
Tak terucap kepiluan ini
Titik hitam yang menghijab hati
Hitung dosa saat pergi takkan kembali
Sisa umur, tidak mundur lagi...
(Diambil dari lagu Nur Tuhan- Group Nasyid Hijjaz)
Audrey
Dunia rasanya seperti berputar, tiba-tiba saja langit sudah dibawah dan bumi yang ia pijak beralih ke atas, dia menunduk dengan kepala yang berkunang hebat, bagaimana bisa...
Pikirkan dulu tawaran ku Drey, kamu cukup melakukan nya sekali ini saja dan bisa mendapatkan uang 50 juta dalam satu kedipan mata.
Kamu bisa bayar semua hutang-hutang mu, bayar sewa kosan, bayar biaya magang dan juga bisa membiayai hidupmu selama dua semester kedepan.
Ucapan Loony terus mendistraksi otaknya, membius pikiran bak heroin yang mulai mencandui pembuluh darah, pelan namun pasti menyelinap kedalam alam bawah sadar nya membentuk sebuah tekad.
Disaat yang bersamaan sesuatu dalam hatinya yang berwarna pink, yang ia yakini bernama Nurani itu berbisik padanya.
Jangan lakukan Audrey, itu bukan kamu, Audrey tidak seperti itu, Audrey anak baik.
Aaarrghhhhhh...
Ponselnya bergetar disaat yang tepat, panggilan Video call dari Bayu, segera ia menggeser icon berwarna hijau dan wajah tampan Bayu seketika memenuhi layar ponselnya.
"Hai, apa kabar?" ia mencoba tersenyum seolah tak ada beban.
"Bad, honey..." Wajah Bayu terlihat murung.
"Ada masalah?"
"Hmmm," Pria itu mengangguk pelan.
Ia tersenyum miris, ternyata Bayu pun sedang ada masalah, bagaimana bisa ia menceritakan kesulitannya saat ini pada laki-laki itu.
"Aku bertengkar lagi sama papa, kali ini lumayan parah, sampe semua kartuku diblokir."
"Lah terus, kamu gimana?"
"Ada Oma, aku sama Oma sekarang."
Ia memang tau sejak sekolah menengah kalau hubungan Bayu dengan papanya tidak begitu baik, walau belum pernah sekalipun melihat rupa papa Bayu seperti apa, ia bisa menebak bahwa pria itu keras dan arogan.
__ADS_1
"Sabar ya sayang, sini aku peluk dari jauh." Ia berusaha menenangkan, padahal justru saat ini ia juga butuh sebuah penenangan. Bayu terkekeh melihat nya.
"I Miss you honey..."
"I Miss you, too." Bisiknya lembut.
"Sorry belum bisa balik Jakarta, tugas masih numpuk, belum lagi ada kuliah umum beberapa hari."
"Gak apa, aku juga lagi sibuk di Rumah Sakit." Ucapnya sendu.
Entah berapa lama keduanya saling melepas rindu, sampai akhirnya sambungan telepon terputus.
.
.
.
Niat hati ingin berbagi masalah peliknya pada sang kekasih, namun Audrey tak tega. Bayu juga tengah memiliki masalah yang tak kalah rumit dari nya.
Ia hanya bisa memejamkan mata, berusaha berfikir namun lagi-lagi buntu. Yang ada, suara Loony terus terngiang di telinga nya, memprogram otak untuk selalu menyetel suara itu berulang-ulang, membuat kepalanya ingin meledak.
Disisi lain, Bu cik Dariyah terus membombardir nya dengan tiap pagi datang menagih uang kosan, ada janji pada Fitri yang jatuh tempo besok, serta biaya magang ke Malaysia yang mesti ditransfer ke rekening akademik tidak kurang dari empat hari lagi.
Belum hutang pada beberapa orang yang berceceran dimana-mana, menuntut minta dilunasi, and Finally, membuat nya berdiri dicermin dengan muka kusut, mata sayu, lingkaran hitam tak pelak melingkar di sekeliling matanya, menandakan bahwa waktu tidurnya tak cukup.
Pilihannya sekarang ada dua, terus maju menyelesaikan kuliah yang tentu saja itu artinya harus menerima tawaran pekerjaan dari Loony, atau mundur teratur dan berbalik badan, mengubur semua cita-cita yang di rancang sejak dulu, merelakan semua harapan dan asa yang telah ditenun sempurna itu.
Dan Audrey memilih pilihan pertama, terus maju. Dadanya bergejolak hebat, peperangan batin tak terhindarkan lagi, antara satu titik hitam yang menghijab hati dan sebuah cahaya pink yang diyakininya adalah nurani itu.
Keduanya terus melancarkan serangan demi serangan, menembakkan argumen- argumen dengan segala kemungkinan resiko yang akan terjadi, tidak ada yang berniat untuk melakukan gencatan senjata, hingga akhirnya nurani kalah, cahaya pink itu memudar dan menghilang ditelan nafsu dunia yang memburu.
Oh Audrey, so poor of you...
"Lon, aku terima tawaran mu." Begitulah akhirnya Audrey mengambil keputusan. Keputusan yang akan membuatnya sangat menyesal dikemudian hari.
"Are you seriously?"
"Yeah, Aku sudah memikirkan nya."
"Baiklah, aku akan kenalkan kamu sama tante Eva besok malam ya."
.
.
__ADS_1
.
Audrey gelisah sejak tadi, duduk berdua bersama Loony dengan tampilan yang berbeda, sungguh ini bukan dia sama sekali.
"Tenang Drey, aku juga dulu seperti kamu waktu pertama kali." Loony tersenyum menenangkan nya, walau sama sekali tak membantu, yang ada ia makin Tremor.
Seorang wanita cantik yang ditaksir Audrey berusia 35an itu datang menghampiri mereka, tersenyum ramah pada keduanya.
"Ini tan temen aku yang aku ceritain kemaren."
Wanita itu mengangguk dan mengulurkan tangannya.
"Tante Reka."
"Audrey." Suaranya bergetar, jelas sekali kalau ia gugup setengah mati saat ini.
"Kamu sudah tau aturan main nya?"
"Busyeet, aturan apa?"
"Belum Tan." Ia menggeleng pelan.
"Mari kita duduk, biar saya jelaskan." Senyum ramah wanita itu tak pernah lepas dari bibir, yang sialnya membuat Audrey bertambah takut.
"Are you virgin?"
Audrey mengangguk dengan nafas tercekat, sumpah dia tidak bisa mengembangkan paru-paru nya lagi, dadanya terasa dihimpit batu besar tak kasat mata.
Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya, sempat ragu untuk balik badan dan lari dari situ, tapi uang 50 juta terus menari-nari di bayangannya, hingga ia tidak begitu fokus pada penjelasan tante Reka tentang persentase bagi hasil dan sejenisnya.
"Jadi tolong kirimkan no rekening Audrey ke tante, di wa kan saja, nanti uangnya tante kirim."
"Drey!" Loony menyikutnya yang masih melongo tak jelas.
"Eh iya, iya tan."
To be Continue...
Libur up dua hari ya reader tersayang...
kita lebaran dulu
Minal Aidzin wal Faidzin
Mohon maaf lahir dan batin...
__ADS_1
Salam dari dokter Galih yang belum muncul batang hidungnya wkkkk...