The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Anna Uhibbuka Fillah


__ADS_3

Anna uhibbuka Fillah


(Aku Mencintaimu Karena Allah)


Dimas


Cuaca cukup terik siang itu, selepas ngedate dadakan with bidadari surga, yah katakan lah seperti itu, ia tertawa sendiri sembari mengikuti lirik lagu yang diputar didalam mobil. Tidak seperti janjinya pada Alan untuk kembali ke Polsek, Ia malah langsung bertolak ke Polrestabes.


"Lan, abang langsung ke Polrestabes." Ucapnya ditelpon.


Ia memarkirkan mobilnya di halaman parkir kemudian lanjut ke arah pos penjagaan, diliriknya jam ditangan, masih ada waktu sekitar setengah jam an lagi sebelum acara, masih bisa ngobrol dulu.


"Wah pak Dimas, tambah ganteng aja duren satu ini." Pak Agus menyalaminya.


"Tumben rame."


"Orang-orang lagi pada sibuk ngurusin SKCK, lagi musim pendaftaran CPNS."


Ia magut-magut sembari menatap area Polrestabes yang ramai, orang-orang bertas dan memegang map sibuk mondar-mandir, hingga matanya menangkap seorang pemuda sekitaran umur 20 an, sedikit aneh.


Pemuda itu tampak gugup dengan berkali-kali meremas bagian bawah tas pundaknya yang bewarna hitam, menatap nanar ke sekelilingnya.


Entah karena penasaran atau sebab jiwa intelnya mencium sesuatu yang mencurigakan, ia berniat mendatangi pemuda itu. Tepat saat jaraknya hanya beberapa meter lagi, sesuatu yang keras terdengar meledak dari dalam tas pemuda itu.


*BOOMMM!!!!!


DDUAAAAARRR*...!!!


Dengan gerakan terlatih, sepersekian detik ia langsung tiarap, suasana berubah panik, ia masih dapat melihat orang-orang berlarian sebelum sesuatu seperti kaca atau apa menghantam bagian belakang kepalanya keras, semuanya mengabur dan gelap.


.


.


.


Sonia

__ADS_1


"Ada apa Son?" Amak menghampirinya ke kamar, sebab ia tak muncul-muncul lagi ke dapur setelah izin mengangkat telpon.


"Ada apa?" Panik amak melihatnya mematung dengan air mata yang telah menganak sungai.


"Kak Dimas, dia..."


"Sonia ke Rumah Sakit dulu Mak, kak Dimas jadi korban bom di Polrestabes."


"Bom, bom apa?" Suara amak meninggi.


Ia hanya menggeleng lemah tanpa berniat menjelaskan pada amak, mengganti pakaiannya cepat, meraih tas dan keluar. Dilihatnya amak sudah menghidupkan televisi.


JAKARTA, Ledakan bom bunuh diri mengguncang Markas Polrestabes Jakarta Pusat pada Rabu (13/11/20xx).


Ledakan berasal dari dekat kantin dan halaman parkir. Sumber ledakan juga terdengar hingga ke tempat pelayanan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).


Sejumlah masyarakat yang tengah melakukan pelayanan SKCK pun lari berhamburan. Akibat ledakan itu, asap hitam membumbung tinggi dari halaman Mapolres.


Polisi berjaga pascaledakan yang diduga bom bunuh diri di Mapolrestabes Jakarta Pusat. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen M Bastian mengonfirmasi bahwa jumlah sementara korban luka-luka dalam peristiwa ledakan bom tersebut berjumlah 6 orang. Sementara korban tewas hanya satu yakni si pelaku, yang ditemukan dengan jasad yang tidak utuh lagi.


"Hati-hati." Amak memeluknya sekilas yang diikuti anggukan lemah darinya.


***


Suasana Rumah Sakit sangat tidak kondusif ketika ia tiba, beberapa anggota kepolisian dan tim Densus 88 tampak berjaga di pintu masuk, ditambah lagi kerumunan wartawan yang mencari berita berkerumunan disana. Ia pun tidak diizinkan untuk mendekat apalagi masuk.


"Drey, uni tidak bisa masuk." Suaranya serak kala berbicara dengan Audrey yang sudah berada di dalam Rumah Sakit.


"Bentar, biar kak Galih jemput kedepan."


Tak lama dilihatnya dokter Galih yang mengenakan jas putih berlari kecil, berbicara sebentar pada beberapa anggota yang berjaga kemudian menghampirinya.


"Ayo Son, ikut kakak."


Mereka berjalan cepat menyusuri koridor yang terasa panjang itu, suasana hatinya tak menentu menatap nanar pada setiap orang yang lalu lalang.


"Bagaimana kondisi kak Dimas kak?"

__ADS_1


Kak Galih menggeleng pelan, wajah dokter muda itu kentara sekali cemas, " Dimas tidak sadar, lukanya lumayan parah, kaca tebal menancap di bagian belakang kepalanya."


"Ya Allah." Hatinya terenyuh, teringat beberapa jam sebelumnya laki-laki itu masih bisa tersenyum padanya, masih sehat, masih segar. Ia mencoba kuat, untuk tidak menangis, tapi sepertinya air mata ini mengalir sendiri tak terkendali.


"Uniiiii hiks hiks...!!!" Audrey menghambur kedalam pelukannya, mereka menangis dalam diam, saling menguatkan.


"Dimas belum bisa dijenguk, kondisinya kritis, keluarganya masih dalam perjalanan dari Bandung."


"Kalian tunggu disini, kakak memantau kondisi Dimas ke dalam." Kak Galih masuk ke kamar kak Dimas melalui aksesnya sebagai dokter.


Matanya memanas menatap pintu kamar yang tertutup rapat dengan anggota densus 88 yang berjaga didepannya, ada kak Dimas disana yang sedang berjuang antara hidup dan mati, dia kritis ya Allah...


"Mungkin ini akan jadi bunga terakhir, jika pilihanmu tidak jatuh padaku nanti."


Ia membayangkan wajah laki-laki itu yang tersenyum, " Aku mohon ya Allah, kali ini, selamatkanlah dia, hiks hiks... aku mohoon." ia terisak dalam sambil menunduk meremas ujung jilbabnya kuat-kuat.


"Aku mencintaimu Sonia, really love you."


"Aku juga mencintaimu kak, cepatlah sadar, aku mencintaimu hiks hiks."


Entah berapa lama mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Dia orang baik, kak Dimas orang baik." Suara Audrey tergugu, membuatnya kembali meneteskan air mata.


Mereka serentak berdiri saat brankar membawa jenazah melewati mereka, seorang polisi berperawakan gemuk berbicara via telpon," Korban meninggal bertambah satu!"


Nyesssss...


Nafasnya tiba-tiba saja tercekat, tubuhnya tak berdaya, seolah berada pada sebuah lorong yang panjang dan gelap, ia tak tau harus bagaimana, lorong itu seakan tak berujung.


"Hamba mohon ya Allah, jangan sekarang, jangan ambil dia sekarang, hamba mohon, hamba mencintainya karenaMu, kali ini saja, selamatkanlah dia dengan rahmatMu hiks hiks...."


"Anna Uhibbuka Fillah kak, Anna Uhibbuka Fillah."


Ia membayangkan wajah kak Dimas sembari merapalkan doa Rabithah, berharap ada keajaiban yang terjadi di balik pintu yang tertutup rapat itu.


To be Continue...

__ADS_1


__ADS_2