The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Good news...


__ADS_3

Fatih


Sepanjang perjalanan ia tak berhenti menahan senyum mengingat moment penuh kejutan sepanjang seperempat abad lebih hidupnya yang terjadi di detik-detik kepergiannya tadi.


Aiiishhh... Dasar timingnya gak tepat banget, ia melempar pandangan ke luar jendela sambil geleng kepala.


Sisa-sisa sentuhan Rora masih menempel di bibirnya, membuatnya berlama-lama untuk terus meraba area tersebut.


"Is everything okay?" tanyanya kepada mekanik yang mengecek keadaan pesawat ketika mereka sudah sampai di bandara.


Sudah setengah jam lebih pria itu memeriksa bagian roda pesawat dan ini jauh lebih lama ketimbang biasanya.


"Just give me a minute." Toleh pria itu sekilas.


"Alright. But, the time is up."


Mereka bekerja diburu-buru waktu. Hanya dua puluh empat jam waktu yang dibutuhkan saat towing dan para mekanik itu harus memastikan pesawat ini siap untuk dibawa terbang. Atau empat puluh lima menit untuk pesawat transit. Tentu saja itu bukan waktu yang lama.


Ia meninggalkan si mekanik yang masih memeriksa manual tersebut menuju kokpit. Sebaiknya ia bersiap-siap, sehingga ketika si mekanik berkata oke, ia sudah dalam keadaan siap.


"Capt, everything's ready."


Ia menoleh ke arah si mekanik yang muncul di pintu kokpit." Are you sure?"


Sang mekanik mengangguk mantap. Pekerjaannya memiliki resiko besar, juga tanggungjawab besar. Dan setiap kali akan mulai bekerja, ia selalu mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.


Seperti biasa, ia menyempatkan diri untuk berkirim kabar kesemua keluarganya. Juga mengatakan kalau ia menyayangi mereka. Mbak Ara pernah freak out dan memarahinya untuk tidak melakukan itu lagi.


Namun ia memberitahu mbak Ara fakta yang sebenarnya, soal kemungkinan terburuk ia tidak bisa bertemu mereka lagi, sehingga ia ingin hal terakhir yang ia tinggalkan untuk mereka adalah kenangan manis.


I love you, Rora. Wish I could see you at home.


Dan itu pesan pertama yang ia kirim untuk sang istri di flight perdananya setelah menikah.


.


.


.

__ADS_1


Aurora


Ia masih mondar-mandir tak jelas dalam kamar. Tatapannya beralih ke sofa, dan dengan kurang ajarnya sang otak kembali memutar ulang peristiwa yang terjadi setengah jam yang lalu disana.


"Ya Tuhan Rora..." Ia menutup wajahnya sendiri dengan bantal, menutupi sesuatu yang merona merah disana. Sampai ponselnya bergetar barulah ia beralih ke ponsel.


I love you, Rora. Wish I could see you at home.


Ia hanya bisa menghela nafas panjang membaca pesan bernada perpisahan seperti itu dari Fatih. Ia keluar dari kamar dan menemui mama, dan ternyata mama mendapat pesan yang sama.


Awalnya ia tidak terima, tapi abang melakukannya kepada semua orang terdekat abang. Mama tersenyum sambil merangkul pundaknya.


"Fatih memang punya kebiasaan seperti itu sebelum terbang. Mama pernah tanya, dan ia bilang, dia bisa mati kapan saja karena pekerjaannya." Mata mama berair mengucapkan itu.


"Bukan hal yang mudah melepas seseorang yang dicintai menantang resiko besar dan tanpa bisa dipastikan apakah dia akan kembali dengan selamat atau tidak."


"Kalau kamu tanya apa mama setuju dengan Fatih jadi pilot? sejujurnya tidak, tapi mama tahu Fatih sangat menginginkannya, jadi sebagai orangtua, mama hanya bisa mendukung dan selalu berdoa dia baik-baik saja. Kamu juga selalu doakan Fatih, ya."


Mendengar itu matanya berkaca-kaca dan memeluk mama Sonia erat.


Menunggu waktu satu minggu bukanlah hal yang gampang. Setiap detik selalu dihantui kecemasan yang berlebihan, sampai ia sendiri bingung apakah ia mengalami sindrom panic attack.


Jujur saja, peristiwa yang menimpa Abi, sedikit banyak mempengaruhi pola pikirnya terhadap profesi pilot, ia trauma. Selama ini, ada berapa banyak kecelakaan besar pesawat terbang?


Ia menghela nafas panjang. Nobody knows what future holds. Pemikiran itu selalu menghantuinya sepanjang malam, membuat matanya menghitam sebab kurang tidur.


.


.


.


Kikan


"Gimana Di, udah dapat yang mbak minta?" Ia melipir ke kursi Dian, alih-alih berjalan ke mejanya sendiri pagi itu, setelah menyeduh kopi dari pantry.


Ia hanya tau Aurora sebagai sepupu Fatih, seorang dokter yang bekerja di salah satu Rumah Sakit Hokkaido sejak setahun yang lalu, sebelumnya gadis itu menyelesaikan kuliah kedokterannya di University Sains Malaysia (USM).


Tidak ada informasi berarti dari Dian, kecuali info bahwa Aurora sudah pulang ke Indonesia satu bulan yang lalu setelah menyelesaikan kontrak di negeri Sakura itu. Kemudian langsung menikah dengan Fatih, aneh bukan.

__ADS_1


Bukannya gadis itu dekat dengan Abi. Bahkan di pestanya mbak Ara dulu, mereka tampak akrab seperti sepasang kekasih.Tunggu, ngomong-ngomong soal Abi, ia juga sempat melihat foto di media sosial Frans, teman sekolahnya dulu yang juga teman Abi. Mereka liburan di Bali, kalau tidak salah, ada Aurora juga.


Maka kembalilah ia berselancar mencari kembali foto tersebut, benar saja. Disana ada Abi yang merangkul Aurora, ada Frans dan beberapa teman lain. Foto diambil kurang lebih empat bulan lalu, satu bulan sebelum kecelakaan pesawat yang menimpa Abi.


Frans... Yah, ia bisa tanya ke Frans.


***


"Gue sibuk Kan, ada perlu apa?" Pria blesteran Indo-Austria itu duduk gelisah di kursi sambil sesekali melirik jam tangannya.


"Just give me five minutes, ada yang gue pengen tanya ke lo."


"Apa?"


"Lo tau gak cewek yang di bawa Abi pas pembukaan resort kalian dulu?"


Untuk sesaat Frans mengeryitkan dahi sambil memicingkan mata kearahnya."Kenapa?"


"Gue cuma pengen tau, ada hubungan apa dia sama Abi?"


"Lo aneh ya, orang nya dah mati, masih juga dibahas."


"Itu cewek udah ngerebut cowok gue. Kan aneh aja, tiba-tiba dia nikah sama Fatih hanya berkelang dua bulan setelah kecelakaan Abi."


"Anehnya dimana?"


" Yah aneh dong, bisa jadi dia hamil anaknya Abi terus minta cowok gue yang tanggungjawab.Selama di Bali, mereka ngapain aja?"


"Yah mana gue tahu." Frans mengedikkan bahu.


"Eh tunggu,, mereka tidur satu kamar kalo gak salah. Soalnya malam terakhir disana, anak-anak sempat pergi clubbing, Abi sama ceweknya gak ikut."


"What?" Ia hampir saja menyemburkan minum yang baru saja diteguknya.


"Gak perlu segitunya kali, kayak gak tau Abi gimana. Mana ada cewek yang dekat sama dia yang gak diajak tidur bareng."


"Good news ?!" Ia mengangguk cepat. "Thanks Frans infonya, sangat membantu."


Kita lihat saja reaksi Fatih setelah tahu seperti apa cewek yang dia nikahi itu.

__ADS_1


To be Continue


Happy reading yaaa....


__ADS_2