duduk bersebelahan dengan Audrey, cantik sekali. Hatinya bergetar kala tatapan mereka bertemu, Sonia sempat tersenyum sekilas, oh my...


Penghulu dan wali hakim Sonia sudah duduk di tempat yang telah disediakan, dan ia sendiri sudah mengambil posisi tepat berseberangan dengan wali hakim. Acara berlangsung khidmat hingga suara saksi menyatakan kalimat SAH. Sholawat nabi bergema di setiap sudut masjid.


Sonia mencium tangannya bergetar, tangan mereka sama-sama dingin. Ia bersyukur Sonia akhirnya menjadi miliknya. Sonia tampak merasakan hal yang sama. Tapi ada sesuatu yang membuat wanita itu cemas. Ia bisa menebaknya.


Papa adalah orang pertama yang memeluknya, ia mulai siaga satu kala kakek Ara itu mulai ingin bicara, don't say Jagoan papa, please... Dan untungnya kali ini papa hanya berbisik, barokallah boy.


Selanjutnya bergantian, mama, amak, abang Dean dan abang Dani beserta istri dan anak mereka, ada Galih dan Audrey dan juga Agil. Bocah itu memeluknya, haru.


Lepas tengah hari suasana mendadak heboh saat tangannya ditarik oleh sekumpulan ibu-ibu yang ngajak foto, yang benar saja, pipinya sampai dicubit-cubit oleh salah satu ibu paling gendut.


"Son, pinjem laki lo bentar ye!!"


"Yaelah, gantian mpok, aye lagi!! aye lagi!!"

__ADS_1


"Iihh sabar napa, sebentar, maaf ye pak polisi." Cengir lebar ibu yang menggandengnya kuat-kuat itu.


***


Sonia mengulum senyum kala ia kembali duduk didekat gadis itu.


"Kamu gak cemburu?"


"Cemburu? kenapa?"


"Aku di tarik-tarik sama emak-emak tadi?"


"Gak, mereka ibu-ibu gang Kemuning, tetangga semua."


Ia hanya mendengus sambil meraih tissue, menyapu dahinya yang berkeringat. Tepat menjelang ashar, mereka telah kembali ke kediaman Sonia, rombongan mama sudah bertolak lagi ke Bandung, sedang ia tinggal dirumah sang istri.


***


Kalian tahu apa yang paling ditunggu-tunggu oleh pasangan pengantin baru, yapp, saat malam tiba, mungkin inilah yang membuat Sonia cemas sedari tadi.


Ia yang baru saja menyelesaikan mandinya bergegas masuk ke kamar Sonia, kopernya sudah tergolek di sudut kamar berukuran 3x3 meter itu. Kamar Sonia sederhana namun bersih dan wangi, ada ranjang besi yang mungkin sudah berusia puluhan tahun, ukirannya kuno sekali, lemari pakaian berbahan kayu, dan meja belajar. Netranya menangkap sebuah foto alumni terpajang disana.


Tersenyum simpul melihat wajah Sonia mengenakan seragam abu-abu, rambutnya panjang tergerai dengan jepit rambut dikepala, manis. Dibelakang Sonia berdiri ia bisa melihat seorang laki-laki tertawa bahagia, dia Elan.


Matanya menyapu setiap sudut ruangan dan beralih duduk di ranjang.


"Come on, mari kita uji kekuatan mu sebesar apa wahai ranjang tua!!" ia sengaja menghempaskan bokongnya sedikit keras ke atas ranjang.


"BUSYEET!!!"


Nyiiitt...


Nyiiitt...


Nyyiiit...


Ranjang the legend itu berderit nyaring membuatnya hampir terbahak, yang benar saja...


To be Continue


happy reading...

__ADS_1


__ADS_2