
Sonia
Ia secara refleks berdiri saat melihat kak Galih keluar dari pintu itu. Sempat menghela nafas sebentar sebelum kak Galih memeluk Audrey, sang istri, kemudian menoleh padanya.
"Hasil CT scan Dimas barusan keluar, dia mengalami cedera kepala berat, tulang tengkoraknya retak."
Lagi, ia hampir tak bisa bernafas mendengar penuturan kak Galih.
"Dokter bedah saraf akan melakukan operasi kraniotomi segera, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang operasi. Sebaiknya kalian pulang dulu."
"Tidak, kami tetap disini." Audrey menyela.
"Sayang, please." Kak Galih menatap Audrey dalam dan lembut.
"Istirahat dirumah sambil bantu doa ya, nanti kakak kabari perkembangannya."
"Apa masih ada harapan?" Suaranya bergetar menahan tangis.
Kak Galih menatapnya, entah tatapan apa, yang jelas air matanya kembali menganak sungai melihat tatapan itu.
"Dokter bedah saraf akan membersihkan serpihan dari retakan dan memperbaiki posisi lempengan tulang agar tidak menekan otak. Dimas kuat, berdoa saja semoga tidak ada komplikasi setelahnya nanti."
Ia mengangguk, mencoba menerima penjelasan kak Galih, walau sungguh terasa sesak mendengarnya.
"Sekarang kalian pulanglah dulu, kakak sudah minta tolong mahasiswa CoAs untuk mengantar, dia telah menunggu didepan, pergilah."
Tepat ketika ia dan Audrey ingin beranjak, rombongan yang ia tau mungkin keluarga besar kak Dimas sebab ada mama kak Dimas yang tengah menangis berjalan kearah mereka.
"Dimas, Dimas bagaimana?" Mama kak Dimas langsung menghambur ke kak Galih.
"Dia belum sadar tante, sebentar lagi akan dioperasi."
Wanita paruh baya itu mengangguk, kemudian beralih kearahnya.
__ADS_1
"Soniaaa hiks hiks." Ia hanya diam terpaku sambil terisak kala mama kak Dimas memeluknya, kami semua menangis, yah, kami semua mengeluarkan air mata, air mata untuk kak Dimas.
"Maafkan Dimas jika ia punya salah selama ini. Ikhlaskanlah bila sesuatu yang diluar kuasa kita terjadi pada anakku." Wanita paruh baya itu tampak sangat tegar, dan ia hanya mengangguk pelan berusaha untuk ikut tegar.
.
.
.
Mereka pulang dalam diam, seolah kehilangan segala kata, ia dan Audrey saling menggenggam.
"Dia kakak yang kusebut kakak tertua, kakak tertua yang merangkul ku ketika aku berada pada titik nadir dalam hidupku dulu." Audrey memulai pembicaraan.
"Dia yang memberiku keberanian saat aku begitu takut meringkuk didalam sel sendirian, dia pula yang berada dibarisan terdepan membelaku saat aku hampir dilaporkan ke polisi ketika mendorong Zizi."
"Kak Dimas orang yang sangat baik, kenapa sekarang dia menderita seperti ini hiks hiks." Audrey kembali terisak.
Ia hanya bisa memeluk Audrey kuat, saling menguatkan itulah yang dilakukan mereka saat ini, sampai mobil yang mengantar berhenti di depan masjid dekat rumahnya.
Ia berjalan gontai menuju rumah dengan sisa air mata yang telah mengering, berusaha untuk tegar namun nyatanya tak bisa.
"Bagaimana Dimas?" Amak langsung mencecarnya bahkan saat ia belum sampai di daun pintu.
"Tidak sadar mak, sekarang lagi dioperasi hiks hiks." Ia kembali memeluk amak, menangis dalam.
"Mengapa seperti ini, mengapa jadi begini disaat aku sudah memantapkan hati hiks hiks."
"Ikhlas Son, semua ujian dari Allah, tidak akan terjadi segala sesuatu tanpa izin dariNya, bahkan sehelai daun yang lepas dari tangkainya pun atas izin Allah." Elus amak pucuk kepalanya lembut.
Kembali ia tatap buket bunga mawar pemberian kak Dimas itu setelah memasuki kamar, masih segar, indah sekali.
"*Kamu cantik."
__ADS_1
"Ayo kita menikah besok*."
Masih terngiang candaan kak Dimas padanya saat itu, hiiks... hiks hiksss... Ia menciumi tangkai mawar itu satu persatu, ini terlalu pedih ya Allah, ia tak sanggup.
Besok atau lusa mungkin ia tak kan bisa menciumi mawar ini lagi, sebab sang mawar akan layu dan busuk. Ahh kenapa kak Dimas memberinya buket bunga seperti ini. Mengapa laki-laki itu tidak memberikan mawar hidup dalam pot seperti biasanya, mengapa.
.
.
.
Galih
Ia menatap lamat-lamat setiap inci dari wajah sang sahabat, wajah kaku nan pucat Dimas. Tak ada lagi senyum jahil yang sering laki-laki itu tampakkan, Dimas benar-benar tak berdaya, terbaring bak mayat diatas meja operasi.
Ia sudah mengenakan baju steril dan akan ikut menyertai operasi kraniotomi sang sahabat. Berdiri di ujung kaki Dimas, memperhatikan rekan seprofesi nya melakukan tindakan pada Dimas.
Dokter bedah saraf mulai menyayat lapisan kulit kepala Dimas yang kemudian dijepit dan ditarik untuk memperjelas kondisi di dalam. Lalu tulang tengkorak sang sahabat dibor.
Setelah bagian tersebut selesai, tulang tengkorak Dimas dipotong dengan menggunakan gergaji khusus. Tulang diangkat dan dokter bedah saraf mulai mengakses bagian otak yang perlu ditangani. Berkali-kali ia menghela nafas melihat bagian kepala Dimas yang terbuka itu.
Setelah pembukaan tulang tengkorak telah selesai, bagian otak Dimas yang mengalami kerusakan atau masalah diperbaiki, bahkan beberapa serpihan diangkat. Kemudian bagian tulang dan kulit kepala direkatkan kembali dengan menggunakan jahitan, kawat, atau staples bedah. Operasi selesai, Alhamdulillah.
Kendati kondisi Dimas belum stabil, masih mengalami penurunan kesadaran namun rekan kerjanya mengatakan bahwa operasi sukses, tidak ada komplikasi yang begitu berarti, Dimas sudah melewati fase kritisnya. Tinggal menunggu laki-laki itu sadar dan menjalani masa pemulihan.
"Good job bro, aku tau kamu pasti bisa melewati ini, cepatlah sadar sebab ada kejutan besar yang tengah menantimu."
Sengaja ia berbisik pada Dimas sembari tersenyum penuh arti.
To be Continue
Happy reading
__ADS_1
Ahh, nulis part ini benar-benar mengingatkan othor waktu dulu pas masih mahasiswa, pernah juga ikut jadi asisten operasi kraniotomi seperti yang Dimas alami ini, kraniotomi adalah satu operasi besar di otak yang dilakukan untuk pasien dengan cedera kepala berat, stroke, Parkinson dan pasien dengan indikasi medis yang mengharuskan bedah kepala...😀