The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
A girl who like as the "Alien"


__ADS_3

RS JMC


Pukul 09.00 Wib


Ruang Anggrek


Galih


Dia memasuki ruangan dengan senyum mengembang secerah mentari di kala dhuha, sulit untuk mendeteksi suasana hati yang sesungguhnya dari kepribadiannya yang hangat itu, hampir tak pernah dia menunjukkan wajah masam pada setiap orang yang dia temui, kolaborasi antara IQ,EQ dan ESQ yang berjalan seimbang, perfect.


"Bagaimana kabarnya hari ini bu?" sapaan pertama nya pada pasien hari itu, seorang wanita berusia 27 tahun, G1P1A0 dengan diagnosa HEG/ Hiperemesis Gravidarum, kasus dimana ibu hamil trimester pertama mengalami gejala mual muntah yang hebat sehingga kelemahan akut terjadi akibat kekurangan cairan dan nutrisi.


"Alhamdulillah dok." Binar mata sang pasien tak bisa disembunyikan kala menatap dokter muda nan tampan itu.


"Masih mual muntah?"


"Sedikit, tidak parah seperti kemarin dok."


"Baguslah, terapinya masih kita lanjutkan dulu, kita lihat hasilnya dua hari ini kalau kondisi bagus bisa pulang lusa."


"Kalau pulang kerumah mual muntah lagi gimana dok?"


"Pada dasarnya mual muntah pada ibu hamil merupakan hal yang normal di trimester pertama, tapi jika sudah sangat mengganggu, itu yang dikhawatirkan akan berdampak pada perkembangan janin ibu, saya sarankan untuk minum obat anti mual muntah jika pulang kerumah dan makan sedikit- sedikit tapi sering."


"Saya tidak bisa masuk makanan dok, kalau ngunyah bawaannya pengen muntah."


"Pilih makanan yang tidak berbau menyengat, minim MSG, seperti biskuit atau roti gandum ya bu, minum sama teh hangat juga bisa mengurangi mual."


"Terimakasih dok."


Dia mengangguk sekilas sambil tersenyum, baru saja ingin beralih ke bangsal lain ketika si ibu memanggil nya kembali.


"Dok, saya bisa minta tolong?" Tanya wanita itu tersipu.


Sedikit mengernyitkan dahinya, ia berbalik menatap sang pasien yang tengah merona.


Wanita itu berbisik sebentar pada suami yang berdiri disampingnya.


"Ehemm, begini dok. Istri saya ngidam katanya pengen perutnya dielus sama dokter."Ucap pelan pria yang ditaksir seumuran dengannya itu.


Dia hampir tertawa, adegan ini mengingatkan nya pada sosok Donna, sang target yang gagal dijadikan pendamping hidup, kala itu Donna tengah hamil dan dia pernah mengelusnya, terasa menenangkan.

__ADS_1


"Oh, baik lah." Dia berjalan mendekati pasien dan secara impulsif meletakkan telapak tangannya yang besar diatas perut wanita itu, tentu saja senyum tak lepas dari bibirnya.


"Semoga dedek bayinya nanti ganteng seperti pak dokter ya." Gumam lembut pasien itu yang diikuti anggukan pelan darinya.


.


.


.


Next, beralih visite pada pasien berikutnya, dia berjalan dengan diekori oleh mbak Utit, bidan senior berusia 45an tahun menjabat sebagai kepala ruangan disana serta dua orang bidan dan satu orang perawat vokasional.


Selepas visite pasien yang sedikit melelahkan, dia berjalan ke ruangannya berniat menulis resep obat dan instruksi terapi pasien hari itu, baru saja menyelesaikan dua resep sambil mendengarkan lagu jadul "Jesamine" by Causals dari ponselnya, keributan terdengar dari luar ruangan.


What happen...


Rupa-rupanya ruangan mereka kedatangan mahasiswa magang, diliriknya sebentar dari daun pintu ada sekitar 10an orang mahasiswa bergerombol di tengah koridor.


"Maaf ganggu dok, ada mahasiswa magang." Mbak Utit mengangguk pelan.


Dia membalas anggukan itu dengan ikut mengangguk.


"Lanjutkan." Senyumnya sekilas pada mahasiswa disana kemudian masuk lagi ke ruangannya meneruskan pekerjaan menulis resep 20 orang pasien hari itu dengan diiringi tembang- tembang lawas, all the romantic songs.


"Hufffhhh, akhirnyaaa." Dia meregangkan tubuh dan berdiri keluar ruangan setelah mematikan lagu dalam ponselnya.


" Fen, resep ada di atas meja, saya cabut dulu, mau ke poli." Sengaja dia mendekati meja jaga perawat sebelum pergi dari sana, namun perhatiannya teralih pada sesosok mahluk aneh yang tepat berdiri disampingnya.


Bagaimana tidak aneh coba, rambut dicat kuning, mata bulat yang besar dengan sepatu high heels yang sangat tidak cocok dan kuku berwarna pink, kontras sekali dengan kulit nya yang sedikit eksotis. Fix, dia adalah Alien dari planet Pluto yang sudah tereliminasi dan tak dianggap sebagai jajaran planet di galaxy.


Ohh Look, Dia menyeringai, sisi gelap nya mulai tak tahan ingin berkomentar pedas.


"Kamu mahasiswi magang?" Sedikit menyipitkan matanya, dia bertanya pada gadis itu.


"Iya dok, perkenalkan nama saya Audrey Pramesya Putri, mahasiswi magang semester empat." Audrey sedikit membungkuk memberi penghormatan dengan dibumbui improvisasi sedemikian rupa membuatnya ingin tertawa, kentara sekali gadis ini ingin mencari perhatian.


"Kalau mau magang penampilan nya jangan seperti ini, itu rambut apa rambut? terus baju nya jangan yang ketat, kamu mau ketemu pasien bukan mau fashion show, sepatunya tidak ada yang lebih tinggi lagi?... dan ini apa? Oh my Gosh kuku panjang mu bisa melukai pasien ckkk..." Komentarnya panjang sepanjang gulungan kain kassa yang tengah digunting perawat pagi itu.


Semua terdiam, perawat senior hanya mengu lum senyum sebab tak pernah mereka melihatnya berbicara seketus itu apalagi pada seorang gadis.


Namun diluar perkiraan, Audrey tersenyum, senyuman penuh arti yang yaah terlihat ganjil baginya.

__ADS_1


"Terimakasih dok komentar nya, akan saya pastikan jika saya berubah besok, dokter orang pertama yang jatuh cinta pada saya." Ungkap Audrey penuh percaya diri.


What?? hahaaaa


Dia hampir terbahak, terpingkal- pingkal kalau saja tidak mengingat marwahnya sebagai seorang dokter disana, alih- alih terbahak ia justru tertawa pelan sambil menggelengkan kepala dan berlalu dari sana.


Semua masih terdiam, lebih tepatnya "melongo" melihat keberanian Audrey sebab belum pernah ada seorang pun baik itu perawat, bidan, dokter CoAs, dan dokter intershif yang berani bicara frontal seperti itu padanya.


.


.


.


Dia bukanlah tipe orang yang suka mengingat sesuatu yang dianggapnya tidak penting, tapi pagi esoknya kala berjalan menuju ruang Anggrek, beberapa mahasiswa magang tampak tengah tertawa-tawa membicarakan nya.


"What? dokter Galih masih bujangan?" gadis yang tepat berdiri disisi Audrey memekik.


"Pria setampan itu bahkan tidak memiliki kekasih, apalagi namanya kalau bukan GAY alias Gi Ei Wai, kalian lihat bagaimana caranya kemarin melihatku, , sama sekali tak tertarik." Audrey berapi-api, detik berikutnya semua serentak tertawa yang tentu saja suara Audrey yang paling keras disana.


"Permisi nona, anda menghalangi jalan!" Suara bass nya tercekat di tenggorokan, rahangnya sedikit mengeras, gadis ini benar- benar...


Mereka terdiam kala melihatnya berdiri disana, terutama si gadis Alien yang telah mengecat warna rambutnya menjadi hitam itu.


Sebenarnya dia tidak begitu terusik, sama sekali tak berniat meladeni gunjingan anak kemarin sore itu, namun saat melintasi ruangan mbak Utit, dia melihat wanita itu tengah sibuk pada selembar kertas.


"Serius amat mbak."


"Ehh dok, ini lagi mau bagi-bagi kasus untuk anak magang." Mbak Utit mendongak kearahnya.


Entah kerasukan setan apa, dia masuk keruangan mbak Utit dengan niat terselubung, yap ingin mengerjai si gadis Alien tak tahu diri itu.


"Sini biar saya saja yang menentukan kasus untuk mereka." Nada bicaranya seolah ingin menawarkan sebuah bantuan besar secara cuma-cuma.


"Serius dok?" mbak Utit menggeser duduk memberi ruang padanya agar bisa ikut duduk.


Dia mengambil alih kertas yang dipegang mbak Utit, netranya nyalang menatap satu nama nomor dua dari baris pertama.


Audrey Pramesya Putri


To be Continue

__ADS_1


lancar lancar puasanya reader tersayang


nyambi nyiapin bekal lebaran...


__ADS_2