
Aurora
"Jadi dia yang namanya Aurora? kekasih Abi?" Wanita itu menatap ia dan Byan serta Daniel bergantian.
"Iya mom, dia Aurora." Byan meliriknya sekilas.
"Hai...Tante.." Tangannya sudah terulur untuk menyalami mommy nya Byan, namun wanita itu langsung menariknya hingga masuk dalam pelukan.
"Huss.. Jangan panggil tante, panggil mom seperti Abi memanggilku." Wanita itu merangkulnya erat dan mengajaknya untuk duduk di sofa.
"Jadi sudah berapa bulan?"
"Masuk enam tan,, eh mom."
"Abi pasti sangat senang jika dia masih ada. Abi akan jadi ayah yang hebat, aku tahu itu. Anak itu bahkan belum sempat cerita ke mommy..anak itu, anak itu... hiks...hiks..hiks."
"Dia tidak bilang kalau punya kekasih cantik sepertimu, Abi pasti mau kasih kejutan ke mom, hiks hiks hiks.. Abiiiiiii?!" Serta merta aura yang tadi ceria langsung berubah mendung dalam hitungan detik.
"Udah mom, ikhlaskan ya." Byan memeluk mommy erat, sementara wanita itu mulai menangis tak terkendali.
"Mommy tidak boleh seperti ini, lihat cucu mommy sudah datang." Daniel ikut bersuara.
"Dia telpon mommy pagi itu sebelum terbang, dia bilang mau kasih kejutan, Abi... ternyata dia mau kasih cucu, hiks hiks."
"Lihat, cucu mommy sudah ada disini, masa disambut tangisan." Daniel kembali mengerling kearahnya, memberinya kode untuk ikut bersuara.
"Iya mom... Kami sudah datang, ini cucu mommy." Ucapnya gugup.
Tangisan mommy terhenti tiba-tiba, beliau menyusut air mata dengan punggung tangan.
"Mommy mau lihat cucu mommy, sudah tahu jenis kelamin nya apa?" Toleh mommy padanya dan ia menggeleng pelan. "Belum mom."
"Ayo kita periksa sekarang, Byan siapkan mobil, kita berangkat."
.
.
.
Mereka berempat keluar apartemen dengan tangannya terus digenggam mommy, sesekali wanita itu mengelus perutnya, menatap penuh damba disana.
"Jadi kenal Abi dimana?" Mommy mulai bersuara lagi saat mereka sudah berada di mobil.
"Di bandara mom."
__ADS_1
Mommy mengangguk antusias," Sudah lama pacaran sama Abi?"
Glekk...
Kali ini nafasnya tercekat, bagaimana menjelaskan ke mommy bahwa ia dan Abi tidak ada status apa-apa, bahwa mereka tidur karena mabuk bersama, bahwa ia sama sekali tidak ada perasaan apa-apa ke Abi. Dan sialnya, Byan juga tidak tahu-menahu soal ini.
"Aku sama Abi, ka- mi..."
"Ah sudahlah, tidak penting. Mommy tahu kamu pasti sedih kan kalau bahas Abi, sama mommy juga."
Dan entah untuk keberapa kali ia meneguk ludah, beruntung mereka sudah sampai di praktek dokter hingga ia bisa sedikit menghindar dari pembahasan tentang Abi.
Tidak butuh waktu lama menunggu nomor antrian mereka, sampai tau-tau ia sudah duduk di bangku pemeriksaan, sudah dipasang alat tensimeter di lengan. Sementara Mommy dan Byan berdiri di samping kiri-kanannya.
"Namanya siapa mbak?" seorang perawat tersenyum padanya sambil memegang buku periksa dan pulpen.
"Aurora Armevtia"
"Hamil ke?"
"Pertama"
"Pernah keguguran sebelumnya?"
"Tidak."
"Abi... Abimanyu Syailendra." Kali ini ia terpaksa menoleh ke sumber suara, sebab bukan ia yang menjawab tapi mommy. Dan sekali lagi, ia seperti dipaksa menelan biji kedondong bulat-bulat.
Mulutnya hampir terbuka menyuarakan protes tapi seseorang telah menggenggam tangannya pelan, siapa lagi kalau bukan Byan. Pria itu menggeleng samar, entah apa maksud Byan hingga akhirya ia mengalah dan hanya menunduk, terdiam.
Mereka masuk ke ruang pemeriksaan, ia yang langsung diinstruksikan dokter untuk mengambil posisi berbaring di bed, mengikuti arahan dengan pasrah.
"Hmmm.. Kandungannya sehat, geraknya juga aktif, sudah masuk minggu ke 24, kita lihat jenis kelaminnya apa ya..." Dokter berjilbab tosca itu menggerakkan alat USG ke perutnya yang telah dilaburi gel.
"Wah, Alhamdulillah cewek."
"PEREMPUAN..?!" Mommy setengah memekik histeris.
"Ya Tuhan, cucuku perempuan, perempuan Byan." Mommy memeluk Byan erat hampir melompat saking girangnya, dan Byan ikut tersenyum.
"Anakku laki-laki semua dok, dari dulu mau punya anak perempuan tapi ada masalah dirahim, jadi tidak bisa hamil lagi dan sekarang cucuku perempuan, ya Tuhan, aku tidak percaya ini."
Dokter itu ikut tersenyum bahagia, "Selamat ibu ya." Dan sekali lagi mommy tersenyum lebar sambil membantunya berdiri dan duduk di bangku yang berhadapan dengan sang dokter.
"Ini suaminya?" Toleh dokter itu pada Byan.
__ADS_1
"Bu..."
"Iya, ini suaminya." Mommy dengan cepat memotongnya.
"Kan.." Ia menelan lagi ucapannya sambil menatap tajam ke arah Byan, sementara laki-laki itu terang sekali salah tingkah dan merasa bersalah padanya.
"Kandungan ibunya dijaga, jangan sampai terlalu lelah, stress juga dihindari, untuk hubungan suami-istri tidak masalah, bulan depan bisa datang lagi untuk cek rutin" Dokter itu menatapnya dan Byan bergantian.
"Iya dok." Lagi-lagi mommy yang menjawab.
.
.
.
Byan
Ia tahu, tatapan Rora sudah berbeda sejak mereka dari klinik tadi. Ia akan menjelaskan pada mommy, tapi tidak sekarang, setidaknya biarkan mommy bahagia dulu dengan keberadaan bayi Abi.
"Maaf ya Rora, mommy bilang Byan suami kamu. Mommy tidak mau cerita ke dokter tadi kalau cucu mommy sudah yatim sejak dalam kandungan, mommy sedih. Lagipula Byan duplikatnya Abi, mommy rasa cucu mommy juga mirip Byan nanti."
"Mom... apa-apaan?!" Ia berdecak melihat ke arah belakang mobil. Sementara Daniel yang fokus menyetir hanya terbatuk pelan.
"Maaf mommy, sepertinya ada kesalahpahaman disini. Sebenarnya aku.."
"Kita makan dulu, aku lapar.. Mommy lapar kan, dedek bayinya pasti lapar juga." Sengaja ia memotong pembicaraan Rora, tidak sekarang, setidaknya biar ia yang menjelaskan pada mommy, dengan kondisi yang baik. Bukan di dalam mobil saat perjalanan seperti ini.
Ia tahu, Rora kesal padanya, gadis itu bahkan terang-terangan memelototinya dan mencegatnya saat ia membelok ke arah toilet resto.
"Kamu... apa-apaan Byan?!"
"Sorry..." Ia melirik lengannya yang dicengkeram Rora, tapi gadis itu tidak berniat sama sekali mengurai cengkraman malah semakin kuat, hingga kuku-kuku Rora menusuk kulitnya yang memang tidak tertutup apa-apa, sebab ia mengenakan kaus lengan pendek.
"Apa maksud kamu, selesaikan ini semua. Katakan pada mommy, aku sudah menikah. Kamu membuat semuanya jadi rumit Byan."
"Aku akan menjelaskan semuanya ke mommy, tapi tidak sekarang, mommy sedang bahagia. Sudah berbulan-bulan, aku tidak pernah lagi melihat mommy tertawa seperti tadi. Aku tidak tega merusak kebahagiaan mommy, setidaknya untuk saat ini."
"Aku janji, aku akan jelaskan ke mommy."
Dapat dilihatnya Rora menghela nafas kasar, dan ia memberanikan diri untuk meraih kedua bahu gadis itu, memaksa Rora agar menatapnya.
"Biar aku yang jelaskan ke mommy, beri aku waktu, ya, please..."
To be Continue
__ADS_1
Happy reading...