
Dimas
Ia sibuk berkutat dengan lembaran kertas laporan kejadian perkara di kantor ketika ponsel di saku celananya berdering. Diliriknya sekilas nomor baru tengah melakukan panggilan. Sengaja tak diangkatnya, ia memang tidak terbiasa mengangkat panggilan nomor yang tidak bernama. Selang beberapa menit, sebuah pesan masuk.
Kak, ini Audrey. Pake ponsel nya Sonia, ponsel Audrey lobet. Tolong angkat telponnya.🙏🙏
Ia tidak membalas pesan itu, melainkan menelpon langsung nomor tersebut, sambungan diangkat.
"Hallo, apa apa Drey?"
"Hallo, assalamualaikum." Suara halus nan merdu terdengar disana.
"Ups, ya Waalaikumsalam." Suaranya tercekat sebab malu tak mengucapkan salam lebih dulu, ia memijit pangkal hidungnya sendiri.
"Maaf pak, ini Sonia, tadi Audrey mau nelpon ada perlu, tapi sekarang dia lagi ke belakang sebentar." Lagi suara merdu itu terdengar, entahlah baru kali ini ia mendengar suara sebening itu, menenangkan setiap yang mendengar.
"Oh iya, nanti saya telpon lagi."
"Iya pak, terimakasih."
"Ehh, tunggu..."
"Iyaa??"
"Jangan panggil bapak, kamu kan temannya Audrey, panggil seperti Audrey memanggil saya."
Hening sepersekian detik...
"Baiklah -kak-, nanti saya kabari kalau Audrey nya sudah kembali, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sambungan terputus, namun ia masih menatap ponselnya, menyimpan kontak baru itu dengan nama Sonia.
Dilihatnya foto profil pada kontak Sonia, gambar seorang gadis berhijab panjang tengah menghadap pantai memunggungi kamera hingga tak nampak wajahnya, hanya siluet tubuhnya saja, tapi ia sudah bisa menebak itu Sonia.
Baru saja ingin menyimpan ponselnya kembali, kontak Sonia menelpon lagi
"Hallo, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, kak ini Audrey."
"Iya Audrey, ada apa?"
"Kakak sedang sibuk?"
"Tidak juga, ada apa?" Ia mengulangi pertanyaannya, mesti ada yang tidak beres mendengar suara gadis itu parau seperti habis menangis.
"Audrey ada perlu, tapi tidak bisa dibicarakan Lewat telpon, bisa ketemu?"
"Kakak ke Rooftop sebentar lagi, tunggu disana."
"Iya kak." Panggilan telpon terputus.
.
.
.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang ke arah klinik Galih, berjalan cepat menaiki anak tangga menuju Rooftop gedung lantai tiga itu. Ia mengeryitkan dahi kala telah sampai di atas, pemandangan yang ia lihat sungguh menggelikan.
Gadis itu bicara dengan bunga mawar, yang benar saja, apa Sonia sudah tidak waras. Ia berjalan mendekati Sonia yang berdiri menghadap tanaman mawar yang tumbuh di taman buatan dekat gazebo.
__ADS_1
"Ehemm." Dia berdehem kecil yang sontak membuat gadis itu menoleh dan menghentikan aktivitasnya.
"Oh, sudah sampai, Audrey masih di dalam." Ucap Sonia setengah gugup, ia tau gadis itu selalu gugup, terakhir bertemu waktu makan seblak ceker Sonia juga gugup dan selalu menunduk.
"Kamu, sedang apa?" ia sengaja melirik ke arah mawar kuning yang diajak bicara oleh gadis itu tadi.
"Oh ini, ngobrol sama mawar."
Ia sangat menahan diri untuk tidak tertawa saat itu, alih-alih terbahak ia hanya menyunggingkan senyum, dan sialnya Sonia melihat itu.
"Kenapa? ada yang aneh?" Selidik gadis itu.
"Ya jelas aneh, kamu bicara dengan tumbuhan, yang benar saja."
Sonia menaikkan alisnya dan beralih menatap mawar kuning itu.
"gelombang suara dengan frekuensi tertentu mampu merangsang stomata(mulut daun) tetap terbuka, sehingga dapat meningkatkan laju dan efisiensi penyerapan unsur hara dan mineral pada media tumbuh tanaman."
"Tumbuhan juga punya indra yang bisa merespon setiap rangsangan yang ada, termasuk suara. Mereka bisa menerima gelombang ultrasonik dari sekelilingnya, coba lihat struktur daun dan bunga setiap tangkainya berbeda-beda, ayo lihat." Sonia berbicara fasih sampai ia sulit membedakan gadis ini sebenarnya perawat atau ahli botani.
Ia ikut menunduk memperhatikan struktur tulang daun dari mawar itu, benar juga, susunannya unik dan berbeda- beda.
"Coba bicara pada mereka."
Hah, yang benar saja. Ia kembali berdiri dan tersenyum kikuk.
"Setelah aku bicara pada bunga ini, dapat dipastikan tidak ada lagi yang melaporkan kasus padaku, karena akan dianggap polisi gila yang bicara pada mawar."
"Tidak, terimakasih, lain kali saja." Ucapnya tersenyum penuh arti pada Sonia.
.
.
.
"Kakak, sudah disini?" Ia berjalan mendekati kak Dimas yang entah sedang membicarakan apa dengan uni Sonia.
"Iya, dari tadi."
Mereka duduk di gazebo bertiga, ia sempat menghembuskan nafas pelan sebelum akhirnya kak Dimas bersuara.
"Any problem?"
"Mantan pacar kakak mau melaporkan aku ke polisi."
"Mantan pacar? siapa?"
"Yang polwan di apartemen kakak dulu." Ia menatap Dimas.
"Zia?"
Ia mengangguk pelan menahan tangis.
"Kenapa bisa?"
"Aku berkelahi dengan adiknya."
"Maksud kamu Zizi? kamu ada apa dengan Zizi?" Dimas mengubah posisi duduk, mencondong ke arahnya.
Ia menceritakan semua kejadian yang terjadi dikampus pagi tadi, sampai akhirnya diancam oleh Zia untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. Kak Dimas mendengar dengan serius tanpa berkomentar sedikit pun.
__ADS_1
"Serahkan pada kakak, kakak akan mengatasinya sebelum mereka membuat pengaduan."
"Terimakasih kak." Ia menyusut air mata yang keluar dari sudut mata dengan punggung tangannya.
"Galih sudah tau?"
Ia menggeleng pelan.
"Beritahu dia, kalau ada apa-apa, pasangan adalah orang pertama yang mesti tau, jangan sampai dia mendengar dari orang lain."
Ia mengangguk, kak Dimas benar, ia harus menceritakan ini ke kak Galih, mengingat hancurnya hubungan pada Bayu dulu disebabkan karena ia tidak terbuka pada pria itu, tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, ia berjalan kearah rumah dengan ponsel ditelinga.
***
Dimas beralih menatap Sonia yang sontak langsung menunduk.
"Kamu ada di tempat kejadian perkara kan?" Ucapnya geli melihat ekspresi gadis itu, persis seperti kucing, definisi dari istilah ' malu-malu kucing'.
"Iya."
"Kalau begitu kamu saksi."
"Iya sa-ya, saya bersedia kapanpun jika harus diminta memberikan kesaksian kelak." Sonia jelas menyembunyikan kegugupannya.
"Baguslah."
Hening sejenak, Sonia masih betah menunduk. Tak lama Audrey kembali lagi masih menggenggam ponsel ditangan.
"Drey, sepertinya uni pulang dulu ya, insyaallah besok uni kesini lagi" Tiba-tiba Sonia berdiri mendekati Audrey.
"Terimakasih uni." Mereka saling berpelukan cipika-cipiki, yah gaya wanita kala bertemu atau berpisah dengan koloninya.
Dimas juga ikut berdiri.
"Kakak juga masih ada urusan dikantor Drey. Kamu jangan khawatir, pokoknya biar kakak yang selesaikan, serahkan saja pada kakak." Dimas menepuk bahu Audrey.
"Terimakasih kak."
***
Sonia lebih dulu menuruni tangga dengan langkah tergesa, namun tetap saja Dimas bisa mengikuti dari ujung ekor matanya.
"Hei, tunggu."
Gadis itu menghentikan langkahnya
"Saya antar."
"Tidak perlu kak, saya bisa pulang sendiri."
"Come on, kamu kan saksi. Saksi harus dilindungi."
"Saya saksi dari perseteruan dua gadis remaja, bukan saksi pembunuhan berantai, apa yang harus dilindungi." Jelas Sonia mencibir kearah Dimas, membuat pria itu ingin meledak tertawa.
"Saya tidak terbiasa dengan penolakan, ayo pulang sama saya."
"Dan saya juga tidak terbiasa dengan paksaan, terimakasih." Sonia kembali menuruni tangga mendului Dimas.
To be continue...
happy weekend yaaa
__ADS_1