The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
The Future...


__ADS_3

Dimas


Setelah Ezar menyelesaikan segala urusan admistrasi dan jadwal kontrol di Rumah Sakit, mereka pulang. Papa yang sudah menunggu di parkiran, langsung merangkulnya erat.


"Wuiih jagoan papa udah sembuh!!" Sambil meninju bahunya, kalian tau, bapak tua ini memperlakukannya seperti ia adalah bocah lima tahun, hellooo ia sudah masuk 29 tahun bulan depan. Sungguh tidak bisa dipercaya.


Dapat ia lihat semua hampir tertawa, bahkan Elan tersedak oleh liurnya sendiri, dan Ezar hampir memuntahkan permen karet yang tengah dikunyah, termasuk Sonia juga ikut mengulum senyumnya, papa benar-benar, oh Lord, di depan bawahan dan gadis yang ia suka, papaaaaaa...


Ia hanya menunduk, menggeram tak jelas, berusaha menghindar dari tawa tertahan Ezar, Elan dan yang lainnya.


"Kami balik ke kantor ya bang, cepat pulih paripurna." Elan bersuara.


"Yap, makasih ya." Mereka saling rangkul dan berpisah diparkiran, dan lagi, bisa ia lihat Elan sempat melirik sekilas kearah Sonia, gadis itu cepat-cepat menunduk, gaya khas Sonia, ia sudah sangat hafal.


"Sonia ikut sampai apartemen kan?" Suara mama.


"Hah.."


Ia menatap gadis itu dengan wajah memohon, hingga akhirnya Sonia mengangguk pelan. Seperti tahu isi hatinya, mama segera mengambil posisi duduk di bangku depan bersebelahan dengan papa sambil menggendong Ara, dan ia tentu saja duduk berdua dengan sang gadis pujaan di bangku belakang, sangat menguntungkan.


Sepanjang perjalanan Sonia hanya memandang kearah luar jendela, hingga suara papa terdengar membuat gadis itu membenarkan duduknya menghadap ke depan.


"Om udah dengar dari Dimas, katanya kalian punya rencana ke hubungan yang lebih serius?"


"Iya pa." Sonia yang ditanya, tapi dia yang semangat menjawab sambil memberi kode ke gadis disebelahnya untuk bersuara.


"Eh, iya om. Kak Dimas udah datang ketemu amak."


"Baguslah, rencana kapan?"


"Lebih cepat lebih baik pa." Lagi-lagi ia yang menjawab.


"Tapi Sonia masih kuliah kan?" Papa menoleh sebentar ke arah Sonia.


"Iya om, lagi nyusun skripsi."


"Gak masalah, Galih kan kemaren nikah sama si Audrey satu angkatan sama Sonia, masih kuliah juga." Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan.


"Papa minta pendapat Sonia bukan kamu."

__ADS_1


"Sonia nurut, iya kan sayang." Jiaah, lidahmu Dimas, manis sekali hahaaaa. Tak dihiraukannya Sonia yang sudah seperti kimbab yang baru dikeluarkan dari microwave setelah berminggu-minggu tersimpan di lemari es.


Mobil sudah memasuki area parkir apartemen, Sonia membantu mama membawa barang-barang bersama Ara yang digandeng, sementara ia masih perlu bantuan papahan dari papa untuk berjalan sampai ke unit.


.


.


.


Elan


Ia kembali melihat mata teduh itu, mata yang menggetarkan jiwa ABG nya kala pertama kali bertemu.


"Aku duduk disini boleh?" Ucap cowok pindahan dari Samarinda pada seorang cewek cantik berhidung mancung, rambut dikuncir satu.


"Silahkan." Cewek itu segera menyingkirkan buku yang terserak di atas mejanya.


"Nama saya Elan, nama kamu siapa?"


"Sonia."


Sejak itulah, mereka intens berkomunikasi sebab duduk bersebelahan dalam kelas, walau Sonia terbilang cukup pendiam, namun gadis itu sangat menyenangkan. Hingga suatu hari ia memberanikan diri, yah mungkin itulah hal gila yang pernah ia lakukan selama hidupnya.


"Sonia, aku menyukaimu. Mau jadi pacarku?" Mungkin kata-kata ini terdengar biasa, tapi jika itu diucapkan di tengah-tengah lapangan basket dengan menggunakan pengeras suara, tentu saja akan menjadi sesuatu yang luar biasa.


Dapat ia lihat wajah Sonia merah padam disana, berdiri terpaku ditengah sorak- sorak histeris teman-teman dan tepuk tangan meriah. Dan akhirnya kami berpacaran, indah bukan.


Namun hubungan itu hanya bertahan enam bulan. Mereka berpisah saat kenaikan kelas XI. Setelah lulus sekolah, ia mengikuti tes penerimaan bintara POLRI, dan diterima.


Lepas pendidikan ia kembali mendatangi gadis yang ternyata sudah jadi calon perawat itu. Namun Sonia menolaknya, Sonia tidak ingin terikat hubungan apapun sebelum pernikahan, sedang ia sendiri juga masih ikatan dinas yang belum diperbolehkan untuk menikah saat itu.


Yah, kisah itu telah lama berlalu, penggalan cerita cinta pertamanya, tak menyangka akan bertemu gadis itu lagi hari ini, hidup memang tak pernah bisa kita tebak.


Ia tersentak kaget kala bang Dimas memperkenalkan Sonia sebagai calon istri. Yang ia tau, Sonia anti polisi, ia tidak suka polisi. Tapi ahh sudahlah mengingatnya akan menambah nyeri dihati, benar sekali kata komandannya waktu pendidikan dulu, ' peluru itu berbahaya, namun cinta lah yang paling berbahaya di dunia ini. Cinta menggerogoti mu kalau dibiarkan.'


Sonia sudah memilih, tak ada tempat untuknya. Mengingat-ingat masa lalu tidak menyelesaikan masalah, malah menimbulkan masalah baru sebab kita takkan bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.


.

__ADS_1


.


.


Sonia


Ia selalu menghindari tatapan kak Dimas yang menurutnya sangat tidak biasa. Tatapan penuh selidik khas Intel profesional, membuatnya seperti penjahat yang ingin disidak.


"Ada apa?" akhirnya ia memutuskan untuk mengklarifikasi lebih dulu.


"Ehemm." Kak Dimas sempat melirik nenek dan kakek Ara yang duduk di kursi nonton sebelum kembali menatapnya.


"Kamu sama Elan..."


Benar dugaannya, kak Dimas bisa mencium hubungan masa lalunya bersama Elan. Ia mengangguk sebentar sebelum menjawab cepat.


"Elan mantan aku pas masih SMA."


Dan detik berikutnya, wajah kak Dimas mendadak pias.


"Kamu punya mantan? katanya gak mau pacaran?" Jelas sekali suara kak Dimas terkesan menuduh.


"Dulu sebelum aku pake jilbab, sebelum ikut ngaji, kenapa ada masalah?"


"Tidak, tidak. Itu kan masa lalu." Kak Dimas tersenyum salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya.


"Jadi, kapan mama sama papa bisa datang secara resmi menemui amak?" Ucap laki-laki itu mengubah topik bahasan, lebih ke the future, bukan past tense hahaaa.


"Aku ngobrol sama amak dulu."


"Kemungkinan selesai wisuda." Lanjutnya.


"Udah wisuda berarti sekitaran lima enam bulanan lagi. Kalau tunangan dulu gimana? atau biar mama sama papa ngobrol langsung sama amak."


Ia mengangguk, "Tentuin dulu kapan bisa datang kerumah."


Dan dapat ia lihat kak Dimas tersenyum antusias...


To be Continue

__ADS_1


Happy reading...


__ADS_2