
Galih
"Kamu tidak apa-apa sayang?" Ia memindai keseluruhan tubuh sang kekasih khawatir, rambut gadis itu berantakan dengan beberapa jumput rambut yang sudah tercabut dari kepala. Niat hati ingin temu keluarga memperkenalkan sang pujaan hati, tapi malah berujung bencana tak terduga.
Audrey menggeleng, masih dengan nafas yang tak beraturan walau mereka sudah berada di dalam mobil, dadanya bergemuruh menahan amarah yang membuncah.
"Ibumu sudah gila kak, dia tidak waras, dia gangguan jiwa, dia skizo...!!!"
"Kalau saja aku tidak memikirkan dia ibumu dan dia lebih tua dariku, sudah kulawan Medusa itu dengan kekuatan cahaya bulan yang aku miliki."
"Hahaaa, memangnya Saylor Moon, pake kekuatan cahaya bulan." Kekehnya, bisa-bisanya Audrey disaat seperti itu masih sempat bercanda, dan apa tadi? Medusa? ya Tuhan, gadis ini...
Audrey kuat, tidak menangis walau matanya telah berembun. Tadinya ia pikir Audrey akan sangat terluka dengan perlakuan ibu tirinya itu, tapi sepertinya tidak seburuk yang ia duga. Ingatannya kembali ke masa dulu, dimana Donna sang adik angkat mengadu padanya atas tindakan kejam yang dilakukan ibu tirinya itu, ternyata wanita tua itu sama sekali tidak berubah.
"Kakak tau? tadi Gladiator juga datang kesana, Medusa ingin menjodohkan kakak dengan Gladiator itu."
"Gladiator?" Ia berjengit.
"Yah, Gladiator cosmetics." Sontak saja ia terbahak mendengar ucapan Audrey.
"Gladis datang kesana?" Ucapnya saat tawa telah terhenti, dan Audrey mengangguk.
"Dia cantik ya." Audrey menatapnya.
"Cantik, nilai 75."
"Kok 75, cantik gitu."
"Kalau kamu 95." Dan ia dapat melihat Audrey langsung mencibir kearahnya.
"Gladis cantik tapi gak natural, semua udah hasil renovasi tapi kalau kamu cantiknya asli, belum terjamah."
"Issshhh..." Audrey mencibir lagi.
"Kakak pastikan ini kali terakhir ibu menyakitimu, tidak akan pernah lagi." Ia menguatkan pelukannya dalam.
"Ayah telah setuju kita menikah, jangan hiraukan ibu, dia bukan siapa-siapa dan tidak akan berpengaruh apa-apa bagi kita." Ia mengelus pelan rambut Audrey, gadis itu hanya mengangguk pelan.
"Kita cari makan dulu, setelah itu pulang ke Rooftop, maafkan kakak ya, seperti itulah keluarga kakak, kakak harap kamu bisa memaklumi nya." Ia mencoba tersenyum simpul sambil mengacak rambut Audrey yang memang sejatinya sudah berantakan.
"Mau pesan apa?" Ia bertanya ke Audrey kala mereka sudah berada di sebuah resto.
"Apa saja selagi makanan manusia, aku akan memakannya."
"Hahaaaa, disini juga menyediakan makanan alien kalau kamu mau coba."
Audrey berjengit, membuatnya gemas ingin mencubit pipi gadis itu. Ia akhirnya memesan cah kangkung, udang tepung saos, ayam kampung bekakak plus nasi putih dua porsi, benar-benar makan siang yang berat.
"Eh iya, aku udah cerita belum?" Suara Audrey.
"Cerita apa?" Tolehnya sebentar sambil memeriksa beberapa pesan masuk dari ponsel.
"Kak Dimas sama uni Sonia?"
__ADS_1
"Kenapa mereka?" Ia meletakkan ponsel diatas meja.
"Mereka jadian gitu, malahan kak Dimas bilang ke mamanya kalau uni Sonia calonnya dia."
"Serius? ah masa?"
"Hmmm, jadi kak Dimas sama sekali gak cerita? curhat apa kan sesama lelaki."
"Gak, nggak ada, atau mungkin belum aja."
"Mungkin." Ia magut-magut.
.
.
.
Dimas
Entahlah, suasana hatinya sekarang sedang berada pada puncak kebahagiaan tertinggi, bisa mengerjai gadis ini rasanya seperti baru saja mendapatkan buronan yang sudah bertahun di cari, satu kata 'Puas'. Good job, Dimas.
Ia sudah membukakan mobil ketika gadis itu mulai berulah lagi.
"Saya bisa pulang sendiri, maaf." Sonia menunduk lalu berjalan ke arah luar parkiran.
Cckkk, gadis ini benar-benar menguji segala hormon yang bekerja pada tubuhnya.
"Saya sudah bilang, saya tidak pernah bisa menerima penolakan, ayo masuk."
"Kenapa?"
"Kenapa selalu menghindar dariku?" kali ini dengan suara datar hampir tanpa emosi.
Gadis itu diam, namun dapat dilihat ada raut ketidaksukaan disana.
"Berikan aku alasan yang kuat untuk pergi dan mundur." Pelan ia bicara sembari menatap tajam Sonia.
Hening ...
"Aku tidak bisa, menjauh lah dari ku, aku tidak bisa." Sonia tidak melihat pada matanya melainkan dadanya yang masih berbalut kaos polo berwarna navy itu.
"Kenapa? aku hanya perlu sebuah alasan Sonia." Jelas ia tidak sabar.
Lama, ia masih menunggu sesuatu keluar dari bibir mungil gadis itu.
"Aku tidak bisa."
"Aku tanya apa alasannya? apa karena aku seorang duda? aku sudah mempunyai anak?"
"KARENA KAKAK SEORANG POLISI!!"
Hening... Ia mengeryitkan dahi dalam, cukup lama, lalu tertawa.
__ADS_1
"Come on Sonia, alasan macam apa itu, tidak masuk akal." Decaknya sambil mendekati gadis itu satu langkah.
"Aku tidak suka polisi, lebih tepatnya benci, PUAS!! sekarang jauhi aku, aku mohon, cari wanita lain untuk bisa kakak dekati, ada banyak, kecuali aku."
"Itu hanya profesi Son, profesi. Kamu tidak bisa menjadikannya sebuah alasan untuk membenci seseorang." Ia berkata dengan kewaspadaan tingkat tinggi, takut salah ucap membuat gadis itu malah naik pitam.
"Terserah, hanya saja polisi mengingatkan ku pada Abah, jadi aku mohon dengan sangat, jangan dekati aku lagi."
Hening...
Ia hanya memperhatikan Sonia yang masih betah menunduk, ada apa dengan abahnya. Apa abahnya seorang penjahat? residivis? atau apa yang harus berhubungan dengan profesi polisi?, tapi melihat akhlak gadis ini, sepertinya ia dibesarkan dengan pola asuh dari keluarga baik-baik, pengetahuan agama yang mumpuni, bukan dari ayah yang seorang penjahat.
"Kamu benar-benar ingin aku menjauh?" Tatap sendunya pada wajah gadis yang tepat berada dihadapannya itu.
"Baiklah, kalau kamu ingin aku menjauh, aku akan menjauh." Ia mengangguk pelan.
"Tapi, setelah aku berusaha terlebih dulu. Jadi beri aku waktu untuk berusaha mendapatkan hatimu, kamu bisa menilai sendiri kelak usahaku sebesar apa. Jika sampai batas waktunya tiba, kamu tetap tidak bisa membuka hati, maka aku janji akan pergi dan mundur."
Dapat ia lihat Sonia mendongak sesaat, sepersekian detik tatapan mereka bertemu, cepat-cepat gadis itu menunduk lagi dengan tubuh yang gelisah.
"Sekarang ayo kakak antar pulang, sudah malam, amak pasti cemas." Ia mendekati pintu samping kemudi yang telah terbuka dan ia bisa bernafas lega, gadis itu pelan berjalan dan masuk kedalam mobil.
Sepanjang perjalanan hanya hening tercipta, agaknya tidak ada yang ingin memulai percakapan, baik ia maupun Sonia, hingga mobil berhenti tepat di depan masjid.
"Jangan antar sampai rumah, disini saja." Suara gadis itu menghentikannya ketika ia sudah ingin membuka pintu mobil.
Lagi, ia harus menahan nafas dan mengangguk pelan.
"Salam ke mama kakak, terimakasih makanan nya." Sonia meraih bawaannya dan keluar dari mobil.
Namun sempat berucap sesuatu sebelum benar-benar menutup kembali pintu mobil.
"Saya menganut prinsip tidak ada hubungan cinta diluar ikatan tali pernikahan, jadi saya mohon kakak memaklumi."
Dan pintu pun tertutup meninggalkan siluet wanita itu yang menjauh masuk ke dalam gang...
Aku hanya ingin cinta yang halal
Dimata dunia juga akhirat
Biar aku sepi, aku hampa, aku basi
Tuhan sayang aku...
Aku hanya ingin cinta yang halal
Dengan dia tentu atas izinNya
Ketika Cinta bertasbih, Tuhan beri aku cinta
Kumenanti Cinta...
(Haramkah- Melly Goeslaw)
__ADS_1
To be Continue...
Happy reading yaaa