
Dimas
"Aku tuh cape?!"
"Gak ada teman buat cerita."
"Aku tuh sendirian, gak punya siapa-siapa, iya?! kadang pas mau tidur punggung ku pegal, kaki ku kram, mau panggil amak buat mijitin gak enak, aku sering nangis sendiri malam-malam."
"Aku sudah berusaha kuat seperti yang kakak mau."
Ia mendesah pelan demi mengingat segala perkataan yang terucap dari bibir Sonia siang tadi.
Dielusnya pelan kepala sang istri yang tengah terlelap, " Maafkan kakak sayang, belum bisa jadi suami yang baik untukmu."
Matanya memanas, ditatapnya perut Sonia yang sudah membesar, pasti lelah, ia sangat tau itu. Dua bulan lagi istrinya akan melahirkan, berbagai ketakutan dan kekhawatiran mulai membayanginya, membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak setiap malam.
"Sonia udah cerita?"
"Cerita apa?"
"Dia PPT (Plasenta Previa Total)."
"Maksudnya?"
"Letak plasenta abnormal, menutupi total seluruh jalan lahir, Sonia tidak bisa melahirkan normal."
Ucapan Galih kemarin via telepon terus mengusiknya, walau laki-laki itu mengatakan tidak masalah, sebab akan di SC sebelum terjadi bukaan. Tetap saja, gadis ini akan sendiri menghadapinya nanti.
Ia sudah menghitung tanggal operasi Sonia yang diberikan Galih serta mencocokkan dengan jadwal kegiatannya, tanggal itu bertepatan sekali dengan jadwal lapangan sehari sebelum penutupan diklat. Yang artinya, ia belum bisa pulang saat Sonia akan berjuang hidup dan mati di atas meja operasi.
Kepalanya berdenyut hebat, ia memilih keluar kamar, menyalakan rokoknya dan duduk di teras sendiri.
Malam telah merangkak perlahan. Suara penjaja nasi goreng yang memanggil pelanggan sambil memukul batang bambu dengan tongkat kayu telah lenyap di ujung jalan.
Sepi menghampiri, semua makhluk bernyawa telah lama memejamkan mata, kecuali dirinya mungkin yang masih betah bersekutu dengan dinginnya angin malam, entahlah.
.
.
.
Sonia
Tiba-tiba saja ia tersentak dari tidur lelap, matanya terjaga sempurna saat didapatinya kak Dimas tak ada dikamar.
"Kak...?"
Tak ada sahutan, ia berjalan kearah dapur kosong, tak ada tanda kehidupan disana, beralih ke kamar mandi, tak ada juga. Hanya terdengar tetesan air dari kran yang tidak terkunci sempurna.
"Kak...?"
__ADS_1
Disibaknya tirai yang mengarah ke ruang tamu, pintu depan terbuka, ia lihat sudah pukul dua belas malam. Pelan ia berjalan ke arah daun pintu.
"Kakak...?"
Pria itu menoleh, langsung menekan kuat sisa puntung rokok diatas asbak.
"Kenapa bangun?" Suara kak Dimas serak.
"Kakak, kenapa disini?"
"Tidak ada, ayo masuk, dingin.." Pria itu merangkul bahunya, menggiringnya untuk masuk kedalam.
"Aku kebangun, lihat kakak gak ada. Kenapa diluar malam-malam begini?"
"Gerah ya? tukar kipas angin yang di ruang tamu aja." Tolehnya pada kak Dimas yang hanya mengulum senyum itu.
Pria itu menggeleng, "Tidak perlu, yuk tidur lagi."
Kak Dimas menyelimutinya lembut, lalu ikut berbaring disisinya.
"Ada masalah?"
"Tidak ada."
"Oh iya, aku belum cerita ke kakak, kemaren cek sama kak Galih, aku gak bisa lahiran normal, harus operasi." Ia menautkan jari-jari tangannya ke jari tangan kak Dimas.
"Tapi tidak masalah, zaman sekarang operasi Caesar bukan lagi sesuatu yang perlu ditakutkan, hampir 60% perempuan melakukan operasi Caesar pada kehamilan mereka." Lanjutnya percaya diri.
Kak Dimas mengangguk pelan,"Kakak tau, Galih telpon kemarin."
"Tidak apa-apa, ada amak, ada kak Galih juga. Kakak fokus aja ke diklat dan aku akan menghantarkan bayi ini dengan selamat."
"Jangan khawatir." Bisiknya pelan menempel di dada sang suami.
"Kakak pulang sehari setelah jadwal operasi." Kak Dimas mencium kepala nya.
"Never mind, kami akan menunggu papa pulang." Ia makin mengeratkan pelukannya.
"Besok jam berapa balik ke Lemdiklat?"
"Jam sepuluh pagi sudah ada disana."
Ia mengangguk pelan, kemudian menenggelamkan kepalanya di dada sang suami.
.
.
.
Waktu berganti. Hari berkumpul menjadi minggu, dan minggu bertranformasi menjadi bulan, . Jadwal operasinya hanya tinggal menghitung hari.
__ADS_1
Segala persiapan telah beres, tak dipungkiri, walau sudah berapa kali ikut menyaksikan pelaksanaan operasi Caesar, memahami betul diagnosa yang ia alami, tetap kecemasan itu masih ada.
Kak Dimas berulang kali menelpon, memastikan kondisinya baik-baik saja.
"Son, ada sedikit kendala..." kak Galih berucap sore itu padanya, tepat seminggu sebelum jadwal operasi.
"Ya...?!"
"Apakah kamu ada riwayat bedah jantung sebelumnya?"
Ia dan amak saling pandang.
"Dulu nak Galih." Suara amak.
"Sonia ada kelainan jantung dari lahir, waktu umur 5 tahun pernah operasi katup jantung, katup jantung nya tidak normal."
Kak Galih mengangguk pelan, "Aku kecolongan, seharusnya aku menyadari ini sejak awal."
"A-pa ada masalah?" Sekarang ia sudah tidak bisa menyembunyikan ketakutan lagi.
.
.
.
Galih
Seminggu sebelum jadwal operasi Sonia, ia sudah mempersiapkan segalanya, istri sahabatnya itu harus mendapatkan yang spesial, mengingat ini adalah amanah dari Dimas langsung.
PPT (Plasenta Previa Total) bukanlah kasus rumit baginya, ia sudah sering menangani pasien dengan diagnosa itu, tidak masalah.
Namun saat membaca hasil cardiology Sonia, ia baru menemukan ada yang janggal, dan ternyata dugaannya benar, katup jantung gadis itu tidak normal.
Terlalu beresiko untuk hamil, seharusnya bisa digugurkan diawal kehamilan. Kepalanya mendadak pening, seharusnya ia menyadari itu.
"Lepas operasi waktu ia berusia lima tahun, seharusnya ada operasi lanjutan." Ucap amak lirih padanya, saat tak ada Sonia disana.
"Tapi kami waktu itu benar-benar tidak ada biaya, jaminan kesehatan gratis dari pemerintah tidak bisa menalangi semua pemeriksaan."
"Kami lihat Sonia baik-baik saja, prestasi nya juga baik, jadi tidak pernah kami lanjutkan lagi pengobatannya."
Lututnya lemas mendengar penjelasan amak. Apa yang akan ia katakan pada Dimas. Melakukan operasi Caesar sangat beresiko untuk Sonia, jantung gadis itu tidak stabil.
Pantas saja Sonia sering gugup, Audrey juga pernah cerita, tangan Sonia selalu basah oleh keringat, ya Tuhan...
To be Continue
Happy reading ya
sehat selalu readers tersayang 😘😍
__ADS_1
yang hanya baca terus pergi, yang baca sambil klik likeee, yang baca kemudian kasih komentar biar othor semangat nulis, atau yang baca lalu ngelike, ngomen, dan kasih hadiaahhh...
Whoaaa makasih banyak yaaaa...🤩😍😍😍😍🤗🤗🤗🤗🤗🤗