
Audrey
Perlahan ia menggeleng dan mengembalikan kunci motor pada sang pemberi.
"Aku tidak bisa, ini terlalu banyak." Ucapnya pelan.
"Kakak sudah amat baik, sudah banyak membantuku, aku tidak bisa menerima lebih banyak lagi."
"Hei, ini hanya motor, you know."
"Hahh, hanya kakak bilang, berapa duit untuk membeli motor ini, untuk apa? aku bahkan bukan siapa-siapa kakak. Aku hanya orang asing yang terdampar kemudian mendapatkan pertolongan dari orang baik seperti kakak."
"Jangan melebihi ini, aku tidak bisa, nanti aku akan berpikiran lain."
"Come on Drey, biar kamu gak repot bolak balik naik ojol, penghematan juga kalau bawa motor sendiri ke kampus kan."
Ia tetap kekeuh menggeleng, ini sudah terlalu banyak ia berhutang budi pada laki-laki yang sekarang berdiri dihadapannya itu.
"Oke, kakak hanya meminjamkan saja, motor tetap punya kakak, mulai malam besok kita belajar, sesudah praktek tutup, tidak ada penolakan, titik."
"Kakak!"
"Agar kamu bisa mandiri Drey."
Ia menghela nafas kasar demi menyikapi tabiat kak Galih yang baru diketahuinya suka memaksa itu.
.
.
.
Esok malamnya, benar-benar pria itu sudah berdiri di halaman bawah dengan motor maticnya yang semalam. Audrey mendesah pelan sembari menyampirkan jaket ke tubuh mungilnya, lalu menuruni anak tangga.
"Sudah siap?" Senyum kak Galih kala melihatnya muncul dari undakan tangga terakhir.
"Kakak tidak capek, seharian kerja terus langsung buka praktek di klinik dan Sekarang mau ngajarin aku motoran?"
"Tidak, ayo cepat, kita ke lapangan taman." Pria itu menghidupkan mesin motornya.
Audrey pasrah duduk boncengan dibelakang kak Galih. Suasana taman tidak begitu ramai, hanya ada beberapa muda-mudi nongkrong di pinggiran. Mereka langsung memasuki area lapangan yang cukup luas untuk sekedar belajar motor.
Ia sudah mengambil posisi duduk mengemudi, dengan tubuh menegang memegang stang motor.
__ADS_1
"Ini tombol starter, karena ini motor matic jadi tidak perlu masuk gigi untuk menjalankan nya, cukup tekan tombol starter, ia akan hidup." Kak Galih menjelaskan.
"Ini remnya, gas di bagian kanan. Tekan starternya lalu gas pelan-pelan."
"Ayo dicoba."
"Tidak bisa kak, kok gak hidup." Ia panik menekan berkali-kali tombol starter.
"Kuncinya belum kamu putar Drey." Tangan kak Galih memutar kunci motor ke kanan.
Ia hanya terkikik malu, shiit bodoh sekali.
Mesin sudah hidup, ia lalu memutar gas perlahan membuat motor bergerak maju, tubuhnya menegang dengan kaki menyeret tanah, kak Galih berlari kecil menyusul laju motornya.
"Sip, pelan-pelan, tambahin gasnya gak papa Drey."
Ia berusaha menyeimbangkan tubuh mungilnya diatas motor, sangat kaku dan tegang.
Tiga kali putaran, ia sudah bisa berbelok, mengerem dan menambah kecepatan walau kaki belum berani naik alias masih menyeret dibawah.
"Mau istirahat?" Tawar kak Galih yang diikuti anggukan kecil olehnya.
Mereka duduk selonjoran dirumput taman memegang botol air minum masing-masing.
"Ya, lihat disana, mereka saling bertautan membentuk sebuah formasi." kak Galih ikut menengadah.
"Itu namanya rasi bintang."
"Hmmm."
"Ada sepuluh rasi bintang yang kakak tau, namanya bermacam-macam, diambil dari mitologi Yunani kuno."
"Itu apa namanya?" ia menunjuk salah satu rasi bintang yang menonjol berkelap-kelip.
"Itu rasi bintang oreon, ada kisahnya itu."
"Apa?" Sengaja ia memiringkan tubuhnya menghadap kearah kak Galih.
"Ceritanya dahulu Scorpio mencoba membunuh Artemis dan Ibunya. Orion pada saat itu berusaha melindungi Artemis dan Ibunya seraya berkata bahwa tidak ada yang tidak bisa ia bunuh. Gaia, sang ratu bumi akhirnya memerintahlan Scorpio untuk membunuh Orion yang sombong."
"Zeus yang mengetahui semua itu malah merasa kagum akan keberanian Orion, akhirnya Zeus mengangkat Orion ke langit sebagai rasi bintang."
Ia magut-magut mendengar cerita kak Galih yang sudah seperti ahli astrologi itu.
__ADS_1
"Nah kalau yang itu, rasi Andromeda." Kak Galih menunjuk lagi.
"Biasanya rasi bintang banyak dimanfaatkan para petani dulu untuk menentukan kapan mulai masa tanam, nelayan juga menggunakan nya untuk menentukan arah angin."
Ia mengangguk menatap langit lalu beralih menoleh pada pria yang juga sedang menatap langit itu, hening sejenak.
"Terimakasih kak."Ucapnya pelan.
"Untuk?"
"Untuk segalanya, mungkin sampai kapanpun aku tidak bisa membalas kebaikan kakak, aku sangat bersyukur atas hidupku yang sekarang."
"Aku pikir, aku sudah berakhir saat aku mendekam di sel tahanan waktu itu, aku hampir berfikir untuk mati, tapi Tuhan menyelamatkan ku, entah untuk keberapa kali, sudah tidak terhitung."
Kak Galih tersenyum, tatapan mereka bertemu, agak lama, sebelum ia memutuskan kontak terlebih dulu dengan kembali menatap langit.
"Kau tau, ada yang bilang jika dua orang lemah bersama, maka mereka akan saling menguatkan."
"Kakak tidak lemah."
"Kau hanya melihat dari luar, aku sebenarnya rapuh, terluka." kak Galih menatap jauh kedepan.
"Bahagia bila melihatnya bahagia terkadang hanya wacana, praktek nya sangat sakit." Kekeh kak Galih.
"Yah, sakit,, melepas nya saat rasa masih membuncah juga terasa sakit." Ia membayangkan wajah Bayu di langit.
"Kakak tau? korban yang bersamaku di hotel waktu itu adalah papa dari pacarku."
"Oh ya?" Toleh kak Galih pada wajah Audrey yang hampir menangis.
"Aku tau dia sakit menerima kenyataan ini dan aku harus mengikhlaskan nya pergi tanpa bisa menahan bukan?."
Hening...
Entah untuk berapa lama, tak ada yang ingin bicara lagi..
"Mau kah kamu mencoba bersamaku agar kita bisa saling menguatkan?" kak Galih menatap nya dalam.
"Mencobanya bersamaku?"
To be Continue...
Selamat hari Senin....
__ADS_1
happy reading yaa