The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Kau takkan bisa tawar- menawar pada Tuhan


__ADS_3

Galih


Ia sama sekali tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Keterbatasan pengetahuan orang tua Sonia serta terkendala biaya pengobatan membuat mereka melalaikan kesehatan gadis itu. Andai ia tahu lebih cepat.


Hari itu juga ia menghubungi dokter Coltrain, dokter spesialis jantung, seorang kardiolog asal Jerman, sahabatnya sekaligus tutornya ketika kuliah di Malaysia dulu.


Ia menceritakan semua kondisi Sonia tanpa terlewat sedikitpun, serta mengirimkan seluruh hasil pemeriksaan Sonia pada dokter Coltrain.


Dokter Coltrain membeberkan segala kemungkinan yang bisa terjadi dan resikonya, dokter Coltrain mengatakan bahwa seharusnya Sonia tidak dibiarkan hamil jika tahu kondisi jantung gadis itu sudah separah ini.


Namun ia bisa bernafas lega, sebab dokter Coltrain bersedia membantu, mereka akan bersama menangani kasus Sonia . Dokter Coltrain terbang dari Jerman langsung demi membantunya.


Dan Pe eR terberatnya adalah menjelaskan kondisi Sonia pada Dimas, pria itu...


Dimas pernah memiliki trauma tentang kelahiran, dan sekarang harus menghadapi hal serupa.


.


.


.


Dimas


Ia kaget saat pelatih memanggilnya sebab kedatangan tamu yang telah menunggu di kantor. Dan lebih kaget saat mengetahui bahwa Galih lah yang datang.


Galih terlihat lelah, walau pria itu paksakan untuk selalu tersenyum.


Wajahnya berubah tegang demi mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut Galih.


"Seberapa parah?" Ucapnya kelu.


"Dokter Coltrain akan tiba besok, untuk memeriksa kondisi keseluruhan."


"Sepertinya Sonia harus menjalani operasi pembedahan jantung." Tambah Galih.


Saat itulah teror benar-benar menghantamnya. Teringat kembali olehnya Sonia yang selalu gugup dan pucat terakhir mereka bertemu.


Darah seakan mengalir meninggalkan wajahnya. Ia duduk membisu dikursinya, teringat kembali akan wanita hamil lain yang telah meninggalkannya. Sonia mungkin juga akan meninggalkannya.


Ia memejamkan mata, gemetar. Sudah berbulan-bulan mereka terpisah, Sonia tidak pernah mengeluh lagi tentang ketidakhadirannya, memulai pertengkaran, atau melakukan apapun yang bisa membuatnya merasa bersalah. Sonia harus selamat. Persetan dengan hal-hal lain.

__ADS_1


Ditemani Galih, ia langsung menghadap ke komandan sekaligus ke bagian panitia Lemdiklat, Galih menjelaskan semuanya, akhirnya ia diperbolehkan pulang meninggalkan pendidikannya.


"Apakah dia akan selamat?"


"Soniaku akan selamat?" Bibirnya bergetar.


Matanya terasa panas dan ia menunduk untuk menyembunyikan itu. Jika Sonia meninggal...


Jika gadis itu meninggal, apa yang akan aku lakukan? bagaimana aku bisa bertahan hidup tanpa Sonia? pikirnya.


***


Dokter Coltrain tiba keesokan harinya, langsung mendatangi Sonia yang sudah terbaring di bed. Melakukan pemeriksaan ini itu bersama tim dokter lainnya.


"Ini dokter Coltrain," Galih memperkenalkan mereka. "Ini IPTU Dimas, suami dari Sonia."


"Senang bertemu anda. Turut menyesal dengan keadaan ini." kata dokter Coltrain yang ternyata sangat fasih berbahasa Indonesia itu sembari menjabat tangannya.


Ekspresi wajah dokter itu serius." dokter Galih sudah memberikan sejarah kesehatan istrimu. Kau tidak tahu mengenai kondisi jantungnya?"


Dan ia hanya menggeleng lemah, benar, ia sama sekali tak tahu dan tak pernah diberitahu.


Dokter Coltrain mengangguk paham.


"Sonia yang utama," Potongnya, matanya menyipit karena emosi. "Apapun yang terjadi."


Dokter Coltrain tersenyum."Kami berharap bisa menyelamatkan mereka berdua, dari hasil pemeriksaan, jelas Sonia tidak sanggup, jantungnya tidak kuat, pertama kita akan melakukan kateterisasi jantung terlebih dulu dan kemungkinan terburuk setelah dilakukan operasi SC, jika jantung Sonia tidak stabil, maka kita akan segera melakukan bedah jantung."


"Sonia yang utama."Ulangnya.


"Aku akan melakukan yang terbaik."Galih menepuk bahunya lembut, sama sekali tak seperti biasa.


Ia memandang dokter Coltrain dan Galih menjauh, hatinya terasa begitu berat. Segalanya tergantung pada kedua orang itu, sekarang, pada ilmu kedokteran.


Ia sedang duduk di kursi dekat jendela, memandang keluar ke arah halaman Rumah Sakit. Orang-orang berjalan disepanjang trotoar, masuk dan keluar dari bangunan ini. Namun ia seakan tidak melihat mereka.


Ia teringat pertama kali melihat Sonia, ketika gadis itu, berjilbab putih tersenyum malu padanya. Atau saat Sonia berbicara pada mawar, yang membuat ia ingin tertawa.


"Apa yang terjadi?" Papa yang tiba dari Bandung pagi tadi, menghempaskan diri di kursi sampingnya.


"Mereka sedang melakukan kateterisasi jantung," katanya termangu.

__ADS_1


Papa menghela nafas dalam-dalam, jelas papa tahu perasaannya saat ini seperti apa, pria tua itu mengelus bahunya perlahan.


Semua telah berkumpul seolah memberi kekuatan padanya, termasuk Audrey yang meninggalkan anak ke baby sister demi melihat Sonia yang tengah berjuang.


"Kalau aku kehilangan dia," Katanya pada Audrey yang duduk persis disebelah.


"Tak ada lagi yang cukup berharga di dunia ini bagiku untuk tetap bertahan."


"Bukan itu yang diinginkan uni." Jawab Audrey perlahan.


"Uni menghargai kehidupan, kakak bisa melihat itu dari caranya merawat mawar- mawarnya."


Ia menggigit bibir. Ia ingat pada Sonia yang selalu ia goda tentang bicara pada mawar- mawar, Sonia memang suka menanam.


Dokter Coltrain mengatakan bahwa seharusnya Sonia tidak dibiarkan hamil jika tahu kondisi jantungnya parah seperti ini. Sungguh ia benar-benar terpuruk mendengarnya.


Seandainya aku tahu...


Seandainya aku tahu...


Seandainya Sonia atau amak memberitahuku tentang kondisi gadis itu lebih awal?!


Mama mengelus punggung tangannya pelan, "dekatkan dirimu pada Tuhan, hanya Dia yang bisa menolong Sonia saat ini."


Dulu sekali ia pernah melakukan tawar-menawar pada Tuhan demi hidup orang yang ia cintai...


Aku berjanji tidak akan mengatakan apapun yang menyakitkan lagi, asalkan Kau membiarkan nya hidup. Aku akan menjalankan segala perintah Mu, segalanya, asalkan Kau menyelamatkan nya, asalkan Kau membiarkan dia tetap hidup!


namun ia kecewa, membuatnya membenci Tuhan, hingga akhirnya ia bisa menerima kenyataan bahwa tak ada yang bisa menentang takdir.


Dan sekarang, ia juga melakukannya, tawar-menawar demi hidup Sonia. Tapi Sonia punya arti penting, ia berdoa tanpa suara. Jauh lebih penting dibandingkan dirinya.


"Tapi sebenarnya kau tak bisa tawar-menawar." pikirnya. Takkan pernah bisa. Kau bisa meminta, hanya itu.


Ia tersungkur merendah mencium sajadah Musholla Rumah Sakit. Ia bersujud dan bicara pada Tuhan. Ia tidak mengajukan penawaran. Ia hanya mendoakan yang terbaik untuk Sonia.


To be Continue


Happy reading


sehat selalu readers tersayang 😘😍😍

__ADS_1


Mampir ke karya baruku ya guys, Cinta Semusim.. jangan lupa masukkan ke favorit 🤗🤗🤗


__ADS_2