
Fatih
Ia menegang saat om Zai mengabari bahwa ada laporan transaksi penarikan uang tunai dari nomor rekening Rora. Titik terakhir di ATM cabang pasar Anyar, Bogor pukul 05.00 dini hari.
Tim sudah mendeteksi keberadaan Rora, namun kemudian mereka kehilangan jejak. Ia ditemani bang Dio dan bang Devan, asisten papa langsung bertolak ke Bogor pagi itu juga, ikut pencarian.
Mereka menemukan bukti baru bahwa Rora sempat menginap di hotel Efita, sekitar 500 an meter dari lokasi laporan transaksi ATM pagi itu dan check out pukul setengah enam pagi. Lepas tengah hari pencarian tidak menghasilkan apa-apa. Ia sempat menggerutu pada tim yang bisa-bisanya kehilangan jejak seorang wanita, lagi hamil pula.
Ia pulang lagi ke Jakarta malamnya, setelah seharian seperti orang gila berkeliling Bogor. Tubuhnya benar-benar lelah, terlebih hatinya. Alih-alih pulang ke rumah, ia lebih memilih istirahat ke apartemen.
Suasana sepi menyambutnya ketika membuka pintu apartemen. Lampu di foyer menyala otomatis ketika ia menginjakkan kaki disana, dan saat itulah ia melihat sepatu wanita tergeletak di rak sepatu. Jantungnya berdetak dengan kecepatan maksimal, keberadaan sepatu itu membuat harapannya akan kedatangan Rora ke apartemen semakin menjadi-jadi.
Lampu foyer pun padam ketika ia melangkah keluar, dan menuju kamar. Cahaya temaram mencuri keluar dari ruangan itu, dan semakin menyadarkan nya bahwa ia tidak sendirian.
Rora benar-benar ada disini. It's not illusion... Really?
Dari tempatnya, ia bisa melihat rambut sebahu yang dikuncir tinggi, menampakkan leher jenjang yang sexy tengah terbaring di sisi tempat tidur. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum dan berjalan mendekati tubuh indah yang baru ia sadari bahwa gadis ini memakai kemeja nya.
Tentu saja kemejanya tampak kebesaran ditubuh Rora, mampu menutup hingga separuh paha gadis itu, lagi, menampakkan tungkai kaki mulus yang damn, membuatnya jadi turn on. Ia penasaran apakah Rora memakai pakaian lain di balik kemeja itu?
The truth is, She looks sexy as hell. She always gorgeous, but she's fucking hot when she wears his shirt.
Ia menelan ludah, Rora terbaring ditempat tidur membelakanginya, perlahan ia ikut berbaring, memeluk gadis itu dari belakang. Membenamkan bibirnya ke seluruh permukaan leher milik Rora. Rindu itu menyeruak hingga ia tidak kuasa untuk tidak mengeluarkan air mata.
"Say to me, this is not my illusion. That's real, You're really..."
Ia memeluk Rora erat-erat, takut kalau ini hanya halusinasinya saja. Rora berbalik hingga mereka berhadapan, gadis itu tersenyum.
Tangannya ditarik Rora dan diletakkan oleh gadis itu dipipi. Rora merebahkan kepala ditangannya, mengecup telapak tangannya perlahan.
"I can't stop myself if you let me touch you." Ujarnya.
Rora tersenyum tipis. " Fu ck my mind, so I don't need to think about anything." Dengan masih menggenggam tangannya, Rora menurunkan tangan tersebut hingga menyentuh kearah kemeja yang ia pakai.
Perlahan , tangannya membuka kancing kemeja pertama, dan mendapati kulit gadis itu yang terasa sangat lembut saat ia sentuh.
__ADS_1
Sentuhan itu mampu menyalakan hasrat yang sejak tadi berusaha untuk ia tahan. Hasrat itulah yang mendorongnya untuk membuka kancing kedua dan ketiga, lalu menyibaknya, dan mendapati Rora tidak mengenakan apapun di balik kemeja itu. Hingga ia membuka semua kancing, membuat benda itu terlepas sempurna.
"It was driving me crazy knowing you were naked beneath my shirt." Ujarnya yang membuat Rora terkekeh.
Ia tidak berani memejamkan mata barang sedetikpun, takut jika semuanya hanya ilusi, tapi ia tidak peduli sekalipun ini hanya ilusi, ia ingin menyentuh Roranya, setiap sentuhan dan ******* terasa nyata, amat sangat nyata.
.
.
.
Rora
"Aku harus pulang, mungkin suamiku sedang mencariku saat ini." Ia berdiri.
"Habiskan dulu makananmu." Byan mendongak menatapnya, hingga mau tak mau ia duduk kembali dan menghabiskan sisa spaghetti di piringnya. Ia beralih ke tempat cucian piring setelah membereskan sisa makanan di atas meja.
"Biarkan saja, ada yang akan mencucinya besok." Toleh Byan saat ia bermaksud mencuci piring.
Byan mengangguk.
Ia mendudukkan tubuh di sebelah Byan yang lebih dulu bersandar di sofa.
"Maafkan aku..." Byan menoleh padanya.
Ia menggeleng pelan, " Bukan salah siapa-siapa, sekuat apa aku menutupi ini, lama-lama pasti terbongkar juga, tidak hari ini, besok, atau bisa jadi besoknya lagi. Kamu tidak salah. Bangkai tetaplah bangkai, akan tetap mengeluarkan bau, serapat apa aku mencoba menyembunyikan nya."
"Aku dan Abi melakukan kesalahan besar hingga membuatku seperti ini. Abi orang baik, dia mau bertanggungjawab, dia menyayangi anaknya yang bahkan masih sebesar kacang dulu itu." Ia menatap lurus pada televisi yang menyala tanpa suara itu.
"Kami berencana menikah, ia berjanji akan menikahi ku setelah menyelesaikan flight nya di akhir bulan, tapi takdir berkata lain."
Ia terdiam sejenak, sampai Byan menoleh padanya, menunggu...
"Awalnya aku berencana membesarkan bayi ini sendiri, tapi ternyata rencana ku gagal. Orangtuaku tahu tentang kehamilan ini."
__ADS_1
"Suamimu yang sekarang? bagaimana kalian bisa menikah?"
"Dia pria baik, teramat sangat baik. Dia temanku sejak kecil, bisa dibilang saudara lah. Dulu aku sempat naksir- naksir lucu ke dia, sampai berani nembak gitu."
"Hahaha..terus kalian pacaran?"
"Nggak...dia nolak aku." Ia terkekeh.
"Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba mau menikahiku, dan bilang ke orang tua kami kalau itu bayinya dia, walau dia bilang dia mencintaiku, aku pikir dia hanya ingin melindungi ku, itu saja."
"Sampai Kikan datang terus ngomong seperti itu, ngomong banyak tentang kehamilan ku, tentang dia dan Fatih, tentang hubungan mereka. Semuanya membuatku sakit hati ditambah lagi papa yang udah tahu kebenarannya sampe ngusir aku."
Hening... Byan hanya diam tidak ada tanggapan, dan ia pun memilih diam.
"Pulanglah..."
"Dia pasti mengkhawatirkan mu, suamimu pasti sedang menunggumu. Aku pernah bertemu Fatih dua kali, terakhir saat penyerahan jenazah Abi di bandara Tokyo. Aku bisa melihat Fatih orang yang baik."
"Dia mencintaimu, jangan pernah ragukan dia. Perlu hati seluas langit dan bumi untuk menerima wanita yang hamil anak orang lain dan Fatih bisa membuktikan itu. Kikan sudah mengerjai kita semua, biar aku nanti yang akan membuat perhitungan pada gadis itu."
"Ayo, aku antar..."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."
"Aku antar... Aku perlu memastikan kalau kamu benar-benar pulang, sudah cukup kamu membuat keponakanku menderita."
"What do you talking about... menderita? yang benar saja." Ia mendengus.
"Aku tidak mau benar-benar didatangi Abi karena kamu membawa anaknya ikut drama kabur- kaburan dari rumah." Byan tertawa membuatnya harus memukul lengan pria itu.
"Oke, baiklah. Antar aku ke apartemen Fatih saja."
To be Continue
Happy reading....
__ADS_1