The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Who is Gladis?


__ADS_3

Audrey


Ia sibuk bekerja di balik meja, melayani pasien yang ingin daftar konsultasi pada kak Galih, namun pikirannya terserak kemana-mana, masih memikirkan kejadian di apartemen kak Dimas tadi.


Uni Sonia dan kak Dimas?? sejak kapan?


Ia geleng kepala dan tersenyum sendiri, sampai dua orang wanita beda usia datang menghampiri. Sepertinya mereka ibu dan anak, tapi tidak mirip, mungkin ibu dan menantu. Sama-sama cantik dan glowing, definisi dari perawatan kecantikan sempurna.


Rekan kerja yang disebelah langsung berdiri dan memberi salam hormat, membuatnya refleks mengikuti.


"Dia ibu dokter Galih." bisik mbak Reka padanya.


"Yang disebelahnya dokter Gladis."


"Dokter Gladis?" Tolehnya.


"Iya, dokter spesialis kulit, CEO nya 'Gladis Cosmetics', terkenal sama produk skincare terbaru nya itu loh sama apa itu yah yang laser anti aging."


Ia hanya magut-magut tak berdaya, diliriknya sekilas wanita yang disebut mbak Reka sebagai ibu dari kak Galih itu, cantik tapi ada keangkuhan tersamar disana, beda jauh dengan ibunya kak Dimas yang juga cantik namun tampak ramah dan bersahabat.


Ia mendesah pelan kemudian duduk lagi. Dua wanita tadi masuk ke ruangan kak Galih, cukup lama hingga mengganggu proses konsultasi pasien, membuatnya sibuk mengatakan, "Tunggu sebentar ya Bu, dokternya lagi ada tamu." Sembari tersenyum menenangkan ibu- ibu hamil yang lelah menunggu antrian itu.


"Dengar-dengar sih dokter Gladis, calonnya dokter Galih. Duh kalau emang benar, cocok sekali ya, tampan sama cantik, mana sama-sama dokter spesialis lagi, double G, eleuh-eleuh." Suara mbak Reka antusias.


Ia hanya tersenyum getir, tak terlalu menanggapi ucapan mbak Reka. Tak lama pintu terbuka, dua wanita cantik melenggang pergi, tanpa sedikitpun basa-basi ke petugas disana, yah apalah kami, hanya karyawan biasa. Ia pun langsung mendata pasien berikutnya karena gangguan sudah berakhir.


Hampir sepanjang sisa waktu pekerjaan yang ada, ia tidak fokus. Beberapa kali salah menulis data, atau lupa rumus Gravida Partus Abortus, sampai ia harus bolak-balik men Tipe-X tulisannya sendiri.


Suara ponselnya berdering, ada pesan masuk, dibukanya ternyata pesan dari kak Galih.


[Masih banyak pasien diluar?]


Sontak ia langsung melihat antrian ibu-ibu yang duduk di bangku antri.


[Sekitar tujuh pasien lagi dok.]


sent...


[ Kok manggil dok sih,]


[Lah iya memangnya mau panggil apa, anda dokter, saya perawat yang bekerja pada dokter]


Cepat-cepat ia mematikan ponselnya, entah mengapa rasanya sesak, ia kesal. Tapi tidak tau mengapa.


"Ada apa?" Toleh mbak Reka yang melihat perubahan air mukanya.


"Tidak ada mbak." Tersenyum kaku.


Tepat saat itu, pintu ruangan kak Galih terbuka, laki-laki itu nampak keluar dan mendekati meja pendaftaran di mana posisinya berada, tentu saja hal ini membuatnya gugup tak karuan.


"Abis ini jangan pulang dulu, tunggu saya disini."

__ADS_1


Ia sempat menelan air liur sebelum akhirnya mengangguk hormat pada laki-laki itu.


"Kamu melakukan kesalahan Drey?" Bisik mbak Reka padanya.


Ia hanya menggeleng pelan," setahu ku tidak ada mbak."


"Tapi kenapa dokter Galih menyuruhmu menunggu?"


"Entahlah." Lagi-lagi ia menggeleng.


.


.


.


Pukul 17.30 wib


Meja pendaftaran pasien telah ditutup, seperti biasa, petugas di meja pendaftaran bisa pulang lebih dulu sebab data pasien sudah diserahkan semua ke meja selanjutnya yakni, meja antri pemanggilan pasien.


Alih-alih menunggu seperti yang diperintahkan kak Galih tadi, ia malah memilih untuk pulang ke Rooftop, sengaja berlama-lama membersihkan diri dikamar mandi.


"Dengar-dengar sih dokter Gladis, calonnya dokter Galih. Duh kalau emang benar, cocok sekali ya, tampan sama cantik, mana sama-sama dokter spesialis lagi, double G, eleuh-eleuh."


Ia memejamkan mata dibawah derasnya guyuran air dari shower. Sesuatu dari hatinya yang ia yakini bernama 'bisikan hati' terdengar berkutbah padanya.


Sebelum kejadian, kamu dipermalukan. Mending mundur teratur ajalah Drey, gak liat tadi emaknya macam apa, diih ngeriii. Kak Galih gak sepadan sama kamu, ibarat kutub Utara sama kutub Selatan gak nemu.


Nah yang ini bukan lagi bisikan hati melainkan bisikan iblis, membuatnya segera mematikan shower. Saat terdengar suara adzan maghrib, barulah ia berhenti dari aktivitasnya dengan tubuh yang sudah menggigil sempurna.


Hampir pukul sembilan malam, bel rumah berbunyi, membuatnya tersentak, sama sekali tak berniat untuk membukakan pintu sebab sudah tau siapa yang datang. Tak lama ponselnya berdering, panggilan suara dari kak Galih, ia biarkan saja ponselnya menjerit-jerit minta diangkat.


Setelah panggilan untuk yang kelima kali, ponselnya lelah menjerit, Ting pesan singkat masuk.


[Kamu kenapa sayang, lagi PMS ya?]


[Aku udah tidur]


[Mana ada orang tidur bisa balas pesan, buka pintunya]


[Gak mau]


Ponselnya kembali berteriak- teriak, membuatnya menyerah dan akhirnya membukakan pintu.


"Ada apa?"


"Kakak yang tanya, kamu kenapa?"


"Tidak ada, aku capek, mau tidur."


Dapat dilihatnya kak Galih mendesah pelan sembari memijit dahi. Laki-laki itu tampak lelah, ia berbalik.

__ADS_1


"Tidurlah, kakak pulang." Ucapnya pelan hampir melirih.


"Ada yang ingin kakak katakan?" Ia mulai goyah.


"Tidak ada, lain kali saja, kamu capek kan."


"Duduklah, aku buatkan kopi." Dan akhirnya ia luluh, membuka pintu lebar-lebar, mengisyaratkan agar laki-laki itu masuk. Dapat ia lihat kak Galih menaikkan ujung bibirnya beberapa mili, membuatnya harus mencibir ke arah pria itu.


"Besok ikut kakak ya, kakak pengen ngenalin kamu ke ayah dan ibu."


"*what!!!! oh nooooo..."


Harus bertemu wanita yang cantiknya mirip Medusa itu.Tuhan, aku belum siap, nanti aku jadi batu kalau melihat mata perempuan itu*.


Ia menelan saliva yang membeku, membuat tenggorokannya sakit teramat sangat.


"Haruskah?" Pelan, sangat pelan ia berkata.


Kak Galih diam, kemudian meraih tangannya, meremasnya perlahan.


"Kakak sudah berjanji akan menikahimu bukan? kakak tidak pernah main-main dalam mencintai seseorang, jadi menikahlah denganku."


"Mungkin sedikit sulit kedepannya, tapi selama kamu percaya kakak, semua akan baik-baik saja."


"Aku, a-ku masih kuliah." Ia tergagap.


"Tidak masalah, peraturan kampus, boleh menikah asal tidak hamil kan, kakak janji tidak akan menjadi penghalang cita-cita mu."


"Tapi..."


"Gladis? maksudnya dokter Gladis? dia siapa?" Tatapnya pada sang kekasih.


"Gladis?" kak Galih mengangkat tinggi alisnya.


"Iya, siapa dia?"


"Oh, dia teman ibu, dokter kecantikan langganan ibu."


"Yang tadi ke klinik ibu kakak kan?"


Lagi-lagi kak Galih diam sejenak, kemudian mengangguk singkat.


"Besok kita temui ayah dan ibu kakak, setelah itu kita temui ibumu."


To be Continue...


happy reading yaaa


sehat sehat selalu readers tersayang


lancar urusan dan pekerjaan nya hari ini ya

__ADS_1


aminnnnnnnnn


__ADS_2