
Aurora
Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis lagi, sebab akan terlihat sangat jelek jika riasan sederhana mama Sonia pada wajahnya berantakan karena air mata.
Tidak ada EO, WO dan sejenisnya. Tidak ada party ala negeri dongeng yang selalu ia impikan dalam pernikahannya kali ini, tidak ada kebaya mewah yang melapisi tubuhnya. Kebaya yang ia pakai saat ini adalah kebaya mama saat beliau menikah dulu. Yah she has to pay for what she's done.
Tidak ada yang perlu ia sesali lagi, satu-satunya penyesalan terbesarnya kali ini adalah membawa Fatih ikut terjun ke jurang yang sama bersamanya, We don't have that kind of relationship, like what they thinks about us.
Namun nasi sudah menjadi bubur, Fatih bersikeras akan menikahinya. Pria itu terlalu baik, bahkan sejak dulu. Hingga tak jarang banyak teman perempuannya yang salah paham menanggapi perhatian Fatih.
"Fatih itu gimana sih Ra orangnya?"
Ia hampir keselek dimsum yang ia makan saat Resa, anak baru di sekolahnya dulu pas SMA datang dan menanyakan hal itu. Ia mendelik menatap Resa, dan si anak baru itu malah memasang tampang penasaran.
Resa baru dua bulan sekolah ditempat mereka. Satu English club sama Fatih. Sejak awal, ia sudah sering melihat Resa bersikap berlebihan terhadap Fatih.
Resa bukan yang pertama. Tidak ada yang bisa menyalahkan Fatih jika cowok itu seperti memiliki magnet untuk menarik perhatian semua cewek. Disamping wajah Fatih yang tampan dengan tubuh tinggi sempurna, sikapnya yang super baik itulah yang seringkali membuat cewek-cewek blingsatan hingga lupa diri dan menaruh harapan tinggi pada sosok Fatih.
Ia sudah cukup menjadi saksi cewek-cewek yang merasa dikecewakan oleh Fatih, sementara Fatih bersikap biasa.
"Aku cuma bersikap baik." Itu selalu yang menjadi alasan Fatih, tapi wanita berbeda, wanita mudah baper. Itu juga yang ia rasakan bertahun silam pada sosok Fatih, hingga dengan tak tahu malunya mengungkapkan cinta pada pria itu. Dan tentu saja berakhir dengan sebuah penolakan.
Tapi kali ini tidak lagi. Ia tak kan terbawa perasaan. Fatih berbuat baik padanya dengan bertanggungjawab pada bayi yang bahkan bukan punya pria itu. Fatih melakukan ini semua murni karena kasihan padanya, dan semua pun akan kasihan padanya jika tahu cerita yang sebenarnya.
"Sudah siap Ra?" Mbak Ara muncul dari daun pintu, tersenyum lembut padanya.
"You're beautiful." Bisik mbak Ara. "Deg-degan pastinya ya, yuk semua udah nungguin di depan." Mbak Ara menuntunnya menuju ruang tamu, tempat akad akan berlangsung.
Sangat sederhana, hanya ada keluarganya dan keluarga Fatih. Bahkan Mbah kung di Sidoarjo tidak dikabari. Lagi-lagi ia ingin menangis. Pupus sudah impian sebuah pernikahan yang meneriakkan kemewahan dan kebahagiaan yang selama ini menduduki list teratas dari daftar mimpinya.
__ADS_1
Pernikahan berlangsung khidmat, Fatih dengan suara bergetar mengucapkan ijab Kabul tanpa kendala berarti, pria itu selalu tampak tampan walau dengan wajah yang menggenaskan.
"Sah sah, udah boleh cium tangan suaminya." Suara pak penghulu, yang anehnya malah membuatnya ingin tertawa. Hidupnya benar-benar lucu. Menikah dengan sahabat dan saudara sendiri, rasanya seperti ini.
.
.
.
Sorenya mereka langsung bertolak ke rumah Fatih. Dengan tangis dan pelukan mama mengiringi kepergian mereka. Sementara papa, ia masih takut bersitatap dengan papa, hanya menyalami tangan papa singkat, sambil terus meminta maaf dalam hati. Yah, papa jelas masih kecewa padanya.
"Kamar kamu gak berubah ya." Ia menelusuri setiap sudut kamar Fatih saat mereka telah sampai, sementara pria itu susah payah mendorong dua kopernya ke dalam, ditambah tambahan tas diatasnya.
"Barang kamu banyak banget sih Ra!" Protes Fatih yang langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur saat semua koper telah berhasil masuk.
"Isi koper satunya itu boneka."
"Mau ngapain buka-buka baju, mau show off ke aku, mentang-mentang punya badan bagus."
"Hahaaaaa gerah tau..." Gelak Fatih melempar kemeja tepat ke wajahnya dengan jahil.
Ia berjalan membuka lemari pakaian setelah meletakkan kemeja Fatih ke keranjang cucian. Menelisik isi lemari, bertingkah seolah-olah kamar ini miliknya," Baju aku mau ditaruh dimana, udah penuh gini." Decaknya.
"Itu lemari aku, lemari yang disebelahnya punya kamu, udah disiapin mama."
Ia beralih ke lemari yang berada tepat disebelah lemari yang ia buka tadi, meraih kopernya dan mulai menyusun pakaiannya satu-persatu disana.
"Ra, I'm talking to you."
__ADS_1
Ia melirik Fatih yang tidur terlentang diatas tempat tidur. Pria itu melipat lengannya dibelakang kepala.
"Aku gak dapat cuti, gak bisa ngajuin cuti dadakan, jadi besok ada flight ke Penang. Kamu gak apa kan ditinggal?"
"Dengan wajah seperti itu?"
Fatih bangkit duduk dan menoleh padanya,"Yang penting masih tetap ganteng juga." Gelak Fatih yang baginya sangat menjengkelkan.
"Terus kamu gak apa kan disini? satu minggu lagi baru bisa dapat izin cuti, aku akan cuti."
"Gak apa kok, gak usah repot-repot cuti, acara kita kan dah kelar."
Ia berdiri dan mencoba memasukkan beberapa pernak-pernik nya kedalam laci, hingga sebuah foto sukses menyita perhatiannya.
"Eh, masih nyimpan foto ini." Diraihnya selembar foto saat Fatih menciumnya tepat sebelum pria itu mendorongnya ke kolam.
"Ini waktu aku sweet seventen kan ya?"
Fatih mengangguk sambil berjalan mendekatinya, ikut melihat foto yang ia pegang.
"Aku baru sadar kalau kamu cantik juga. Aku kemana aja, ya?"
Setelah hampir puluhan tahun berteman, baru pertama kalinya Fatih membuatnya mati kutu.
"Ngegemesin juga." Fatih menatap foto itu.
Detik itu, ia mengutuk dirinya yang salah tingkah hanya karena ucapan tidak mutu seperti itu. No baper Rora... Fatih cuma asal sebut.
To be Continue
__ADS_1
happy reading yaa