The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Awal Mula 2


__ADS_3

Mulanya biasa saja


Kita saling bercanda


Berbincang seadanya


Semua biasa saja...


(Mulanya biasa Saja- Meriam Belina)


***


Jakarta


Pukul 19.00 WIB


Galih


Ia membukakan pintu lebar-lebar agar Audrey masuk kedalam apartemen nya, entah mengapa ada perasaan senang ketika gadis itu datang lagi.


"Saya cuma mau ambil ponsel dok."


"Ohh, ponsel. Coba cari dikamar tamu, saya gak pernah lihat soalnya."


"Boleh saya izin masuk kesana dok?"


"Iya, silahkan." Ia menatap punggung Audrey yang tergesa masuk kedalam kamar tamu.


Ia pun masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri, cukup lama ia didalam hingga akhirnya keluar dengan tampilan yang lebih segar.


"Sudah ketemu ponselnya?" ia melihat Audrey duduk di sofa dengan wajah berlipat sembilan, sudah pasti karena bosan menunggunya yang tak kunjung keluar dari kamar.


"Saya mau pamitan pulang, tapi dokter lama di dalam."


"Sorry."


"Nanti saya antar pulangnya, sudah gelap. Kita makan dulu gimana? saya yang masak."


"Dokter bisa masak?" Audrey menyangsikannya.


"Bisa doong, masak capcay, ayam saos atau apa?"


"Yang cepat aja dok, nasi goreng."


"Oke."


Audrey mengekor langkahnya ke dapur, gadis itu tidak begitu canggung lagi berinteraksi dengannya setelah beberapa kejadian yang membuat mereka saling bicara.


"Kenapa tidak ke Rumah Sakit tadi? kamu ada jadwal kan?" ia mengambil beberapa bumbu dari dalam kulkas.


"Sini saya bantu ngiris bawangnya dok." Audrey sengaja mengalihkan pertanyaannya.


"Kamu masih kuliah?" Kali ini ia benar-benar menatap Audrey hingga gadis itu menghentikan aktivitasnya mengupas bawang.


Hening sesaat sebelum ia melihat Audrey menggeleng pelan.


"Saya memutuskan untuk cuti dulu dok, saya ingin pulang kampung, cari kerja."


Ia menghela nafas kasar.


"Berapa uang yang kamu butuhkan?"

__ADS_1


Sontak Audrey mendongak menatapnya.


"Saya tidak mau berhutang budi, saya tidak bisa bayar nanti."


"Bekerja lah di klinik ku, petugas di bagian loket pendaftaran baru resign dua hari lalu, kamu bisa menggantikan nya, gaji awal 2,5 juta, mengenai jadwal bisa disesuaikan dengan jadwal kuliahmu."


Audrey terperangah tak percaya, gadis itu sampai mengerjabkan matanya berkali-kali.


"Biaya magang dan semesteran bisa kamu ambil dari koperasi klinik nanti dipotong gaji."


"Dan satu lagi, kamu bisa tinggal di Rooftop klinik, baru selesai dibangun. Jadi tidak perlu bayar sewa kosan."


"Huaaaaa hiks hiks huaaaaa." Tangis Audrey pecah, membuatnya gelagapan tak mengerti.


"Hei, kenapa nangis?"


"Huaaaaa huaaaaaa hiks hiks." Kali ini makin kencang hingga ia harus mendekati gadis itu dan merangkul bahunya.


"Jangan nangis..." Ia mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya.


"Saya terharu, dokter kok baik banget hiks hiks."


"Memang seharusnya seperti itu kan, saling menolong." Ia tersenyum penuh arti.


Audrey menyunggingkan senyum tipis namun tetap dalam mode menangis.


Adegan usap-usapan pipi masih dan terus berlangsung, sepertinya Audrey tidak keberatan dengan tindakan yang ia lakukan sampai...


"Hoii, ngapain kalian? jangan berbuat mesum disini!!"


Sontak keduanya menjauhkan diri salah tingkah.


Dimas...


"Bapak kenapa?" Audrey berjengit melihat penampilan Dimas yang kacau, pelipis nya berdarah, walau darah tidak mengalir lagi, tapi luka itu cukup besar hingga perlu dijahit.


"Dilempar Zia pake spatula."


"Ckkk parah, kalian perang?"Ia berdecak.


"Agresi militer III."


"Terus?"


"Apalagi, yah putus lah."


"Apa karena keberadaan saya tadi pak? saya minta maaf." Tunduk Audrey menyesal.


"Bukan karena kamu, memang waktunya harus diakhiri."


"Tetap semangat pak!!" Audrey menatap Dimas prihatin hingga membuat nya ingin tertawa.


"Ada banyak orang yang putus dan jadian setiap hari bukan, tidak masalah, saya juga baru diputuskan pacar saya tiga hari lalu." Audrey mengangkat tinjunya tinggi ke udara, sebenarnya gadis itu lebih ke menyemangati diri sendiri.


"Ya semangat!! setidaknya kita kita pernah jadian, nah dia, belum nembak dah ditolak."Dimas mencibir kearahnya, sontak membuatnya harus membulatkan mata ke pria itu.


"Drey, ambil Heating set (peralatan menjahit luka)di sana." Ia menunjuk lemari Alkes(alat kesehatan) di sudut ruangan sambil menatap tajam kearah Dimas.


Audrey mengangguk dan berjalan cepat menuju lemari.


" Ini udah steril dok?"

__ADS_1


"Sudah, kamu pernah jahit luka?"


"Kalau ke orang langsung belum pernah sih, baru praktek pakai phantom."


"Siip, sekarang ada kesempatan praktek ke orang." Ia menyeringai ke Audrey.


"APAAN!!" GAK MAU!!" Dimas berteriak.


"Gila kamu Lih, dia masih mahasiswa, yang benar saja, aku tidak mau jadi bahan praktek!"


"Cuma jahit luka Dim, ja- hit lu-ka, lebay.. Malu sama pistol tuh."


"Pistol yang mana dulu nih, pistol aku ada dua."


"Dua duanya!" Sini, ayo Drey kita eksekusi."


.


.


.


Audrey


Ia masih melongo melihat dua pria beda profesi itu, seolah menguap semua kewibawaan mereka jika sudah lepas dari seragam, persis seperti anak kecil yang berebut mainan.


Dokter Galih, seorang dokter spesialis yang selalu menjaga image nya kala berhadapan dengan pasien serta pak Dimas, seorang perwira polisi yang selalu tampil memukau dibalik seragam coklatnya, namun malam ini ia melihat dari sisi yang berbeda, yah mereka tak lebih dari dua pria yang kekanak-kanakan.


"Bersihkan dengan NaCl."


"Gerakan memutar, dari arah dalam ke luar luka."


"Good."


"Deep luka (gerakan menekan luka agar pembuluh darah tertutup), terus..."


"Oke lanjut injeksi PH Cain dulu, ambil sudut 45 derajat Drey." Instruksi Dokter Galih yang melihatnya menyuntikkan obat bius ke beberapa titik di area pelipis pak Dimas.


Tangannya sedikit bergetar, jujur ini the first ia menjahit luka pada orang sungguhan.


"Terasa sakit tidak pak?" ia menekan luka Dimas, memastikan biusnya telah bekerja apa belum, dan pria itu menggeleng pasrah.


"Lanjut ambil cutged (jarum khusus menjahit jaringan tubuh), pastikan sudah di klem sempurna, tusuk." Dokter Galih memerintah.


"Yaap, tarik, tusuk lagi, buat simpul, siip!" Tak ayal, keringat nya mengalir, namun ada kepuasan tersendiri melihat satu jahitan telah usai.


"Good girl, dua jahitan lagi." Dokter Galih tersenyum lekat padanya, membuat arus listrik ditubuhnya mendadak konslet.


"Lihat tangannya bergetar Galih, kalau aku mati karena malpraktek, kamu harus tanggung jawab!" Dimas meracau.


"Tenang saja, kalau kamu mati, kami akan langsung menguburmu tepat dibawah tempat tidur, tidak akan ada yang tau."


"Percaya saya pak, tidak ada yang mati hanya karena dijahit luka." Ia sedikit tersinggung Dimas meragukan kemampuannya.


"Siip, jangan lupa olesi salep terus tutup dengan kasa steril, terakhir fiksasikan dengan Hipafix."


"Fuihhh, finish." Ia menghela nafas lega, puas dengan hasil kerjanya, walau belum begitu rapi.


Sementara pak Dimas apa kabarnya?? Andai bisa direkam, ia ingin sekali merekam ekspresi seorang Kanit Reskrim Polsek Menteng itu, hahaaaaa...


Masih tetap ganteng kok, hanya saja berkurang 0,00005 %.

__ADS_1


To be Continue...


__ADS_2