
Aurora
Dalam kurun dua bulan ini seolah hidupnya benar-benar dijungkir balikkan, mabuk sampai terjerat pergaulan bebas hingga hamil diluar nikah. Dunianya sudah kacau. Papa akan sangat kecewa padanya jika tahu seperti apa dirinya sekarang.
Sekali lagi ia menangis dalam diam. Harapan satu-satunya kali ini hanyalah Abi. Pria itu berjanji akan menikahinya. Belum ada cinta untuk Abi saat ini, tapi ia akan mencoba mencintai ayah dari bayi yang dikandungnya.
Sejauh ini perlakuan Abi padanya sangat baik. Abi janji akan menemui keluarganya akhir bulan ini setelah menyelesaikan rute flight di Eropa. Yah akhirnya ia akan menikah, tapi mengapa rasanya hampa.
"Hari ini kita ke dokter ya." Abi sengaja menjemputnya ke Rumah Sakit petang itu.
"Baru empat hari yang lalu aku kesana, bagaimana bisa datang lagi."
"Kan aku belum lihat, aku ingin ketemu sama bayinya." Cengiran khas Abi keluar, membuat ia harus menghela nafas banyak-banyak.
Akhirnya petang itu, ia mengikuti maunya Abi yang ngotot pengen lihat bayi mereka. Menurutnya belum bisa juga disebut bayi sebab masih berbentuk seperti sebutir kacang merah.
Abi menggenggam tangannya erat. Ada banyak calon ayah yang harap-harap cemas disini, tidak sabar menunggu untuk bertemu anak mereka, sama seperti Abi. Aku menghela nafas panjang sambil mencoba tersenyum. There's life.
"Are you one of them?" Tolehku pada Abi yang memasang mode gugup sejak tadi.
"Who?"
"Calon ayah yang tidak sabar menunggu waktu bertemu dengan anaknya?"
Refleks tangan Abi terulur menyentuh perutnya. Belum ada perubahan berarti disana, tapi mata Abi menyiratkan seolah ia tahu di dalam sana ada calon anak mereka yang kian lama kian besar.
"Yes, I am. Ini membuatku tidak sabar ingin segera bertemu dengannya." Abi berbisik dengan netra mengarah ke perutnya.
"I 'm gonna be the best father. Ada banyak yang akan aku ceritakan kepadanya kelak. Ada banyak yang ingin aku lakukan bersamanya. Aku ingin membacakan cerita untuknya setiap malam. Membuatkannya sarapan, jika perlu membuatkannya bekal untuk ke sekolah."
"Aku akan mengajaknya bermain bola atau berenang, apapun yang ia inginkan. Aku tidak akan menolak jika dia menangis minta ice cream. Aku akan mengajaknya keliling dunia." Abi tersenyum mengakhiri perkataannya.
"Terlalu dini untuk berfikir sejauh itu." Ia berdehem menoleh pada Abi.
"Why not? talking about wish..." Kekeh Abi.
__ADS_1
***
Nomor antrian nya sudah dipanggil oleh petugas, dengan sigap Abi merangkul bahunya pelan.
Abi tak henti-henti memandang takjub pada layar monitor yang menampakkan embrio yang baru tumbuh, usia enam minggu. Ia banyak bertanya pada dokter dengan sangat antusias.
"This ia my first child." Ucapnya pada dokter Siroshime sambil menggaruk tengkuk.
"Sorry if I ask so many questions."
Dokter Siroshime mengangguk sambil tersenyum, " it's okay."
"Aku akan menyimpan foto USG ini." Abi melipat foto USG yang mereka dapat dari ruangan dan menyelipkannya pada sebuah buku catatan kecil. Aku hanya tersenyum geli melihatnya.
"Buku apa itu?"
"Aku punya kebiasaan mencatat setiap perjalanan dan setiap fligt yang aku lakukan, sejenis catatan perjalanan gitu." Abi menyimpan kembali buku catatannya.
"Kenapa tidak buat catatan di ponsel kan lebih praktis."
Ia hanya mengangguk singkat dan mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Abi
"Dua hari lagi aku berangkat, ada flight ke Osaka sebelum bertolak ke Pittsburgh."
"Kok Domestik? ke Osaka?"
" Teman minta tolong, flight ke Osaka, berangkat dari Tokyo, masih satu naungan Maskapai juga."
"Jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek. Kita akan ke Jakarta menemui orangtuamu setelah aku pulang." Lanjut Abi sambil mengacak rambutnya, wajah pria itu terlihat sangat bahagia.
Ia hanya mengangguk, " Aku akan menetap di Jakarta setelah kita menikah."
"Kontrakku disini hampir habis, tinggal menyelesaikan admistrasi dan sedikit pekerjaan lagi." Tolehnya pada Abi.
"Never mind, kita akan membeli satu unit apartemen nanti di Jakarta atau sebuah rumah jika kamu menginginkannya."Kembali Abi tersenyum hangat.
__ADS_1
Ia balas dengan tersenyum, tapi entah mengapa hatinya merasa aneh, ada sesuatu yang menyelinap masuk ke ruang kosong di sana. Seperti sebuah firasat bahwa setelah ini ia takkan pernah bertemu Abi lagi.
Cemas yang sungguh tak beralasan. Apa setiap pasangan pilot akan merasakan seperti ini, ada perasaan kosong dan was-was yang menyusup dihati, takut jika mereka terbang dan takkan pernah kembali lagi.
Cepat-cepat ia menepis pikiran tersebut, entah mengapa ia ingin memeluk pria itu. Abi balas memeluknya erat. "Hati-hati, aku akan menunggumu pulang." Ucapnya lemah.
.
.
.
Dua hari kemudian, Abi benar-benar pergi. Sebelum berangkat pria itu meminta izin untuk menciumnya.
"May I kiss you, Rora?"
Mata Abi bersinar lembut dan ia hanya bisa mengangguk saat pria itu mengecup keningnya lama dan dalam. Lalu beralih menuju perutnya.
Sengaja membungkuk agar bisa mendekati perutnya dan bicara disana. " Hei buddy, hang on there. Daddy will learn how to be a good father to you. Untill we meet."
Dan terakhir pria itu memeluknya erat, sangat erat sampai ia hampir tak bisa bernafas, "I love you more than you know, Rora. My Aurora."
Ia tersenyum sambil terus menatap kepergian Abi. Menatap punggung pria itu yang mulai menjauh dan akhirnya menghilang.
****
... SKYLINE FLIGHT 543 LOST CONTACT IN SOUTHERN GUMMA PREFECTURE, JAPAN, NORTH WEST OF TOKYO...
...Domestic flight Skyline 543 departed Tokyo’s Haneda airport at 6:12 PM and was scheduled to land in Ōsaka one hour later. The plane had left Tokyo airspace and had ascended to 24,000 feet (7,300 metres) when the first distress calls came from the plane’s pilot, who initially reported losing altitude and then reported difficulty controlling the plane. The plane fell to around 10,000 feet (3,000 metres). The pilot continued to send distress calls and asked to be rerouted to the Tokyo airport. But about 45 minutes after takeoff, the plane crashed into Mount Takamagahara near Mount Osutaka in the Kantō Range....
😱😱😱😱😱😱😱
To be Continue
happy reading...
__ADS_1