The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Mencuri Ciuman mu...


__ADS_3

Galih


Ia menguap lebar sesaat setelah pasien terakhir keluar ruangan, jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Asisten nya sudah membereskan alat untuk pulang.


"Duluan dok." Suara asisten berpamitan dan ia hanya mengangguk cepat.


Raihnya ponsel yang sedari tadi tergeletak di laci meja, menekan nomor kontak sang kekasih, yah sejak Audrey menghubunginya tadi siang, ia bahkan belum bertemu gadis itu sebab begitu padatnya jadwal hari ini.


"Hai sayang, sudah tidur?"


"Belum, masih ngetik tugas. Kakak sudah selesai prakteknya?"


"Sudah, barusan kelar. Kakak kesana ya?"


"Hmm."


"Hmm apa? boleh nggak?"


"Iya boleh, tapi jangan lama-lama dan jangan macam-macam."


"Hahaaa, macam-macam apanya? cuma semacam aja."


"Tuh kan."


"Iya iya, bawel." Sambungan telpon terputus. Ia bergegas menyimpan benda pipih itu kedalam saku celana, mematikan lampu ruangan dan berjalan ke arah Rooftop. Tidak sampai lima menit ia sudah berada di gazebo.


"Kenapa diluar?" Heran ia melihat gadisnya duduk bersila di depan laptop di luar rumah.


"Lebih asyik, bisa lihat bintang juga."


Dan ia langsung mendaratkan bokongnya di sisi Audrey.


"Jadi kamu berkelahi tadi?" Ucapnya sambil mengelus rambut Audrey, sudah jadi kebiasaan nya untuk tidak bisa diam kala didekat sang kekasih.


"Dia mengataiku pelacur." Audrey tanpa menoleh.


"Kakak tau mantan pacarnya kak Dimas?"


"Zia?" ia menebak.


"Iya, ternyata adiknya satu kelas denganku, Zizi."


"Kamu berkelahi dengan Zizi?"


"Sudah aku bilang dia mengataiku pelacur, dia yang mendorongku lebih dulu."


"Lantas?"


"Yah, aku dorong balik, tidak sengaja kepalanya terbentur bahan bangunan, berdarah."


"Ya Tuhan, terus?"


"Kami bawa ke Rumah Sakit, ternyata hanya luka gores ringan. Mereka mau menuntut ku."

__ADS_1


Ia memijit pelipisnya, dan menghela nafas.


"Besok kita temui mereka, kita ajukan damai, minta maaf karena kamu sudah melukai anak orang."


"Tapi kak Dimas bilang biar dia yang urus, kak Dimas bakalan urus sebelum mereka mengajukan tuntutan."


"Tetap saja, kita harus punya etika dengan mendatangi kediaman mereka dan meminta maaf sayang." Ia menatap Audrey dalam, gadisnya memang sama sekali belum ada dewasa- dewasa nya.


Audrey kembali beralih menatap laptopnya, air mukanya jelas nampak kesal.


"Semua gara-gara Loony." Ucap Audrey datar dan dingin.


"Loony? Loony siapa?"


"Dia sahabat ku dari semester satu, dia yang mengajakku ke hotel waktu itu, yah walaupun itu atas keputusanku sih. Cuma aku tidak habis pikir mengapa dia menyebarkan rumor kalau aku pelacur, padahal dia sendiri yang seorang pelacur."


Galih mencoba mengingat sosok Loony, yah gadis yang juga berambut pirang sama seperti Audrey waktu mereka pertama kali bertemu.


"Mungkin dia iri?"


"Mengapa iri? apa yang dia iri kan dariku?"


"Banyak, kamu cantik, pacarnya dokter keren lagi." Kekehnya dan sukses membuat Audrey memukul-mukul dadanya.


"Orang seperti itu jangan diladeni, jelas dia tidak suka kamu seperti yang sekarang ini, sementara dia mungkin masih menjalani pekerjaan kotor demi hidupnya."


"Fokus belajar saja biar cepat kakak lamar, atau mau kakak lamar sekarang? kakak sudah siap kalau harus melamar saat ini."


"Wisuda duluuu." Wajah Audrey mendadak merah padam.


"Tuh kan kakak mulai macam-macam isshh." Audrey berusaha melepas lilitan tangannya pada perut gadis itu.


"Siapa yang macam-macam, kakak bilang cuma satu macam kok."


"Kakaak, pulang gih. Sudah malam, nanti di grebek warga loh, aku mau tidur." Jelas Audrey panik tingkat dewa, membuatnya melepas pelukan sambil terkekeh pelan.


"Besok kita temui mereka, nanti kakak calling Dimas, oke." Ia meraih kedua bahu Audrey menatap keseluruhan dari wajah cantik itu.


"May I kiss you?"


"NO NO NO, Tidaak ***.."


Telat, ia sudah mendaratkan kecupan singkat pada sesuatu yang sejak tadi menggodanya, sesuatu yang membuatnya candu, apalagi kalau bukan bibir semanis madu kepunyaan Audrey.


Dan adegan selanjutnya sudah bisa ditebak, Audrey akan marah dan memukulinya tanpa ampun.


"Awwww..." Ia berlari menuruni tangga sambil tertawa.


.


.


.

__ADS_1


Sonia


Ia menghela nafas jengah pada laki-laki yang sedari tadi memaksa untuk mengantarnya pulang itu, mengekor dengan mengendarai mobil dibelakangnya berjalan. Maunya apa sih, tadi saja bilang ke Audrey ingin balik ke kantor sebab masih ada pekerjaan, nah ini ngabisin waktu hanya untuk menunggunya duduk di halte bus.


Ia terus menunduk menghindari untuk melihat mobil hitam yang terparkir di sisi jalan itu. YaTuhan, bus juga tidak muncul-muncul, sementara hujan mulai turun menampilkan pertunjukan akrobat di udara.


Laki-laki itu keluar dari mobilnya membawa payung bermotif polkadot, membuatnya gugup dan gelisah sebab jelas kak Dimas berjalan mendekat kearahnya.


"Ayo saya antar pulang."


"Tidak usah, terimakasih." Ucapnya terus menunduk.


"Dasar keras kepala, hujan tidak akan berhenti, bus juga tidak ada, ayo."


Akhirnya ia menyerah juga dengan mengikuti kak Dimas masuk kedalam mobil laki-laki itu.


Dan sepanjang perjalanan ia hanya menoleh ke arah luar jendela dengan perasaan yang sangat tidak nyaman, sebab tak pernah berada diposisi harus berdua saja dengan lelaki asing seperti ini hingga membuat lehernya pegal minta ampun.


"Nanti ada masjid diujung sana, berhenti disitu." Ucapnya pelan.


Dimas menajamkan pandangannya kedepan melihat masjid yang ditunjuknya.


"Rumah kamu dimana?"


"Masuk gang sempit di samping masjid itu, gak bisa masuk mobil, jadi berhenti disini saja."


Mobil telah berhenti tepat di depan masjid yang tidak terlalu besar itu, Dimas mengambil payungnya dan membuka pintu mobil.


"Saya antar sampai rumah."


"Tidak, jangan. Saya bisa pulang sendiri, lagian rumah saya cuma berkelang tiga rumah dibelakang masjid ini."


"Tapi ini masih hujan, saya antar."


Laki-laki ini... Membuatnya harus menghela nafas berkali-kali.


"Saya mohon, saya tidak pernah mengajak laki-laki kerumah, jadi terimakasih sudah mengantar saya sampai disini." Ia membuka pintu mobil dan berlari menerobos hujan.


Dimas hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum, ia ingin menghidupkan mesin mobilnya saat dilihatnya sebuah ponsel tergeletak di bangku samping kemudi, sudah dapat dipastikan itu kepunyaannya Sonia, sang gadis keras kepala.


Diraihnya ponsel keluaran empat tahun lalu itu, beda jauh dengan ponsel Dimas yang setiap tahun berganti mengikuti perkembangan tekhnologi, Dimas berjalan pelan memasuki jalan tikus disamping masjid dengan menggunakan payung.


Tiga rumah dibelakang masjid


Yap, Dimas menemukan rumah itu, rumah sederhana dengan cat yang sudah buram, entah kapan terakhir kali rumah itu di cat.


"Permisi, benar ini rumah Sonia?" Dimas bertanya pada anak kecil yang berdiri diambang pintu. Anak itu hanya menatap Dimas aneh, menelusuri penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki dan berhenti tepat di area pinggang, dimana senpi(senjata api) nya bersemayam.


"Amaaaaakk, ada pak polisi nyariin uni!!" Teriaknya seketika berlari kedalam rumah.


To be Continue...


Happy reading yaaaaaa

__ADS_1


jangan lupa like, komen nyaa


__ADS_2