
Abi
He love airport. He read somewhere that an airport witnessed those missed hellos and hard goodbyes. Airport have seen more sincere kisses than wedding hall. He witnessed all those stories here and from his workplace.
Dan bandara pula yang menjadi saksi ketika ia jatuh cinta, juga patah hati.
Sebuah tawa kering mencuri keluar dari bibirnya, diikuti pukulan ringan ke kaca jendela. Lagi-lagi flight yang terjebak cuaca buruk seperti ini sangat cocok untuk mengasihani diri sendiri. Seperti yang ia lakukan sekarang.
Namanya Tiara, gadis yang ia jatuhi cinta mendalam bertahun silam. Gadis yang membuatnya selalu bersemangat untuk pulang dari flight yang melelahkan.
"You love your job, right?" Tanya Tiara saat itu.
"Ya, sangat...." Jawabnya.
"More than you love me?"
Waktu itu ia membantah. He love Tiara more than, he love his job. Ia mencintai Tiara lebih dari cintanya pada pekerjaan. Tapi ternyata Tiara tidak sama. She loves herself more than she love him. Karena itu Tiara memutuskan untuk pergi. Dan yang tertinggal untuknya adalah pekerjaan.
Ia menghela nafas panjang. Itu hanya kisah lalu, tak perlu untuk diingat kembali bukan. Ia hampir bersumpah untuk tidak pernah jatuh cinta lagi selama hidupnya. Tapi rasa itu kembali hadir saat ia melihat sosok Aurora. Gadis itu, entah mengapa membuatnya bersemangat untuk menyelesaikan setiap misi penerbangan.
Terkadang ia seperti orang gila menghitung jadwal kapan terbang lagi ke Sapporo, ia ingin bertemu Rora, ada rindu terselip di hati hanya untuk sekedar melihat Rora tersenyum atau membulatkan mata menanggapi kejahilannya.
Tunggu... Akankah Rora sama seperti dirinya? entahlah, setahunya gadis itu masih kosong, tidak ada pria yang sedang atau lagi dekat dengan Rora.
Empat bulan mengenal Rora sejak bertemu di bandara kala itu, Rora tampak terbuka padanya. Gadis itu selalu menerima kehadirannya, meski keterbukaan Rora mungkin hanya sebatas teman.
Ia terlalu khawatir untuk memulai, bayangan ketakutan itu jelas masih ada. Ketakutan akan sebuah kegagalan. Ketakutan akan kembali dicampakkan. Hingga saat ini ia masih ragu untuk melangkah.
.
.
.
__ADS_1
Aurora
Ia baru saja memeriksa satu pasien yang baru datang dengan keluhan sesak nafas, saat ponselnya berdering.
"Hallo.."
"Hi...?!" Suara Fatih terdengar di ujung telpon.
"Ya...Ada apa?"
"Ti- dak ada. Aku pamit jam satu nanti flight ke Melbourne."
Ia tak kuasa untuk tidak menyunggingkan senyum. Nada Fatih bicara persis seperti seorang suami yang sedang minta izin untuk menikah lagi.
"Hmmm... Ya hati-hati sepupuku, see you next time. Sampaikan salam sama mama Sonia jika ada flight ke Jakarta."
"Ehemmm...Ya."
"Ada lagi?" Akhirnya ia bersuara memecah kekikukan.
"Oh..tidak, tidak ada. Oke, aku tutup telponnya, see you next time. Terimakasih yang kemarin."
"Yap."
Ia hanya menggelengkan kepala sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku baju prakteknya saat telpon telah dimatikan.
.
.
.
Fatih
__ADS_1
"Hati-hati sepupuku."
Ia hanya bisa tersenyum getir mendengar ucapan Rora yang seperti itu. Yah, dua hari di Sapporo, tak pernah terdengar lagi Rora menyebut namanya, alih-alih memanggil Fatih, gadis itu selalu memanggilnya 'sepupuku'.
Memang itu yang ia harapkan bukan, tetap bisa berada di dekat Rora dengan status saudara. Ia pikir itu sudah keputusan yang paling benar, namun nyatanya ia salah besar.
Gadis manis, dengan binar mata bak bintang kejora itu sejatinya sudah mengambil hatinya sejak dulu. Tapi ia bingung mengartikan perasaan apa itu. Suka? cinta?... Yah, ia pikir ini hanya cinta monyet anak SMP yang bisa pudar kapan saja.
Bagaimana tidak, setiap hari yang ia lihat hanya wajah Aurora. Rora yang ceriwis, Rora yang frontal, Rora yang yah selalu memenuhi hari-hari nya, di rumah, di sekolah, bahkan saat liburan. Mereka saudara, bagaimana mungkin ada cinta diantaranya.
Pun saat Rora menyatakan perasaan padanya, ia masih denial yang akhirnya justru membuat hubungan mereka malah merenggang.
Selama ini ia menghindar dan bersembunyi di balik label 'sepupu' itu. Ia tidak mau mengakuinya. Lalu Kikan datang dan ia pikir ia bisa sepenuhnya mencintai Kikan bukan Rora. Tapi yang ada, ia cuma menimbun kebohongan demi kebohongan.
Penyangkalan- penyangkalan itu terus berlanjut sampai ia menyadari, sudah berapa tahun ia memendam rasa ini. Bahwa ini bukan saja cinta monyet seperti yang ia sangkakan.
Bahwa sebenarnya ia pun mencintai Rora...
Ia mengemasi barang-barangnya, kemudian langsung turun menuju lobi hotel dimana taxi yang akan mengantarnya ke bandara telah menunggu.
Melbourne adalah tujuannya kali ini, goodbye Sapporo, ia berharap akan sering ke sini nantinya.
.
.
.
To be continue
happy reading
permintaan kak Maretha nih🤗🤗🤗 double up,,tapi sedikit dulu yaaa 😍😍
__ADS_1