The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Mau Mahar Apa?


__ADS_3

Audrey


Pagi-pagi sekali, bahkan adzan subuh belum berkumandang, ibu sudah sibuk membangunkannya. Dan selepas sholat, ia diwejangi oleh nasehat perkawinan yang panjangnya sepanjang gulungan tissue kloset yang tak putus-putus.


Tepat pukul tujuh pagi, tim wedding organizer sudah datang, beserta tim catering, dan disusul oleh tim makeup. Oh ternyata ini bukan mimpi, ini nyata. Ditambah setelah ia melihat tenda 2 blok terpasang dibawah, katanya hanya akad nikah, tapi mengapa seheboh ini.


Ia menggeram jengkel dikamar kala wajahnya mulai dipegang oleh tim makeup. Sampai saat ini, ia bahkan belum bisa bicara dengan pelaku utama semua kehebohan, kak Galih, siapa lagi.


Wajahnya tengah dilapisi foundation ketika terdengar pintu diketuk dari luar.


"Masuk, tidak dikunci." Mbak perias setengah berteriak.


Pintu terbuka menampakkan wajah kak Dimas, laki-laki itu tersenyum sumringah namun tetap berada di depan pintu kamar, tentu saja tak enak untuk masuk ke kamar gadis.


"Sebentar mbak." Ia berdiri dan berjalan mendekati kak Dimas.


"Puas! kalian bersekongkol! dimana laki-laki itu!!!"


"Laki-laki itu?? dia calon suamimu." Jelas kak Dimas menahan tawa.


"Terserah, kakak mau apa kesini?"


"Kamu mau Mahar apa?"


"Whaaaaat?"


Ya Tuhan, aku benar-benar gila sebentar lagi. Wajahku bahkan sudah dirias mau nikah, mempelai pria baru nanya mau mahar apa???


"Yang mau nikah sama aku sebenarnya siapa?kakak atau kak Galih?" tatapnya tajam pada laki-laki yang tengah berdiri didepan pintu itu.


"Ya Galih lah, masa kakak."


"Terus kenapa kakak yang tanya aku mau mahar apa?"


"Karena kakak yang disuruh belinya sekarang, cepat katakan mau apa, jam setengah sepuluh acara dah mau dimulai, jangan yang susah."


Ia mendesah tak percaya, dasar double songong kak Galih dan kak Dimas, membuat kepalanya mendadak migren, berdenyut ingin pecah.


"Emas atau seperangkat alat sholat?" Tawar kak Dimas polos, sepolos bedak bayi yang sering ia gunakan ketika berangkat kuliah.

__ADS_1


"Aku mau bicara dengan kak Galih." Ucapnya dingin mengabaikan tawaran kak Dimas.


"Belum bisa, nanti dia kan kesini juga, bisa puas bicara. Ayo cepat Drey mau apa maharnya?" Sedikit memaksa.


Ia memijit pelipisnya pertanda bahwa si kepala bertambah pening.


"Ya udah, kakak belikan emas aja ya, cincin, kalung atau gelang?"


"MAHAR ITU HAK AKU SEPENUHNYA, BUKAN KAKAK YANG NGATUR!!!"


Swiinnnnggg....


Hening, seolah waktu terhenti persis seperti film-film yang sering ia tonton, dimana adegan yang menampilkan semua tokoh terdiam mematung pada posisi masing-masing.


"Sorry, bukan begitu, oke Audrey mau apa?" Suara kak Dimas melembut, menahan pias diwajah sebab beberapa orang tampak memperhatikannya.


Sebenarnya ia bukannya marah ke kak Dimas, melainkan kesal dengan calon suaminya sendiri.


"Maafkan aku kak, belikan saja seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an, itu maharku." Ia melirih pada laki-laki yang masih berdiri di depan pintu kamar itu.


Kak Dimas mengangguk pelan sambil terus mempertahankan senyum. Untuk ukuran seorang Intel dan penyidik yang terbiasa dengan kasus kriminal serta kekerasan, kak Dimas benar-benar luar biasa dalam menghadapi wanita labil seperti dirinya. Membuatnya ingin segera merekomendasikan laki-laki ini pada uni Sonia secepatnya.


Tepat pukul sembilan pagi, ia sudah siap dengan mengenakan kebaya putih tulang bawahan kain batik Jawa yang entah secara kebetulan atau apa, sangat pas ditubuhnya yang ramping tinggi semampai, ditambah dengan riasan kepala, disanggul dengan sanggul modern, apik sekali.


Semua menunggu detik-detik menuju gerbang pernikahan digelar. Suara hiruk-pikuk dari luar terdengar, sesuatu yang masih bisa ia tangkap dengan frekuensi pendengarannya bahwa calon mempelai pria beserta rombongan telah sampai.


Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, tiba-tiba saja tangan hangat uni Sonia menggenggamnya erat, sambil tersenyum gadis itu berkata, "Barokallah Audrey, sebentar lagi berganti status."


Entah ia harus senang atau apa mendengarnya, semua begitu mendadak membuatnya mengalami sindrom kosong pikiran akut.


"Mempelai wanita disuruh keluar." Ibu yang sudah cantik mengenakan kebaya biru laut tergopoh masuk ke kamar, bersama uni Sonia menuntunnya keluar.


Degg...


Degg...


Degg...


Ternyata diluar dugaan, Rooftop nya mendadak jadi seramai ini, beberapa orang yang ia tau adalah pegawai klinik tampak duduk berjejer dikursi, ada juga dokter rumah sakit yang dekat dengan kak Galih, ayah kak Galih beserta Medusa yang tampak dengan wajah masamnya, beberapa orang yang ia tak kenali, mungkin masih kerabat kak Galih, serta kak Dimas tampak duduk di belakang sang tersangka utama.

__ADS_1


Sepersekian detik tatapan mereka bertemu, kak Galih mengenakan jas putih senada dengan kebayanya, tampak gagah nan tampan melempar senyum yang yah hampir saja membuatnya limbung ditempat. Cepat-cepat ia menunduk dan mengambil posisi duduk disebelah pria itu.


Acara berlangsung khidmat saat kak Galih dengan suara bergetar mengucapkan Ijab Qabul di hadapan semua yang ada disana, membuatnya ikut merinding terharu.


"SAH... SAH!!"


Alhamdillah, Allahumma Sholli Alla Muhammad, wa'ala Ali Muhammad...


Tuhan memberikanku cinta


Untuk ku persembahkan hanyalah padamu


Dia anugerahkanku kasih


Hanya untuk berkasih berbagi denganmu


Atas restu Allah ku ingin milikimu


Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku


Restu Allah ku mencintai dirimu


Ku pinang kau dengan Bismillah


(Rossa feat Ungu)


***


Ia mencium tangan kak Galih yang telah berubah status menjadi suaminya itu dan dilanjutkan dengan kak Galih yang mencium keningnya takzim, berakhir sudah perjalanan cintanya dengan berlabuh pada pria yang saat ini berada tepat dihadapannya itu.


Semua terharu, ia memeluk ibu yang sesegukan menangis, ia pun tak kuasa untuk tidak menangis, selamat datang di dunia baru Audrey, dunia penuh ibadah sepanjang perjalanan hidupmu, dan hari ini kau terlahir kembali sebagai seorang istri dari dokter Galih.


Dan tibalah momen penyerahan mahar yang fenomenal, ia bilang fenomenal sebab tentu saja benda itu yang ia tau baru saja dibeli beberapa jam yang lalu dengan perdebatan sengit sebelumnya antara ia dan si pembeli mahar. Ia sempat melirik sebentar pada kak Dimas yang tersenyum penuh arti padanya, makasih kak ucapnya lewat telepati.


To be Continue


Happy reading yaaaa


Jumat barokah...

__ADS_1


Sehat selalu semuaaaaa 😍😍😍


__ADS_2