The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Oh Medusa...!!!


__ADS_3

Audrey


Entah untuk keberapa kali ia mematut penampilannya dicermin. Rambut sebahu ia gerai dengan jepit rambut menyamping, makeup tipis, bibir dibalut dengan lipstik berwarna nude dan dress selutut.


"Bagaimana?" Tolehnya pada kak Galih yang berdiri di depan pintu kamar, memandanginya sejak tadi.


"Cantik."


"Dan akan selalu cantik."


"Issh, gombal. Ayo berangkat." Ia mendului kak Galih keluar dari pintu.


"Drey..."


"Ya?"


Kak Galih diam sejenak, menatap manik matanya dalam, sembari mencengkeram kedua bahunya.


"Apapun yang dikatakan ibu nanti, kakak harap kamu tidak terlalu mendengarkan nya oke, fokus saja ke kakak dan hubungan kita, kita hanya perlu restu ayah, yang lain tak berarti."


Ia mengeryit heran, mengapa restu ayah, bukankah ibu lebih utama. Ibu yang melahirkan dan menyusui bukan. Dan sepertinya kak Galih menangkap kebingungannya.


"Dia hanya ibu tiri, dia tidak terlalu menyukai ku, dan aku pun sama, jadi jangan takut padanya."


Ohh, pantas saja, sekilas ia mengangguk pelan sebelum tangannya digandeng kak Galih menuruni tangga menuju mobil.


***


Kata orang pandangan mata selalu menipu, tapi agaknya pandangan matanya benar kali ini. Sesuai prediksinya ibu kak Galih adalah jelmaan Medusa, tokoh antagonis yang berambut ular, siapapun yang terkena tatapannya akan berubah wujud menjadi batu, menyesal juga ia tidak menyiapkan kaca mata hitam sebelum berangkat tadi. Alhasil, ia hanya menunduk sepanjang pertemuan keluarga itu.


"Bekerja di mana?" Medusa itu, eh salah ibunya kak Galih bertanya.


"Saya karyawannya kak Galih tan, kerja di klinik."


Tatapan wanita itu jelas mengejek, dia bisa melihat dari ujung bibir yang ditarik 30 derajat kearah barat daya.


"Lulusan apa emangnya?"


"Masih mahasiswi, jurusan keperawatan, insyaAllah dua semester lagi lulus tan."


"Ohh." Wanita itu mencibir lagi sekilas, membuatnya ingin sekali melempar vas bunga kearah ibu kak Galih.


"Orang tua dimana nak?" Kali ini ayah kak Galih yang bersuara, suara yang berwibawa dan tenang.


"Ayah sudah meninggal om, ibu menikah lagi ikut suaminya."


Laki-laki itu mengangguk pelan.


"Galih belum pernah ngajak wanita ke rumah, kamu yang pertama kali, sudah lama kenal sama Galih?"


" Sudah lama yah." Kali ini kak Galih yang menjawab.


"Tinggalnya dimana?" Ibu kak Galih bersuara lagi.

__ADS_1


Ia sempat menoleh ke arah kak Galih sekilas.


"Audrey tinggal di Rooftop klinik Bu." Lagi-lagi kak Galih yang menjawab.


Wanita itu mengeryit dalam, dapat dihitung lipatan jidadnya, sangat syok.


"Kok tinggal disana? bisa jadi gosip orang-orang nanti, kamu nyimpan wanita."


"Yah nggak lah bu, aku kan tinggal di apartemen, jauh juga."


"Emangnya gak ada tempat lain lagi apa sampai harus numpang."


"Ibu,,!!" Kak Galih menginterupsi.


Ia hanya tersenyum getir, emang iya dia numpang jadi mau diapakan lagi.


"Kami kesini mau minta restu, aku ingin menikahi Audrey." Suara datar kak Galih terdengar horor, tidak seperti membawa berita gembira melainkan seperti mengabarkan sebuah kematian.


"Dia masih kuliah Galih, tamat aja belum, nanti kalau sudah lulus baru mikir nikah. Apa jangan-jangan udah ngisi duluan?"


"Bu...!" Tatap tajam mata ayah kak Galih pada istrinya, membuat wanita itu mengedikkan bahu.


Ohh Lord, wanita ini benar-benar...


Ia sudah menggepalkan tangannya siap menyerang dengan rahang mengeras.


"Ayah mau bicara berdua sama Galih, ayo Galih."


Laki-laki paruh baya itu berdiri kemudian menuju sebuah ruangan lain di rumah itu dan di ikuti oleh kak Galih.


Ia hanya mengangguk sekilas sambil tersenyum getir.


Sekarang tinggallah ia berdua dengan si Medusa diruangan itu, mereka saling tatap sengit, seolah ingin menerkam satu sama lain.


"Kamu tidak seharusnya mendekati Galih." Medusa mendesis.


"Bukan aku yang mendekati kak Galih, tapi dia yang cinta mati padaku."


"Percaya diri sekali, Galih memang baik ke semua orang, jangan salah artikan itu sebagai cinta, kami sudah punya calon untuknya." Gertak wanita itu.


"Dia hanya ibu tiri, dia tidak terlalu menyukai ku, dan aku pun sama, jadi jangan takut padanya."


"Oh ya, silahkan jodohkan mereka kalau begitu." Ia menyeringai, sama sekali tak takut pada tatapan ibu tiri kak Galih. Mereka saling tatap, tak ada yang ingin mengalah, sampai tiba-tiba sebuah suara manis terdengar.


"Hai tan, lagi ada tamu ya?"


Sontak keduanya menoleh ke sumber suara, dokter Gladis sudah berdiri anggun disana dan tentu saja mengubah wajah Medusa menjadi cerah secerah mentari.


"Eh Gladis, duduk duduk."


Ia hanya menatap aneh pada dua wanita dihadapannya. Entahlah, ia hanya merasa hubungan keduanya hanya sekedar simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain. Bisa jadi dokter Gladis mendekati ibu karena menyukai kak Galih, dan sebaliknya, si ibu mendekati dokter Gladis sebab ingin perawatan wajah gratis, siapa yang tau.


"Dia siapa?" Toleh dokter cantik itu padanya.

__ADS_1


"Oh dia perawat yang bekerja di klinik Galih." Medusa cepat-cepat bicara, dan ia tak ingin cari masalah hanya diam mematung.


"Ini Gladis, dokter kecantikan, CEO nya Gladis Cosmetics." Seringai Medusa bangga.


Gladis tersenyum ramah dan dibalas senyum pula olehnya.


"Oh tunggu sebentar, ibu buatkan minum ya." Wanita itu berdiri dan mengarah ke pantry, membuatnya harus menahan dongkol dihati, ia yang jelas dari tadi disini, sama sekali tak ada basa-basi untuk dibuatkan minum, sedang Gladis yang baru datang langsung di service sedemikan rupa. Oh Tuhan, betapa tak diinginkan nya ia di keluarga ini.


"Datang bersama dokter Galih?" Gladis menatapnya penuh penilaian.


"Iya dok, eh mbak."


"Ohh, siapanya dokter Galih, kok sampai ikut kerumah?" Jelas Gladis tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Ia sedikit membenarkan posisi duduknya sebelum menjawab dengan kepercayaan diri maksimal.


"Saya calon istrinya dokter Galih."


Hahaaaa, Audrey good job you are...!!


Ia dapat melihat wajah dokter cantik itu berubah seketika.


"Apa mbak tidak diberitahu oleh tante Medusa, eh sorry tante ibu nya kak Galih? bahwa kak Galih akan menikah dengan ku?" memasang tampang pura-pura terkejut.


"Ti- dak, tidak, dia tidak bicara apa-apa."


"Ya Tuhan, dia hanya memanfaatkan mu mbak, segera menjauh dari wanita itu, dia hanya ingin perawatan wajah gratis darimu, dia tidak benar-benar menjodohkan mu dengan kak Galih, sebab kami akan segera menikah."


Sontak saja Gladis menggeram, nampak dari rahangnya yang mengeras, sumpah ia ingin terbahak, jahat sekali kamu Audrey, membuat wanita cantik ini kebakaran jenggot.


"Jauhi wanita itu mbak, ini saran gratis dariku." Ia mengangguk pelan menyakinkan Gladis, dan sukses, sepertinya Gladis terpengaruh. Agaknya materi kuliah keperawatan jiwa tentang BHSP (Bina Hubungan Saling Percaya), bisa ia terapkan dengan sempurna disini.


Tak lama, Medusa datang tergopoh-gopoh membawa nampan berisi jus buah, hanya satu. Busyeet emang calon mertua yang satu ini.


"Maaf Gladis sayang, nunggu lama. Ini diminum dulu."


"Tidak, terimakasih. Saya harus pulang." Gladis berdiri dan melenggang pergi tanpa menoleh lagi, sontak saja si Medusa panik luar biasa melihat perubahan Gladis yang tiba-tiba.Wanita paruh baya itu menatapnya sengit.


"Apa yang kamu bicarakan ke Gladis?" Ucapnya dingin.


Ia hanya mengedikkan bahu, mendekati wanita itu dan meraih gelas jus, meminumnya dengan sekali teguk.


"Terimakasih minumnya tante, enaak." Ia mengelap ujung bibirnya dengan ibu jari. Hal itu langsung memancing kemarahan Medusa.


"Dasar wanita tak tau diri!!!" Medusa menjambak rambut Audrey hingga kepalanya tertarik kebelakang, tepat disaat yang sama kak Galih keluar bersama ayahnya.


"IBUUU !!!!


"JANGAAN SENTUH AUDREY !!!!!"


To be Continue...


Happy reading

__ADS_1


Jum'at barokah, sehat semuaaaaa


__ADS_2