The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Rora Hilang....


__ADS_3

Sonia


Entah untuk keberapa kali ia melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan ia masih mengenakan mukena menunggu waktu sholat isya sambil murojoah Qur'an, namun belum juga ada kabar dari Rora. Apa mungkin anak itu menginap di rumah Audrey.


Diraihnya ponsel di atas meja, berusaha menghubungi Rora,


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...Tut Tut Tut...


Dihelanya nafas pelan keluar lewat hidung, nomor Rora tidak aktif dari sore tadi, tidak biasanya anak itu seperti ini. Rora selalu izin jika ingin menginap dirumah Audrey. Tadi Rora pamit mau bertemu kak Galih di tempat praktek, tidak bicara apa-apa lagi.


Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Audrey.


"Hallo Assalamualaikum..."


"Waalikumsalam..Drey, Rora ada disana?"


"Rora? gak ada, emang Rora kemana?" Suara Audrey terdengar panik diujung telpon.


"Tadi izinnya ke uni mau ketemu kak Galih di tempat praktek, tapi jam segini belum pulang, uni pikir dia nginap disana."


"Gak ada, Rora terakhir kesini dua hari lalu. Belum ada kesini lagi."


"Nomornya gak aktif Drey, uni telpon dari tadi."


"Ya Tuhan, bentar, aku coba tanya ke kak Galih."


"Iya, nanti hubungi uni ya Drey."


Sambungan telepon terputus. Dan ia mencoba menelpon nomor Rora sekali lagi, tapi jawaban tetap sama, hanya terdengar suara operator yang menyahut.


.


.


.


Audrey


Ia berjalan cepat masuk ke dalam kamar, dilihatnya kak Galih sedang bersandar di headboard tempat tidur sambil membaca buku.


"Tadi Rora ke klinik ?"


"Hmmm..." Kak Galih masih membaca tanpa menoleh.

__ADS_1


"Dia belum pulang ke rumah uni, ini sudah jam berapa."


"Dia sudah besar, tidak ada yang perlu dicemaskan."


Dadanya seketika menggelegak melihat respon sang suami seperti itu, " Rora lagi hamil, kalau terjadi apa-apa gimana? nomornya tidak aktif. Kata uni, tadi Rora ke praktek kakak mau ngapain?"


Kak Galih menutup buku dan menatapnya tajam hingga ia seolah ditelanjangi oleh tatapan itu. "Rora tidak hamil anak Fatih, tapi anak orang lain."


Dan kali ini ia yang syok sampai menutup mulutnya kencang dengan kedua telapak tangan.


"Entah itu kekasihnya, teman atau apa kakak tidak tahu, tapi pria itu sudah meninggal. Kecelakaan pesawat di Tokyo empat bulan lalu."


Dan ia tak kuat lagi, terduduk lemas dengan tubuh bergetar. "Bagaimana bisa... Rora...Roraku..."


"Kakak rasa, Fatih sudah tahu semuanya. Mereka bersekongkol menutupi ini dari kita."


"Biarkan dulu, biar dia berfikir tentang kesalahannya."


"Tidak bisa, dia hamil...Rora sedang hamil, kalau terjadi apa-apa.... Kita harus cari dia."


Tepat saat ia baru berdiri, ponselnya berdering lagi, uni Sonia...


"Sini biar kakak yang bicara sama Sonia." Kak Galih mengulurkan tangan meminta ponsel yang ia pegang.


"Kalian kesini bisa?"


"Ya... Ditunggu."


Entah apa jawaban uni, tapi ia bisa menangkap suasana tegang yang terpancar di wajah sang suami.


Sebesar apa kesalahan Rora, gadis itu tetap anak nya, anak tersayangnya. Ia pun dulu hampir melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya jika tidak berubah pikiran di detik-detik terakhir. Semua pasti pernah melakukan kesalahan bukan.


Tak sampai setengah jam, kak Dimas dan uni Sonia sudah tiba dirumah. Mereka duduk berempat di ruang tamu.


"Jadi dimana Rora?" Uni Sonia yang sejak tadi tak bisa menyembunyikan kecemasannya langsung menatap kak Galih.


Tanpa menjawab pertanyaan uni, kak Galih meletakkan selembar foto USG keatas meja yang langsung diambil oleh kak Dimas.


"Apa ini?"


"Ternyata Rora tidak hamil anaknya Fatih, Rora hamil anak dari seorang pria bernama Abi. Masih rekan kerja Fatih di penerbangan."


Dapat ia lihat wajah uni Sonia dan kak Dimas menegang seketika.

__ADS_1


"Pria bernama Abi itu telah meninggal empat bulan yang lalu, kecelakaan pesawat di Tokyo. Keluarga Abi datang menemui ku, berniat bertanggungjawab pada kehamilan Rora. Jadi Fatih tidak ada hubungannya sama sekali dengan ini."


"Dimana Rora nya sekarang?" Suara uni Sonia terdengar seperti lolongan menahan tangis.


"Sudah aku usir tadi dari klinik."


"Gila...Kenapa kamu usir?!" Kali ini kak Dimas yang bersuara, sementara ia entah sejak kapan tangisnya pecah.


"Rora sudah jadi istri Fatih, tidak perlu ada pertanggungjawaban dari pihak lain. Sudah jadi tanggung jawab Fatih sepenuhnya. Apa kata Fatih nanti ketika ia pulang, istrinya tidak ada?" Suara kak Dimas meninggi.


"Fatih cuma jadi tumbalnya Rora Dim, mereka tidak menikah sungguh-sungguh. Keduanya hanya saling melindungi. Sejak kecil mereka sering seperti itu, berbohong untuk saling menutupi satu sama lain. Biarkan Rora tahu kesalahannya."


"Ayolah Galih, mereka anak kita bersama. Terlepas dari Rora hamil anak siapa, aku dan Sonia tidak peduli, dan kurasa Fatih juga jauh lebih dulu bisa menerima itu, aku bisa melihat kesungguhan cinta mereka." Kak Dimas menatap tajam ke arah kak Galih tanpa berniat menggeser tatapan itu sedikit pun.


"Nomornya belum bisa dihubungi..." Uni Sonia sesegukan.


"Tadi sebelum berangkat ke sini, Fatih menelpon, dia tanya dimana Rora, mau ngomong sama Rora, nomor Rora tidak aktif. Aku berbohong Rora lagi tidur, aku tidak ingin membuat Fatih terganggu dengan Flight nya."


"Kita cari Rora sekarang, temui siapa saja kenalannya di sekitaran Jakarta. Aku akan minta bantuan anak-anak Polresta buat ngecek setiap penginapan di Jakarta." Ucap kak Dimas sedikit berang, melayangkan tatapannya ke kak Galih. Dan untuk ini, ia berpihak pada kak Dimas, alih-alih ke suami.


"Dia tidak akan pergi jauh, dia hanya membawa dompet dan ponsel tadi." Ucap uni sengaja melihat sendu ke arahnya.


.


.


.


Fatih


Jadwal penerbangannya jadi kacau balau akibat typhoon di Seoul, sehingga jadwal kepulangannya pun jadi ditunda untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Sementara ponsel Rora, belum juga bisa dihubungi sampai kini. Ia jadi curiga pada mama yang selalu berkelit setiap ia meminta mama memberikan ponsel ke Rora.


Berada ribuan kilometer jauhnya, ia hanya bisa pasrah dengan perasaan khawatir memikirkan sang istri. Kini ia masih berada di hotel, berusaha menghubungi Rora, tetap saja tidak aktif seperti kemarin-kemarin. Semua keluarga tampaknya kompak memberi jawaban yang sama ketika ditanya.


Akhirnya ia menghubungi Tyra, tetangga mereka, empat blok dari rumah. Meminta Tyra pura-pura main kerumah untuk mengawasi apakah ada keberadaan Rora disana. Namun laporan Tyra benar-benar menyentaknya.


Mbak Rora udah hampir satu minggu ngilang bang, semua lagi pada nyariin...


Nyeess...


Seperti balon kempes, tubuhnya lemas sampai-sampai botol air mineral yang tengah dipegangnya terjatuh bercecer dilantai.


To be Continue

__ADS_1


Happy reading yaaaaaaa.....


__ADS_2