The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Everyone makes mistake, including me.


__ADS_3

Aurora


Ia menghirup nafas banyak-banyak sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar. Yah, apapun yang terjadi, ia sudah siap menghadapinya.


Everyone makes mistake, including me. I make mistake, and then, so what? I must learn from that.


Ia menyembulkan kepalanya sedikit lewat celah pintu yang ia buka.


Ruangan sepi, tak ada siapa-siapa. Dan setelah meneliti setiap sudut tempat itu, barulah ia mengenali bahwa ini adalah villa punya keluarga papa Dimas. Mereka pernah kesini dulu.


Pelan ia berjalan menjinjit sambil tetap awas, persis seperti seorang maling yang hendak mencuri. Tetap tak ada satupun mahluk bernyawa disana. Ia berjalan ke arah dapur, di meja makan sudah tersedia makanan yang entah apa.


Perutnya benar-benar protes minta segera diisi. Tanpa berfikir lagi, ia langsung duduk dan membuka setiap makanan yang ada. Ia baru menyadari bisa makan senikmat ini disaat sangat lapar.


"Emmm...yamm....nymmm."


"Sudah bangun." Suara bass tiba-tiba terdengar dari arah belakang membuatnya hampir tersedak makanannya sendiri.


Cepat-cepat ia mengambil minum dan meneguknya dalam satu kali tegukan. Ia hampir oleng saat mengetahui bahwa itu Fatih.


Ia hanya menunduk menghindar dari tatapan intimidasi yang dilayangkan pria itu, nasi sudah menjadi bubur. Bagaimana pun juga tak kan bisa kembali seperti semula.


Mungkin saat ini Fatih jijik melihatnya, Fatih pasti menganggap nya wanita murahan yang tak berharga. Well, apapun pendapat Fatih and How he look me, I don't care. Ia sudah tidak peduli, hidupnya sudah hancur sejak semalam.


"Hai..." Sebuah suara mencuri keluar dari bibirnya.


Fatih hanya diam, sambil terus menatapnya tanpa berkedip. Kembali ia menelan saliva yang membeku di kerongkongan.Tatapannya beralih ke buku-buku jari pria itu. Jari-jari Fatih terluka parah, darah yang telah mengering menempel di kulit tangan Fatih.


Suasana canggung kental sekali terasa, "A-ku...apa yang kamu lihat.. aku akan sangat berterimakasih jika kamu mau merahasiakan ini di hadapan orang tuaku." Akhirnya ia mulai buka suara.


"Ini kesalahanku, biar aku yang akan menanggung nya. Cukup kejadian ini hanya kita yang tahu, aku mohon kerjasama mu sebagai seseorang yang sudah aku anggap saudaraku sendiri." Ia bicara pelan sambil memberanikan diri untuk manatap Fatih yang sejak tadi menampilkan ekspresi yang tidak berubah dan tak terbaca.

__ADS_1


Detik berikutnya Fatih meraih gelas di atas meja dan melemparnya ke dinding.


PRANGGG!!..


Gelas kaca itu pecah seribu, membuatnya harus menutup mata rapat-rapat, ketakutan dengan reaksi yang ditampakkan Fatih. Lututnya lemas dengan tubuh yang bergetar hebat, ia tak pernah sekalipun melihat Fatih semarah ini. Pria itu benar-benar tampak frustasi.


"Hiks..hiks.. hiks." Akhirnya pertahanannya jebol juga, air mata mengalir sendiri tanpa bisa ia cegah, ia memukul dadanya sendiri.


Ia berlutut,"Ini tidak ada hubungannya sama kamu Fatih, it's my mistake. Aku akan bicara pada Abi."


"Apa yang ingin kamu bicarakan pada si brengsek itu? minta dia menikahimu.. hah?!"


"Look at me Rora!" Fatih mencengkeram bahunya.


"Abi tidak akan memberikan komitmen apapun padamu."


"Aku akan bicara, dia orang baik."


Ia menggeleng pelan dengan tangis terisak, Fatih benar, Abi tak pernah sekalipun membahas masalah perasaan padanya, mereka selama ini hanya berteman, just friend.


"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak terlalu dekat dengan si brengsek itu, dia tidak akan pernah memberikan komitmen apapun. Aku kenal Abi sudah lama Ra." Tatapan Fatih melunak.


Ia mengangguk perlahan,"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku, aku tidak akan melupakan kebaikan ini. Berpura-pura lah kamu tidak pernah tahu. Aku akan mengurus segalanya."


Ia menghirup nafas panjang, tak perlu bicarakan ini pada Abi, itu hanya akan mempermalukan dirinya. Biarlah seperti ini. Ia akan hidup sendiri. Sejak awal ia memang tak pernah diinginkan oleh siapapun, dia tak layak untuk dicintai dari dulu dan sampai sekarang ataupun dimasa yang akan datang.


Ia berjalan meninggalkan Fatih yang masih mematung di sana, dadanya sesak, benar-benar sesak.


"Aku mencintaimu..."


Langkahnya terhenti.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Rora." Fatih mengulangi ucapannya, ia hanya mendengus. Ia yakin dan sangat yakin, Fatih mengucapkan itu hanya untuk agar ia tidak merasa sendiri. Yah, ia tidak perlu dikasihani seperti ini.


Tanpa menggubris ucapan Fatih, ia terus melengos masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat.


.


.


.


Abi


Ia tidak sadar entah untuk berapa lama. Yang ia tahu, saat ia membuka mata ia sudah berada di sebuah ruangan yang sepertinya ruang rawat inap Rumah Sakit.


Tangannya diinfus, tubuhnya sangat lemah sampai- sampai ia tidak bisa menggerakkan bagian apapun dari badannya termasuk ujung telunjuk sekalipun.


"Jangan bergerak dulu mas Abi." Pak Pram, penjaga resort, duduk di bangku samping bed nya.


Ia masih mengingat setiap detail peristiwa yang terjadi di dalam resort. Tiba-tiba ia teringat Rora, gadis itu. Rora pasti hancur, matanya kembali memanas, sungguh ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.


"Ro- Ra... Roo...ra." Ia mengerang pelan. Namun ucapannya nampaknya tidak dimengerti oleh pak Pram, membuatnya semakin frustasi.


Ya Tuhan, ia kembali mencoba bersuara. Tapi tulang rusuknya sangat sakit ketika mulai ingin berbicara, nafasnya satu- satu, sebab setiap ingin menarik nafas, otot diafragma nya ikut bergerak dan itu membuatnya kesakitan.


Ia memejamkan mata membayangkan reaksi Rora ketika tahu mereka telah menghabiskan malam bersama secara tidak pantas. Ia mengutuk dirinya sendiri, Abi kau memang pantas mati. Seharusnya Fatih benar-benar membunuhnya tadi.


To be Continue


Happy reading


Gak papa si tokoh utama kita bikin kayak pergedel dulu ya sebelum bahagia 🀭🀭, sama kayak Audrey dulu yang jungkir balik, mesti nanggung hutang, mau jadi pelacur, eh masuk sel ujung-ujungnya, diputusin pacar lagi.

__ADS_1


Rora yang sabar ya, perjalanan mu masih panjang 😘😘😘,,,maafin othor ya Ra, pleaseπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜”


__ADS_2