
Jakarta
Audrey
Tepat empat hari sudah kak Galih pergi tanpa kabar dan tak berjejak sama sekali, membuatnya hampir frustasi, apa kesalahannya hingga kak Galih tega seperti ini, ia sudah jujur sejujur-jujurnya pada pria itu. Tak seharusnya kak Galih menyiksa perasaannya selama ini.
Kak Dimas pun tak bisa diandalkan dalam mencari informasi, membuatnya mengomeli laki-laki itu. "Katanya Intel profesional, udah dapat penghargaan dari pak KAPOLRI, Kanit Reskrim paling jitu, mana buktinya, cari kak Galih aja gak beres!"
Dan omelannya hanya ditanggapi kekehan dari kak Dimas, "Apa jangan-jangan Galih udah dapat yang baru Drey, segala kemungkinan bisa terjadi kan, udah empat hari loh, dia bahkan gak pernah hubungin kamu, dia sudah lupa sama kamu Drey hahaha." Dan tawa kak Dimas berakhir saat bantal sofa mendarat ke wajahnya.
"Ajak Sonia nemenin kamu disini, biar gak terlalu sedih, biasanya kan sesama cewek sering curhat-curhatan." Dan ia hanya mendengus mendengar ucapan kak Dimas yang sarat akan makna itu, apalagi kalau ada udang dibalik bakwan, akal-akalannya pria itu biar ketemu sama uni.
"Uni lagi sibuk, lagian nanti aku kena ceramah empat SKS sama dia kalau ketahuan nangisin pacar."
"Oh ya,,Sonia, maksud kakak, gadis itu pernah cerita gak ke kamu?"
"Cerita apa? gak pernah."
"Yah cerita, kali aja lagi ada laki-laki yang ditaksirnya kan."
"Gak ada, uni gak lagi naksir siapa-siapa." Jawabnya ketus.
"Kalau pria idaman Sonia, kriteria yang dia suka, seperti apa misalnya?"
Ia sedikit berfikir, lalu menatap jahil pada kak Dimas yang serius menanti jawaban.
"Yang jelas bukan seperti kakak deh kayaknya, soalnya uni pernah cerita, tampan nomor sekian, yang penting agamanya bagus, jadi jelas uni sukanya cowok alim, selevel ustadz lah kira-kira."
Dan dapat ia lihat wajah kak Dimas langsung berubah menyendu, menyesal juga ia berucap demikian tadi.
"Tidak apa-apa, jodoh siapa yang tau bukan? barangkali nanti kriteria uni Sonia berubah setelah melihat kakak?"
"SEMANGAT!!!" Ia meninju udara tinggi- tinggi.
Jadilah akhirnya ia yang menghibur kak Dimas sore itu, bukan ia yang dihibur, ckkk.
.
.
.
Dimas
__ADS_1
Ia kembali ke apartemen menjelang magrib, melihat meja makan yang kosong melompong membuatnya beralih ke kulkas, ada kiriman ayam ungkep dari Bandung. Selagi menunggu panas dari microwave, ia meraih remote televisi.
"Yang jelas bukan seperti kakak deh kayaknya, soalnya uni pernah cerita, tampan nomor sekian, yang penting agamanya bagus, jadi jelas uni sukanya cowok alim, selevel ustadz lah kira-kira."
Ucapan Audrey kembali terputar otomatis dalam program otaknya, membuatnya meradang sebab sama sekali tak masuk dalam kriteria pria idaman Sonia.
Ia kembali ke dapur untuk mematikan microwave, menyiapkan sendiri makanan diatas meja makan dan mulai menyantap, baru saja suapan kelima, ponsel berdering.
"Hallo Assalamualaikum." Ia tersenyum sendiri kala mengucapkan itu sembari mengingat wajah Sonia yang mengubah kebiasaannya untuk mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Suara Galih terdengar diujung telpon.
"Ya, kenapa Lih?"
"Besok aku pulang Dim, bareng sama calon mertua, besok sibuk gak? tolong jemput di bandara ya."
"Jam berapa?"
"Sore lah kitaran jam empat, dari sini ke Surabaya dulu, siang jadwal penerbangan nya."
"Oke siap."
"Audrey gimana? udah bisa dikasih tau belum?" Lanjutnya.
.
.
.
Audrey
"Whoaaaaaaa ibuuuuuk!" Jeritnya histeris kala pulang kuliah sore itu, mendapati sang ibu yang sudah lama tak dijumpainya berada di Rooftop bersama suami.
"Kok bisa?" ini mimpi, tidak, ini tidak mimpi." Tepuk-tepuk ia wajahnya yang memerah.
"Ibu, kok tiba-tiba, ada apa?"
"Besok anak ibu mau nikah, moso ibu ndak hadir."
Ia magut-magut bersemangat, "Anak yang mana nih, anak ibu cuma satu, berarti anak sambung dari bapak yang mau nikah, Oalah bapak punya anak di Jakarta juga?"
Keduanya tersenyum lucu, "Yang mau nikah itu kamu Drey."
__ADS_1
"Oohh aku."Masih mode belum sadarkan diri.
Kemudian...
"HAHHH...? Aku? apa... aku?"
"What?"
"Apa-apaan!!"
"Nak Galih ke Sidoarjo sengaja menjemput kami, besok akad nikahnya aja dulu, resepsi nya abis kamu wisuda."
Whoaaaaaaa, anyone help me, oh my...
"Kak Galihnya mana buk?"
"Udah pulang tadi ke apartemen, kesini cuma sebentar ngantar ibu sama bapak aja."
"Ibu sama bapak istirahat dulu ya, aku keluar sebentar ada urusan."
Namun belum saja ia sempat turun, beberapa orang yang mengaku dari sebuah WO (Wedding Organizer) datang ke Rooftop, tanpa tedeng aling-aling menata Rooftop, memperkirakan dan sibuk sendiri dengan mengatur posisi untuk akad dengan pernak-pernik nya.
Dan kepalanya bertambah pening, disaat yang sama, datang pula orang yang mengaku dari sebuah salon kecantikan.
"Ini calon pengantinnya?" Tanya wanita usia tiga puluhan itu sopan pada ibu, tentu saja sambil menunjuk dirinya.
Ibu mengangguk antusias, "iya mbak, ayo kedalam saja." Ibu pula yang menawarkan masuk, seolah telah lama disini.
Ia pasrah ketika tubuhnya di rehab habis, mulai dari rambut di creambath, wajah di facial, ditotok, kuku di manipadi cure, tubuh di spa, di lulur madu campur susu, amboiii serasa jadi ratu sejagad semalam. Ditambah pula malamnya ibu sibuk menyuruhnya mandi uap.
"Tadi kan sudah di spa bu, gak usah mandi rempah lagi, sama aja."
"Nggak, ayo itu airnya dah mendidih, ini ibu bawa sereh wanginya dari jauh loh, dari Sidoarjo." Dorong ibu pada tubuhnya ke kamar mandi.
"Manten itu harus segar, harus wangi biar pas disentuh sama suami, suami jadi seneng."
Ia memberengut tak percaya, semua seperti mimpi yang datang tiba-tiba. Dan helooo, calon pengantin pria apa kabarnya??? nomor kak Galih tetap tidak aktif dan tidak bisa dihubungi, dan ia pun dilarang ibu untuk pergi keluar. Damned!! lengkap sudah.
Hanya uni Sonia tempat berkeluh kesah malamnya setelah tentu saja menghubungi kak Dimas yang kompak mematikan ponsel, mereka berdua bersekongkol, siapa lagi kalau bukan kak Galih dan kak Dimas.
Pantas kak Dimas santai, terlalu santai malah untuk ukuran polisi yang kehilangan jejak sahabat, awas saja kalian berdua.
To be Continue...
__ADS_1
Happy reading yaaaaa