The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Bunga Terakhir


__ADS_3

Hai hai...


Readers tersayang kuh yang jumlahnya sama dengan anggota kesebelasan sepak bola, yang nge like maksudnya😂😂😂, mungkin yang baca diam diam tanpa meninggalkan jejak banyak kali ya🤔🤔🤭


Sebelumnya makasih banyak udah mampir di novel-novel ku😍😍😍


Makasih udah membersamai The Rooftop Girl sampai di episode 50..🎉🎉🎉🎉


Seperti biasa, novelku gak panjang-panjang episode nya, sebenarnya kisah The Rooftop Girl Galih Audrey tinggal beberapa part lagi tamat tapi ternyata ada cerita nya Dimas- Sonia yang nyempil disini, jadi kita lanjut selesaikan ya...Untuk part-part berikutnya fokus penyelesaian konflik Dimas-Sonia


Happy reading...


***


Jakarta,


Pukul 08.00 wib


Dimas


Pagi-pagi ia sudah berada di kantor, berpakaian seragam coklat lengkap, dengan pangkat di pundak serta lencana di dada kiri, rapi sekali, tidak biasanya. Yah, ia sangat jarang memakai seragam ke kantor, kalau tidak ada rapat atau pertemuan.


Pakaian kebangsaan nya biasanya hanyalah kaos polo berwarna navy, atau kemeja putih, tapi berhubung hari ini akan ada pertemuan di Polrestabes nanti siang, ikut rombongan bapak Kapolres, ia harus mengenakan PDH (Pakaian Dinas Harian) lengkap.


Sudah tiga minggu lebih, namun Sonia tidak juga memberi keputusan padanya, apa mungkin gadis itu menolaknya. Yah probabilitas penolakan dari Sonia memang sangat besar, pertama Sonia pernah mengatakan tidak suka polisi, kedua gadis itu mencari lelaki yang agamanya bagus, ketiga dia duda bahkan sudah punya ekor satu, jelas Sonia akan memilih Hannan yang masih bujangan, yang seorang ustadz dan terlebih lagi bukan seorang polisi.


Ia tersenyum getir menatap layar laptop yang mati, hatinya begitu sakit, ada sesuatu semacam sembilu yang mengoyak jiwa, begitu dalam. Ouuchh shhitt, rupanya seperti ini rasanya patah hati, sangat menyakitkan. Derita orang seperti dirinya yang tak pernah mengalami penolakan seumur hidup. Dan sekarang, baru pertama kali mengalami yang namanya ditolak, sakitnya parah.


Entah mengapa, harapannya pada sosok Sonia begitu besar, ia tidak pernah jatuh cinta sedalam ini sebelumnya, sampai tidak rela jika gadis itu mencintai pria lain. Seperti yang pernah ia baca dalam sebuah novel, bagian terberat dari mencintaimu, adalah saat mengetahui bahwa kau mencintai orang lain, dan bukan diriku. Betul sekali.


Dihembuskannya nafas dalam, berharap sesak didada akan berkurang, nyatanya tidak sama sekali, malah ia bertambah sesak. Come on Dimas, ini bukan dirimu, yang mellow hanya karena seorang wanita.


"Mau kemana bang?" Elan menyahut saat mendapati dirinya yang telah meraup kunci mobil diatas meja.


"Keluar sebentar, rapat tiga jam lagi kan, nanti jam 10 abang balik lagi ke kantor."


Ia mengemudikan mobil pelan menyusuri jalan, tanpa arah, tanpa tujuan. Dan entah semesta lagi berbaik hati atau memang telah jodohnya, gadis itu. Yah, Sonia yang cantik berseragam putih-putih, khas orang kesehatan berjalan sendirian menenteng tas plastik berisi kertas dan buku-buku.


.


.


.


Sonia


Masih jam sembilan ketika ia baru saja keluar dari area Rumah Sakit mengambil data guna keperluan proposal penelitian skripsi nya, tak ada jadwal kuliah, hingga ia berniat untuk pulang kerumah. Namun sebuah mobil membunyikan klakson pelan tepat disisi ia berjalan.


Ia berhenti dan mengenali mobil itu sebagai kepunyaannya kak Dimas. Laki-laki itu keluar dari mobil, tersenyum simpul, tampak gagah berseragam cokelat yang sangat pas ditubuhnya, tidak bisa dipungkiri bahwa pria-pria berseragam akan terlihat jauh lebih mempesona.


Wooii, Sonia apa-apaan, istighfar, wooi. Tundukkan pandang, Jeng!!!


Hatinya yang dindingnya dicat putih, ribut mengingatkan.


Ia akhirnya balas tersenyum, setidaknya senyum lega sebab melihat kak Dimas baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun, ternyata yang malam tadi hanya bunga tidur, syukurlah.


"Mau kemana?" Kak Dimas mendekatinya.

__ADS_1


"Mau pulang."


"Kakak antar?"


"Bukannya sekarang jam kerja, kok keluyuran?" Selidiknya pada laki-laki itu.


Kak Dimas melirik jam tangannya sekilas.


"Masih ada waktu satu jam lagi, ikut kakak sebentar, ada yang mau kakak tunjukkan." Kak Dimas yang tanpa menunggu persetujuannya langsung membukakan pintu mobil.


"Kemana?" Tolehnya sekilas pada laki-laki yang fokus pada kemudinya itu.


"Sebentar lagi sampai." Dan tak lama pun, mobil sudah terparkir cantik di depan sebuah kios bunga.


"Tasnya tinggal di mobil aja dulu, ayo." Kak Dimas membukakan pintu mobil untuknya. Tapi ia tidak bergeming.


"Ada apa?"


Ia menghela nafas pelan, "Kakak tidak malu ngajak gadis ke kios bunga dengan masih berseragam lengkap di jam jam kantor seperti ini?"


Dapat ia lihat kak Dimas tertegun, kemudian tersenyum kikuk, ia masuk lagi ke dalam mobil, meraih sesuatu dari arah jok mobil bagian belakang yang ternyata sebuah sweater bewarna abu-abu, memakainya cepat.


"Seperti ini cukup?"


***


Mereka berjalan beriringan masuk ke area kios yang paling belakang dan, sesuatu yang membuatnya benar-benar terperangah, ada ratusan spesies mawar tengah berkembang, berjejer cantik disana.


"Waktu pertama kali kesini, kakak berpikir kamu pasti akan sangat senang jika suatu saat diajak melihat ini semua."


"Kakak beli mawar-mawar yang kemarin disini?" Tolehnya sebentar.


"Mas, bisa minta tolong bikinin buket mawar, ukuran jumbo ya." Kak Dimas bicara pada pegawai kios.


"Warnanya campur atau..."


"Mawar merah semua."


Ia memilih untuk berjalan pelan mengitari deretan bunga mawar yang bewarna- warni disana. Tak lama, dari arah belakang, ia melihat kak Dimas sudah membawa buket bunga mawar ukuran jumbo.


"Untukmu, ambillah." Ucapnya pelan.


"Mungkin ini akan jadi bunga terakhir, jika pilihanmu tidak jatuh padaku nanti." Dan kak Dimas tersenyum lagi.


"Maaf, aku- aku..."


"Tidak apa, jangan dipaksakan kalau itu menyangkut bab perasaan." Ia tersenyum tenang, and again, he's smile.


"Maksudku sampai saat ini aku belum bisa memutuskan, beri aku sedikit waktu lagi."


"Yah, never mind, I'll wait your answer. Aku hanya ingin kamu tau bahwa aku memiliki harapan besar padamu, aku mencintaimu Sonia, really love you."


"Aku, aku tidak pernah jatuh cinta sedalam ini sebelumnya, a- ku, I'm sorry, speaking of love..." Kak Dimas memijit pangkal hidungnya berkali-kali.


***


"Aku akan memberi jawaban secepatnya, Terimakasih bunganya." Ia mengangguk pelan dan keluar dari mobil kak Dimas yang tepat berhenti di depan masjid dekat rumah setelah meninggalkan kios bunga tadi.

__ADS_1


"Maaf tidak mampir, salam ke amak dan Agil." Suara kak Dimas dari dalam mobil.


"Iya, terimakasih." Ia masih berdiri hingga mobil kak Dimas pergi menjauh, kemudian cepat-cepat berjalan sambil membawa buket bunga besar ditangan.


Ia meletakkan buket bunga itu diatas meja belajar, memperhatikannya lamat-lamat, mawar merah yang berdasarkan filosofi nya adalah bunga yang mewakili perasaan cinta yang dalam kepada pasangan. Hatinya berdesir, cukup lama ia termenung memandang bunga itu.


"Mungkin ini akan jadi bunga terakhir, jika pilihanmu tidak jatuh padaku nanti."


Entah mengapa ia tidak rela jika itu adalah bunga terakhir, ia ingin terus dikirimi bunga oleh sosok itu, hari ini, esok hari, bahkan bertahun-tahun lagi kedepan. Apakah itu artinya ia sudah memiliki jawaban?


.


.


.


Jakarta: Teror bom bunuh diri kembali terjadi. Kali ini sasaran ******* mengarah ke Polrestabes Jakarta Pusat pukul 12.00 wib siang ini. Selain korban tewas, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Mulyono, mengungkap sebanyak enam orang mengalami luka, yang terdiri dari empat anggota Polri, satu pekerja harian lepas, dan satu warga sipil.


***


Ponselnya tak henti berdering siang itu, ia yang lagi membantu amak menggoreng, terpaksa menghentikan aktivitas demi melihat siapa yang menelpon.


"Haloo, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, uniii!!!" Suara Audrey terdengar menangis diujung telpon.


"Ada apa Drey?"


"Kak Dimas...kak Dimas, uni ke RS Bhayangkara sekarang, kami sudah kumpul disini."


Kak Dimas...


"Kak Dimas, kenapa?" Jelas ia tak bisa lagi menyembunyikan kepanikannya.


"Kak Dimas jadi korban bom bunuh diri di Polrestabes siang ini."


Degg


Waktu seolah terhenti, nafasnya tercekat, telpon terputus dan ia masih terpaku ditempat.


Bunga terakhir


Ku persembahkan kepada yang terindah


Sebagai satu tanda cinta untuknya


Bunga terakhir


Menjadi satu kenangan yang tersimpan


Takkan pernah hilang 'tuk selamanya


(Bunga Terakhir- Baby Romeo)


To be Continue


Happy reading...

__ADS_1


Siap-siap naik Rollercoaster, yuukkk here we go...


__ADS_2