
Jakarta
Pukul 01.30 dini hari
Dimas
"MASUK!!!"
Bugh..Bugh...
Ia meninju rahang pemuda berusia kitaran 27 an itu dengan membabi buta, seorang tersangka kasus pedofil yang memperkosa anak kecil berusia 5 tahun, membunuhnya dan memasukkan mayatnya kedalam karung.
Baru bisa mereka amankan pukul 01.30 dini hari, setelah dilakukan pengejaran terhadap tersangka selama dua hari dua malam, tersangka yang satu ini cukup licin bak belut, hampir beberapa kali tertangkap namun lolos lagi, dan sekarang saat telah tertangkap tak ada ampun.
Kkrak....!!!!
Tak puas meninju, ia menggilas kaki tersangka dengan sepatu mahalnya, juga menginjak bagian alat ke la min pria itu. Entahlah, mengingat jasad bocah cilik dalam karung yang sempat mereka evakuasi kemarin, membuat hatinya mendidih, teringat Ara, anak semata wayangnya yang hampir seumuran dengan korban.
"DASAR BEJAAAT!!""
"Ampuuuun pak, ampuuun..." Teriak tersangka yang sudah seperti ayam potong, babak belur tak berdaya.
"Bang, sudah bang." Elan merangkul pundaknya.
"Zaar, bawa tikus got ini ke dalam sel."Teriak Elan.
Kepalanya berdenyut masih menahan sisa amarah, dan seperti kemarin-kemarin, hari ini pun ia kembali tak pulang ke apartemen, lebih memilih tidur dikantor. Baru saja ingin merebahkan diri di sofa, ia teringat sesuatu.
"Oh ya, udah dapat info yang kemarin Lan?"
"Yang mana bang?"
__ADS_1
"Yang abang suruh cari informasi ustadz Hannan itu."
"Oh udah udah, langsung aku print." Elan mengambil kertas dari dalam laci meja dan menyerahkan padanya.
"Siapa bang? ******* kah?"
"Husss sembarang, mana?" Diraihnya kertas dari tangan Elan.
Muhammad Hannan Al Fatih, Lc
Lahir di Pandeglang 5 Mei tahun xx, memulai pendidikan formal di TK Pertiwi Pandeglang tahun xx dan lulus dengan predikat siswa terbaik. Hannan kecil juga disekolahkan kedua orang tuanya ke Madarasah Salafiyyah Sanusiyyah Pandeglang. Pagi sekolah umum, siang hingga sore sekolah agama. Di madrasah ini, ia juga menjadi siswa berprestasi dan didaulat sebagai penceramah cilik dalam setiap sesi wisuda santri.
Tahun xx, melanjutkan pendidikan Tsanawiyyah hingga Aliyah (setingkat SMP-SMA) di Ponpes Darul Arqam Muhammadiyyah Garut. Selama masa pendidikan ini ia telah meraih banyak penghargaan baik di tingkat Pondok, Kabupaten Garut, bahkan Propinsi Jawa Barat, khususnya dalam hal syarh al-Qur’an. Di tingkat II Aliyah bahkan pernah menjadi utusan termuda dalam program Daurah Tadribiyyah dari Univ. Islam Madinah di Ponpes Taruna al-Qur’an Jogjakarta.
Tahun xx, ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Kuliyya Dakwah Islamiyyah Maroko yang kemudian diterima. Dan tahun xx, kembali ke Indonesia, menjadi ASN di kementerian Agama RI, aktif di banyak kegiatan dakwah Islam di berbagai masjid area Menteng, Jakarta Pusat.
Fix, tidak sia-sia ia mendaulat Elan sebagai Intel muda berbakat, informasinya benar-benar lengkap dan akurat, ia tersenyum getir membaca isi kertas tersebut sambil menghembuskan asap rokoknya, jujur kepalanya bertambah pening.
Ia tidak pernah mengalami perasaan takut terkalahkan sebelumnya, tidak pernah. Sejak di bangku TK, ia selalu tampil memukau dan terdepan, selalu juara satu dikelas, atlet karate tingkat nasional, pernah mewakili Indonesia dalam ajang lomba taekwondo di Jepang waktu SMA.
Ia adalah pesaing sempurna, memiliki tingkat kepercayaan diri diatas rata-rata, pun saat di AKPOL, dia terpilih menjadi siswa teladan. Sampai saat ini prestasi dan kariernya tak bisa terbantahkan, tak pernah gagal dalam setiap operasi yang dilakukannya.
Terbukti dengan usia yang sangat muda, 28 tahun, ia sudah menjabat sebagai seorang Kanit Reskrim Polsek Menteng, dan dalam waktu dekat direkomendasikan oleh pimpinan untuk mengikuti Diklat dan tentu saja akan meroketkan kariernya, namun segala kepercayaan diri itu seolah menguap tak berbekas.
Ia hanya pria rapuh yang tak terpilih, mengapa sepesimis itu dalam menghadapi seorang gadis sederhana seperti Sonia? Jika ia ingin, terlalu banyak wanita yang rela mengantri untuknya, cukup tunjuk, tak perlu berusaha.
Sudah banyak wanita-wanita berkelas yang dijodohkan untuknya, bahkan terakhir anak Kapolda sendiri yang terang-terangan menyatakan suka padanya. Tapi Sonia berbeda, gadis itu, entahlah...
Kepalanya kembali berdenyut, alih-alih tidur di kantor, ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen. Ia langsung merebahkan diri setibanya di kamar. Tidak sampai tiga jam ia tertidur, sebab terbangun oleh suara Adzan subuh yang menggema dari luar.
Entah dapat bisikan darimana, subuh ini ia memilih untuk sholat berjamaah dimasjid dekat apartemen, yah sisi spiritual nya masih sangat jauh tertinggal, sholatnya masih bolong-bolong, terkadang hanya subuh dan maghrib. Itu juga salah satu alasan yang membuatnya minder dari wanita-wanita seperti Sonia.
__ADS_1
Sengaja ia berlama-lama didalam masjid, menunggu semua keluar, namun baru saja ingin beranjak dari duduk, seseorang memanggilnya.
"Pak Dimas?"
Ia menoleh, pak imam masjid menegurnya ramah, ia tersenyum meraih uluran tangan pak imam.
"Dah lama gak muncul, kemana? lagi sibuk pastinya ya."
"Begitulah pak, lagi banyak kasus."
"Iya iya, itu yang bunuh anak kecil udah ketangkap orangnya?"
"Udah pak, malam tadi dapatnya."
"Syukurlah."
Keduanya terus berbincang seolah tak ada putus-putusnya, hingga ia terdorong untuk menceritakan masalah peliknya pada pak imam, siapa tau pak imam ada masukan, haruskah ia mundur atau terus maju melawan arus.
Pak imam magut-magut mendengarkan ceritanya dengan serius, kemudian menepuk punggungnya pelan.
"Ada satu hal yang perlu kita coba sadari betul dan kita bangun dalam diri kita, bahwa cinta itu adalah anugerah dari langit."
"Bahwa cinta itu adalah pemberian dari Allah SWT dan gak mungkin Allah memberikan rasa cinta yang membuat seorang hamba bertambah dosa itu gak mungkin, yang menambah dosa yang menambah kejauhan kita dari Allah SWT pasti bukan cinta. Jadi kalau ada rasa yang buat kita gak khusyuk dalam sholat, pasti bukan cinta, kalau ada rasa yang bikin kita jadi sakit hati, pasti bukan cinta itu disebut dengan wasyawushu syaiton yang ada di dalam hawa nafsu manusia."
"Sedangkan cinta semuanya berasal dari Allah SWT. Cinta itu asalnya dari langit, kalau kita butuh cinta, dari siapapun termasuk cinta dari calon pasangan, cinta dari orang yang kita suka, carinya bukan dibumi, carilah dilangit, makin rendah sujud kita, makin kita menggetarkan Arasy di langit."
Hatinya bergetar mendengar penuturan pak imam, satu hal yang baru ia sadari, bahwa selama ini, ia tak pernah mencari ketenangan di langit. Jika hatinya resah, ia cari ketenangan lewat bermain game sampai puas, atau kumpul-kumpul bersama teman tanpa ia pahami bahwa ketenangan sejati asalnya dari langit, begitu pun dengan cinta.
To be Continue...
happy reading yaaa
__ADS_1