The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Sup Tulang Iga


__ADS_3

Aurora


Hari pertama selalu menyakitkan. Seperti bulan- bulan sebelumnya, ia selalu mengambil cuti karena tidak bisa melawan nyeri yang selalu datang setiap menstruasi meski telah meminum obat anti nyeri. Sebagai gantinya , ia bisa meringkuk sepuasnya di tempat tidur.


Dering ponsel yang memekakkan telinga menambah intensitas nyeri yang ia rasakan, pelan ia meraih ponsel yang bergetar di atas nakas.


Abi calling...


"Hai..." Suara renyah laki-laki itu terdengar di seberang telpon berbanding terbalik dengan suaranya yang lemah menahan sakit.


"Hai..."


"Kamu kenapa?" Abi langsung bisa mendeteksi perubahan suaranya yang seperti menahan sesuatu.


"Biasa, sakit bulanan..."


"Aku di depan apartemen, bisa bukain pintu nggak?"


"Sebentar..."


Setelah mengumpulkan tenaga yang cukup lama, ia mencoba berdiri sambil memegangi perut yang makin terasa nyeri. Dengan bertumpu di sepanjang dinding, akhirnya ia bisa membuka pintu.


Abi langsung memapahnya untuk duduk di sofa saat pintu terbuka. Laki-laki itu terlihat panik dan bingung, "Aku antar ke Rumah Sakit ya."


"Tidak perlu, udah biasa seperti ini kalau lagi datang bulan."


Dengan dibantu Abi, ia kembali ke kamar. Laki-laki itu membaringkannya di tempat tidur dan menyelimutinya, ia terlalu sakit untuk berbicara sekarang. Tanpa mempedulikan Abi, ia meringkuk dibawah selimut.


Sayup-sayup terdengar bunyi mesin blender diputar dari arah dapur. Cukup lama mengenal Abi, dan sudah berapa kali Abi bertandang ke apartemen nya, laki-laki itu sudah paham semua isi apartemennya. Tak lama Abi datang membawa segelas smoothies.


"Ini minum dulu." Abi menyibak selimutnya. meletakkan gelas yang dipegang ke atas nakas sebelum membantunya untuk duduk.


"Apaan nih?"


"Smoothies pisang campur bayam sama yogurt, aku lihat ada dalam kulkas. Bagus untuk nyeri."


Ia meminumnya sampai habis walau sama sekali tak enak, namun cukup ampuh. Entah berapa lama Abi menungguinya, ia tidak tahu, sampai ia terlelap tidur, meringkuk sambil menekan bagian perut.


Hampir tengah hari ia terbangun, nyerinya sudah berkurang. Perlahan ia keluar kamar setelah membersihkan diri. Dilihatnya Abi tengah asyik menonton televisi.

__ADS_1


"Sudah bangun? aku udah bikin sup, mau makan? aku angetin ya." Abi sudah mau berdiri dari duduk.


"Biar aku aja." Ia berjalan ke dapur. Dan benar saja sudah ada sup tulang iga di dalam panci.


"Beli dimana tulang iga?"


"Di minimarket bawah tadi." Abi mengikutinya ke dapur dan duduk dimeja makan.


"Kok bisa di Sapporo, bukannya kemaren telpon lagi di Manila?"


"Ada jeda tiga hari sebelum jadwal flight jadi aku kesini, numpang pesawat nya teman yang ke Sapporo."


"Gila kamu ya..." Ia berdecak sambil geleng kepala. Waktu yang seharusnya dipakai Abi untuk istirahat malah pria itu menempuh jarak yang jauh untuk kesini.


Ia mencoba mengangkat sup yang sudah dipanaskan," Biar aku aja, kamu duduk." Abi berdiri dan mengambil alih pekerjaannya.


Ia menatap punggung pria itu yang sibuk memindahkan sup ke mangkuk. Sejauh ini berteman dengan Abi, orangnya asyik, dan nyaman.


Bersama Abi, ia bisa menjadi dirinya sendiri, tak ada yang ia coba tutupi. Walau terkadang tatapan Abi dan perlakuan pria itu sedikit membuatnya salah tingkah. Sampai pernah ia berfikir jika Abi menyukainya, namun sampai saat ini Abi tak pernah membahas masalah perasaan.


Apakah cewek dan cowok beneran bisa berteman tanpa ada kemungkinan salah satu atau keduanya bakal naksir?


Banyak yang mengibaratkan kalau pendapat 'we're just friends' itu sebatas fasad yang sengaja didirikan untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Apakah Abi seperti itu? entahlah...


"Nih, makan dulu." Suara Abi memecah lamunannya, membuatnya terkesiap.


"Ambil cuti berapa hari?" Abi menatapnya yang tengah menghirup kuah sup.


"Cuma dua hari."


"Dua minggu dari sekarang bisa cuti lagi gak?"


"Kenapa?" Ia menghentikan aksi makannya.


"Aku baru bangun resort di Bali, ikutan acara opening nya yuk."


"Wuihhhh Captain Abimanyu Syailendra udah merambah dunia bisnis, berapa duit tuh buat bangun resort." Matanya berbinar takjub.


"Saham ku cuma 20%, Daddy ikutan bantu 50%, ada beberapa teman juga yang gabung. Jadi rame-rame."

__ADS_1


"Nanti aku tukaran jadwal sama teman yang flight ke Jakarta, so kamu bisa ikut duduk di kokpit."


Ia mengangguk antusias, "Boleh...boleh..."


"Cuma dua hari doang, tapi nanti kalau mau langsung ke Jakarta ketemu keluarga kamu gak apa juga."


Ia kembali mengangguk sambil terus menghirup kuah sup.


"Doyan apa doyan sih?" Lirik Abi pada mangkuk supnya yang sudah kosong.


"Two tumbs up for you." Kekehnya sambil mengangkat kedua ibu jari ke udara. "Masakan kamu enak banget, mama mesti belajar masak sup sama kamu nih."


Abi tertawa lalu menambah isi mangkuknya lagi.


.


.


.


Abi


Ia mendarat di Manila pukul empat sore, ada libur tiga hari sebelum melanjutkan flight berikutnya. Biasanya waktu seperti ini akan dimanfaatkan nya dengan istirahat di hotel, tentu saja dengan ditemani oleh wanita-wanita antah berantah yang terkadang ia sendiri tidak tahu siapa.


Namun sudah berapa lama ia tidak seperti itu lagi, lebih tepatnya tidak berminat sejak ia mulai mengenal Rora. Seperti sore ini, alih-alih beristirahat, ia malah menyusun rencana untuk ke Sapporo. Kebetulan Eddy, pilot seniornya ada flight kesana, lumayan bisa numpang kursi.


Jadilah ia ikut penerbangan malam dari Manila, Philippines ke Sapporo, Hokkaido. Sungguh perbuatan yang benar-benar gila dalam sejarah hidupnya.


Sampai saat ini ia masih nyaman hanya berteman dengan Rora. Tidak perlu terburu-buru untuk menyatakan perasaan. Ia takut salah mengambil langkah, yang ada nanti ambyar.


Entahlah, sesungguhnya trauma untuk menjalin sebuah hubungan itu masih sangat terasa. Walau terkadang juga, cinta bertopeng persahabatan pun membuatnya risih.


Dua minggu lagi acara pembukaan resort nya di Bali. Resort yang dibangun diatas lahan milik papa, dan gabungan investasinya dan beberapa teman-teman sekolahnya dulu.


Dan impian terbesarnya adalah mengajak Rora ke acara tersebut. Ia sudah mempersiapkan segalanya termasuk mempersembahkan penerbangan paling menyenangkan untuk Rora kelak, agar gadis itu akan selalu mengingatnya sampai kapanpun.


To be Continue


Happy reading yaaa

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗


__ADS_2