
The Last Bullet (Peluru Terakhir)
Sonia
Setelah berpisah dengan Audrey di gerbang kampus siang itu, ia memutuskan untuk langsung pulang. Namun baru saja ingin membuka pintu depan, seorang kurir depot bunga menghampiri rumahnya.
"Permisi mbak, benar ini rumah Sonia?"
"Iya." Ia jelas heran sebab tidak pernah merasa memesan bunga.
"Ada paket bunga dari pak Dimas." Sang kurir membaca nama yang tertera pada secarik kertas yang dipegang.
Sebuah tanaman mawar hidup yang tengah berkembang, dengan kelopak bunga berwarna gradasi antara putih dan merah muda, cantik sekali.
"Tolong tanda tangan disini." Ucap kurir sambil menyerahkan nota tanda terima untuk dibubuhi tanda tangan.
"Terimakasih." Ia mengangguk hormat saat pria paruh baya itu pergi.
Ditatapnya sang mawar sambil geleng-geleng kepala, pria itu benar-benar berusaha keras.
Dan benar saja, tak lama ponselnya berdering, diliriknya nomor kak Dimas memanggil. Dengan menggeser icon hijau, sambungan terhubung.
"Sudah diterima bunganya?" Suara kak Dimas terdengar diujung telpon.
"Lain kali aku akan menutupnya kalau tidak mengucapkan salam lebih dulu. " Jelas ia dongkol, laki-laki itu kebiasaan tak pernah mengucapkan salam.
"Oh iya sorry, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawabnya cepat.
"Bunganya? sudah sampai?"
"Iya, terimakasih, besok-besok jangan repot seperti ini."
"Sama sekali tidak repot, cantik gak?"
"Cantik."
"Kamu suka?"
"Iya."
"Tadi kakak sudah membisikkan sesuatu padanya, maksudnya ke bunga itu, apa dia sudah menyampaikannya padamu?"
"Belum, dia tidak bilang apa-apa."
__ADS_1
"Tanya saja nanti, mungkin dia lelah, perjalanan dari depot kesana lumayan jauh."
"Oh ya, nanti aku tanya." Ia menggeleng tak percaya, seorang perwira polisi berwajah tegas seperti kak Dimas bisa bersikap manis dengan bicara seolah tanaman adalah orang yang bisa menyampaikan sesuatu, menggelikan sekali.
Hening, tak ada suara lagi, ia hanya diam tak enak memutuskan sambungan lebih dulu, hanya mendengarkan kak Dimas yang tengah berbicara sesuatu kepada rekan kerjanya, tidak begitu jelas, mungkin ponselnya dijauhkan dari sumber suara.
"Ya udah, kakak tutup telponnya, tolong dirawat baik-baik Malika."
"Malika??"
"Dia Malika, yang saya rawat seperti anak sendiri." Jelas suara kak Dimas bergetar, mungkin menahan tawa.
Ya Tuhan, itu iklan salah satu merk produk kecap,, bisa-bisanya.
"Kita beri nama Malika, bagaimana?"
"Terserah." Ucapnya sambil mengulum senyum.
"Kok terserah? harus ada persetujuan dari kedua belah pihak, ayah dan ibunya."
"Maksudnya apa?"
"Iya, ayah dan ibu asuh Malika."
"Baiklah." Ucapnya kemudian.
"Good girl, kakak tutup ya lagi ada tugas. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ia mendesah pelan sembari meletakkan Malika, ups mawar itu maksudnya ke tempat tersudut dari teras, tersembunyi dari jangkauan amak dan juga Agil namun tetap mendapatkan asupan nutrisi dari sinar matahari.
Tersenyum sendiri ia memandang sang bunga, entahlah, sebab kecintaannya pada bunga atau perlakuan manis kak Dimas yang membuatnya tersenyum, masih ambigu. Mungkin kehadiran bunga mawar itu sedikit menggeser cara pandangnya terhadap polisi, bahwa polisi tidak seluruhnya semena-mena dan arogan.
.
.
.
Dimas
Ia memprediksi jika sang bunga pasti sudah sampai ke tangan Sonia saat ini, maka ia meraih ponsel dan menekan nama kontak 'Bidadari Surga', what?? Bidadari surga, ia terkekeh sendiri dengan kegilaannya menyimpan nomor ponsel Sonia dengan kata itu.
"Sudah diterima bunganya?" Ucapnya to the point saat panggilan telah terhubung, namun yang ia dapat bukan suara manis, namun suara tegas seorang wanita yang meyindirnya lantaran tak mengucapkan salam lebih dulu, membuatnya harus memijit pangkal hidung, malu.
__ADS_1
Panggilan sempat terjeda lantaran Alan mengajaknya bicara.
"Bang, laporan BHP kasus yang kemarin belum aku naikkan, tapi udah selesai."
"Kenapa?"
"Belum Abang tandatangani, tuh berkasnya diatas meja."
Ia meraih map yang bertumpuk di mejanya dengan tangan kanan, sedang tangan kiri masih memegang ponsel, membukanya sekilas.
"Segera titipkan tahanan di LAPAS, kalau kasusnya dah naik." Ucapnya pada Alan.
"Ehh, Acc pak Kapolsek dulu." Lanjutnya.
"Siap bang." Alan mengangguk.
Ia kembali beralih pada panggilan telpon.
"Ya udah, kakak tutup telponnya, tolong dirawat baik-baik Malika." Entahlah tiba-tiba saja ia teringat sepenggal kata dari iklan di televisi, membuatnya ingin tertawa sendiri. Bisa ia bayangkan wajah lugu Sonia seperti apa saat itu.
Tapi alih-alih menolak, gadis itu mengiyakan saja setiap usul dan perkataannya, ah Sonia bagaimana tidak aku mencintaimu kalau seperti ini, anyone help me, I'm fall in love, deep...
Ia jatuh cinta pada gadis spesial, yang menganggap hubungan cinta diluar pernikahan adalah sesuatu hal yang tabu dan terlarang. Benar-benar spesies langka yang teguh memegang prinsip di era penuh godaan seperti sekarang ini.
Sedang ia sendiri entah sudah berapa kali pacaran sejak mendeklarasikan diri menjadi duda, walau tentu saja selalu gagal naik ke pelaminan. Kalau sudah begini, ingin rasanya cepat-cepat ia menyeret Sonia ke depan pak penghulu, hahaaaa.
Peluru sudah dua yang terpakai, jika gadis itu masih menggantungnya juga. Mau tidak mau, ia akan memakai senjata pamungkas kelak, peluru terakhir dan tembak ditempat.
The word full of stars
Glittering the sky
Where I hang up my sweet dreams
And swim the ocean of stars
And shining silvery moon
To find to where you are...
Jika bicara tentang dream, wish, if I were... memang tak kan pernah habisnya, tapi bila mimpi itu tentang kamu, maka patut diperjuangkan untuk menjadi nyata.
To be continue...
Happy reading yaaa
__ADS_1